1.700 Dapur MBG Disetop! Bappissus Bongkar Akal-akalan Porsi, Gizi Anak Jadi Taruhan
RAJAMEDIA.CO - Jakarta – Alarm keras dibunyikan pemerintah. Sebanyak 1.700 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dihentikan sementara setelah ditemukan pelanggaran dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah tegas ini diumumkan oleh Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investasi Khusus (Bappissus), Aris Marsudiyanto, dalam pembukaan APPMBGI National Summit 2026 di Jakarta, Sabtu (25/4/2026).
Jangan Bisnisin Program Rakyat
Aris menegaskan, program MBG bukan ladang keuntungan semata. Ini adalah misi nasional untuk memperbaiki kualitas generasi bangsa.
“Saya minta jangan hanya berpikir soal untung. Ini tanggung jawab bersama membangun bangsa,” tegasnya.
Porsi Dipangkas, Tujuan Program Tercoreng
Dari hasil evaluasi, ditemukan praktik yang bikin geleng kepala: pengurangan porsi makanan oleh sejumlah penyedia.
Mulai dari lauk yang disunat hingga menu bergizi yang tidak sesuai standar.
“Pembagian lauk tidak sesuai ketentuan. Ini mencederai tujuan program,” kata Aris.
Padahal, pemerintah telah menghitung indeks biaya menu berdasarkan kondisi riil harga pangan di lapangan.
Standar Sudah Jelas, Kenapa Masih Dilanggar?
Forum Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap standar kualitas.
Aris mengingatkan, setiap pelaku usaha wajib mengikuti ketentuan agar manfaat gizi benar-benar sampai ke anak-anak penerima.
“Standar sudah ada. Tinggal dijalankan dengan disiplin,” ujarnya.
Air Kotor, Ancaman Diam-Diam
Tak hanya makanan, kualitas air juga jadi sorotan serius. Air yang tercemar bisa memicu keracunan meski makanan terlihat layak.
“Makanannya bagus, tapi kalau airnya buruk, tetap berbahaya. Ini harus diawasi ketat,” ucapnya.
Gizi Anak Dipertaruhkan
Program MBG dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak Indonesia. Namun pelanggaran di lapangan justru berpotensi merusak tujuan besar tersebut.
Dengan penghentian 1.700 SPPG, pemerintah mengirim pesan tegas: tidak ada kompromi untuk kualitas.
Langkah sudah diambil. Kini pertanyaannya: apakah pelaku usaha akan berbenah, atau terus bermain di wilayah abu-abu saat gizi anak bangsa jadi taruhan?![]()
Politik 3 hari yang lalu
Opini | 5 hari yang lalu
Hukum | 2 hari yang lalu
Opini | 4 hari yang lalu
Olahraga | 4 hari yang lalu
Nasional | 12 jam yang lalu
Hukum | 1 hari yang lalu
Ekbis | 3 hari yang lalu
Info Haji | 4 hari yang lalu
Pendidikan | 5 hari yang lalu