Kampus Diserbu Politik? FISIP UIN Jakarta Gelar Diskusi Panas Soal Kebebasan Akademik
RAJAMEDIA.CO - Jakarta, Polkam — Aroma politik kian terasa hingga ke ruang-ruang kuliah. Pertanyaannya kini tajam: apakah kampus masih berdiri sebagai benteng kebebasan berpikir, atau mulai terseret arus kekuasaan?
Menjawab kegelisahan itu, FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar forum terbuka bertajuk “Politik & Kebebasan Akademik”, Kamis (23/4/2026), di Auditorium Prof. Bahtiar Effendy.
Kampus di Persimpangan: Netral atau Terkooptasi?
Diskusi ini menjadi bagian dari Serial Diskusi FISIP UIN Jakarta yang mengangkat isu krusial relasi antara dunia akademik dan kekuasaan.

Di tengah meningkatnya intervensi politik di berbagai sektor, independensi kampus kembali dipertanyakan. Apakah kebebasan akademik masih utuh, atau mulai tergerus kepentingan?
Forum ini akan membedahnya secara terbuka—tanpa sekat.
Deretan Tokoh Nasional Turun Gunung
Sejumlah nama besar dipastikan hadir. Guru Besar Politik UIN Jakarta, Saiful Mujani, akan tampil sebagai pembicara utama, dengan Burhanuddin Muhtadi sebagai moderator.
Sementara sambutan akan disampaikan Dekan FISIP UIN Jakarta, Dzuriyatun Toyibah.
Tak hanya itu, forum ini juga menghadirkan tokoh lintas sektor, mulai dari pemerintah hingga aktivis:
1. Bima Arya Sugiarto
2. Ahmad Suaedy
3. Sulistyowati Irianto
4. Todung Mulya Lubis
5. Bivitri Susanti
6. Usman Hamid
7. Yuniyanti Chuzaifah
8. Rocky Gerung
9. Asfinawati
Serta sejumlah akademisi dan peneliti dari berbagai kampus ternama di Indonesia.
Ruang Debat Terbuka untuk Publik
Diskusi ini tidak sekadar forum akademik formal. Ini adalah ruang debat terbuka—tempat ide diuji, kritik dilontarkan, dan perspektif dipertemukan.
Isu kebebasan berekspresi, otonomi kampus, hingga tekanan politik terhadap institusi pendidikan tinggi akan dibedah dari berbagai sudut pandang.
Media Dipersilakan Meliput
Acara ini terbuka untuk peliputan media. Narasumber juga disiapkan untuk sesi wawancara usai diskusi.
Di tengah dinamika politik yang kian intens, kampus tidak boleh kehilangan rohnya sebagai ruang bebas berpikir. Jika tidak, yang hilang bukan hanya independensi—tetapi juga masa depan intelektual bangsa.![]()
Nasional | 4 hari yang lalu
Opini | 2 hari yang lalu
Peristiwa | 4 hari yang lalu
Keamanan | 6 hari yang lalu
Olahraga | 4 hari yang lalu
Dunia | 6 hari yang lalu
Opini | 23 jam yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu




