Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Plong! Harga Minyak Dunia Melonjak, BBM Subsidi di RI Dijamin Gak Naik

Laporan: Halim Dzul
Rabu, 11 Maret 2026 | 20:29 WIB
Wakil Ketua Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto - Humas DPR -
Wakil Ketua Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto - Humas DPR -

RAJAMEDIA.CO - Palembang, Legislator - Masyarakat bisa sedikit bernapas lega. Wakil Ketua Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tetap stabil meski harga minyak mentah dunia mengalami gejolak.
 

Kepastian itu disampaikan usai Komisi XII DPR mendapat penjelasan resmi dari pemerintah terkait dinamika energi global. Harga minyak mentah dunia saat ini berada di kisaran 87 dolar AS per barel untuk Brent dan 83 dolar AS untuk West Texas Intermediate (WTI).
 

"BBM subsidi dipastikan tidak naik. Pemerintah telah melakukan berbagai perhitungan dan anggaran yang ada masih mencukupi," ujar Sugeng saat memimpin agenda Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XII DPR ke Integrated Terminal Pertamina Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (11/3/2026).
 

Ini Daftar BBM yang Masuk Kategori Subsidi
 

Politisi Fraksi Nasdem ini merinci jenis BBM yang masuk kategori subsidi. Di antaranya solar subsidi, minyak tanah di wilayah tertentu, serta LPG tabung 3 kilogram.
 

Sementara untuk BBM dan LPG non-subsidi, kata Sugeng, tetap mengikuti mekanisme harga pasar yang dipengaruhi kondisi global.
 

Pemerintah Punya Jurus Jaga Daya Beli
 

Menurut Sugeng, stabilitas harga BBM subsidi sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat. Kenaikan harga BBM subsidi dinilai berpotensi memicu inflasi dan berdampak pada meningkatnya angka kemiskinan baru.
 

"Kami menilai stabilitas harga BBM subsidi sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat. Kenaikan harga BBM, terutama yang bersubsidi, dinilai berpotensi memicu inflasi," jelasnya.
 

Konflik Global Tak Ganggu Pasokan RI
 

Soal dinamika geopolitik global, Sugeng menyebut Indonesia punya posisi aman. Pasalnya, ketegangan di kawasan Timur Tengah yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia memang patut diwaspadai.
 

Sekitar 20 persen lalu lintas migas global melewati Selat Hormuz. Tapi untungnya, Indonesia tidak bergantung pada satu sumber impor minyak.
 

"Pasokan minyak mentah diperoleh dari berbagai negara seperti Aljazair, Angola, hingga Amerika Serikat, sehingga risiko gangguan pasokan dapat diminimalkan melalui diversifikasi sumber impor," terangnya.
 

Harga Komoditas Ekspor Ikut Menanjak
 

Di tengah tekanan harga energi global, ada kabar baik dari sisi komoditas ekspor. Sugeng mengungkapkan kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor Indonesia seperti batu bara, nikel, tembaga, CPO, hingga timah berkontribusi positif terhadap penerimaan negara.
 

Bahkan harga timah disebut mencapai sekitar 60 ribu dolar AS per ton, yang menjadi salah satu level tertinggi sepanjang sejarah.
 

"Ketika harga energi naik, di sisi lain harga komoditas ekspor kita juga meningkat. Jika semuanya dikonsolidasikan, mudah-mudahan dampaknya terhadap APBN masih bisa dikendalikan," tandas Sugeng.rajamedia

Komentar: