Pesan Haedar Buat Generasi Muda: Jangan Rebahan dan Instan!
RAJAMEDIA.CO — Yogyakarta — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengingatkan generasi milenial, generasi Z, hingga generasi Alfa agar menjadikan Iduladha 1447 Hijriah sebagai momentum membangun karakter unggul dan berkemajuan.
Haedar menegaskan Iduladha tidak boleh berhenti hanya sebagai ritual formal tahunan, tetapi harus melahirkan pribadi bertakwa yang kuat secara moral, spiritual, dan sosial.
“Generasi muda harus taat beragama, gemar membaca, mengasah kecerdasan, berbuat baik, mandiri, beretos kerja tinggi, serta hidup dengan akal budi luhur,” ujar Haedar dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).
Haedar Kritik Budaya Rebahan dan Instan
Dalam pesannya, Haedar secara tegas mengingatkan generasi muda agar tidak terjebak gaya hidup malas, instan, dan hedonis.
Ia menyebut budaya rebahan, sikap ingin serba cepat tanpa proses, hingga gaya hidup bermewah-mewahan menjadi ancaman serius bagi lahirnya generasi unggul.

“Sebaliknya hidup tidak malas-malasan atau rebahan, bersikap instan, bermewah-mewahan, sombong diri, serta melanggar etika dan moral,” tegasnya.
Menurut Haedar, generasi muda harus tumbuh menjadi insan yang produktif, jujur, sederhana, dan memiliki kepedulian sosial tinggi.
Iduladha Harus Melahirkan Ketakwaan Sosial
Haedar menjelaskan hakikat utama ibadah Iduladha, baik salat maupun kurban, adalah membentuk ketakwaan sejati kepada Allah SWT.
Ketakwaan itu, kata dia, bukan sekadar ritual pribadi, tetapi harus melahirkan kesalehan sosial yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Jika spiritualitas takwa hadir dalam diri seseorang, maka ia akan konsisten berbuat kebajikan dan menjauhi segala bentuk keburukan,” ujarnya.
Ia mencontohkan keteladanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail sebagai simbol pengorbanan dan ketakwaan total yang harus diwarisi umat Islam.
Singgung Ketamakan dan Korupsi Elite
Dalam refleksi Iduladha, Haedar juga menyinggung berbagai persoalan bangsa yang hingga kini masih diwarnai kesenjangan sosial, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga perilaku rakus elite.
Menurutnya, akar utama persoalan tersebut adalah ketamakan manusia yang tidak pernah puas terhadap kekuasaan dan kekayaan.
“Mereka hanya mengabdi pada libido ketamakan yang tak berkesudahan,” katanya.
Haedar menilai spiritualitas ketakwaan menjadi benteng utama agar seseorang tidak tergoda melakukan korupsi, manipulasi, merusak lingkungan, ataupun menyalahgunakan jabatan.
Media Sosial Harus Dipakai dengan Etika
Haedar juga mengingatkan pentingnya etika dalam menggunakan media publik dan media sosial.
Ia meminta generasi muda menjauhi ujaran kebencian, fitnah, hingga perilaku merendahkan orang lain di ruang digital.
Menurutnya, insan bertakwa akan selalu menjaga tutur kata, mampu menahan amarah, dan membedakan mana yang benar dan salah.
“Hidupnya senantiasa terjaga dan mampu membedakan mana yang baik dan buruk, serta yang pantas dan tidak pantas,” pungkasnya.![]()
Parlemen | 6 hari yang lalu
Parlemen | 6 hari yang lalu
Nasional | 5 hari yang lalu
Parlemen | 5 hari yang lalu
Daerah | 6 hari yang lalu
Ekbis | 5 hari yang lalu
Opini | 5 hari yang lalu
Keamanan | 3 hari yang lalu
Info Haji | 4 hari yang lalu