Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Ramadan Dimulai Kamis Besok, Komisi VIII: Perbedaan Jangan Jadi Api Perpecahan

Laporan: Firman
Rabu, 18 Februari 2026 | 08:33 WIB
Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang - Repro -
Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang - Repro -

RAJAMEDIA.CO - Jakarta, Legislator – Penantian umat Islam soal awal Ramadan akhirnya terjawab. Pemerintah resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan itu diambil setelah Sidang Isbat memastikan posisi hilal masih berada di bawah ufuk alias “minus” sehingga tidak memungkinkan untuk dirukyat.
 

Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, menegaskan penetapan awal Ramadan dilakukan dengan memadukan dua pendekatan: kaidah keagamaan dan kaidah ilmiah.
 

“Berdasarkan kaidah keagamaan dan kaidah ilmiah yang telah didiskusikan, hilal tidak memungkinkan terlihat karena posisinya masih minus,” ujar Marwan dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).
 

Hilal di Bawah Ufuk
 

Paparan Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama menunjukkan posisi bulan sabit awal Ramadan belum memenuhi kriteria visibilitas. Secara astronomis, hilal masih berada di bawah ufuk di sejumlah titik pemantauan di Indonesia.
 

Artinya, secara rukyat (pengamatan langsung) tidak mungkin terlihat. Secara hisab (perhitungan astronomi), data pun memperkuat kesimpulan yang sama.
 

Sidang Isbat pun sepakat: bulan Syaban digenapkan (istikmal) 30 hari, dan Ramadan dimulai Kamis.
 

Jangan Terpecah karena Metode
 

Marwan mengingatkan, perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah adalah realitas yang harus disikapi dengan kedewasaan.
 

“Perbedaan jangan membuat kita tercerai-berai. Mari saling menghargai dan memperbanyak amal ibadah,” tegasnya.
 

Ia menekankan bahwa substansi Ramadan bukan pada perdebatan teknis, melainkan pada peningkatan kualitas iman dan solidaritas umat.
 

Menuju Kalender Global?
 

Komisi VIII DPR RI, lanjut Marwan, mendukung langkah Menteri Agama untuk terus membuka ruang dialog berbagai pendekatan penentuan awal bulan Hijriah, termasuk wacana kalender global Islam.
 

Menurutnya, penyatuan kalender hijriah bukan sekadar isu teknis, tetapi bagian dari ikhtiar membangun kebersamaan umat dalam jangka panjang.
 

Dihadiri Ulama hingga Lembaga Sains
 

Sidang Isbat kali ini dihadiri berbagai unsur strategis. Hadir Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, Dirjen Bimas Islam, pimpinan ormas-ormas Islam, serta perwakilan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Badan Informasi Geospasial, dan Planetarium Jakarta.
 

Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama turut memaparkan hasil pengamatan dan perhitungan posisi hilal dari seluruh wilayah Indonesia.
 

Ramadan pun dipastikan dimulai serentak versi pemerintah pada Kamis. Kini, pertanyaannya bukan lagi kapan mulai puasa, tapi seberapa siap kita mengisinya dengan amal terbaik.rajamedia

Komentar: