Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Perbedaan Wajar, Ketua MUI: Jangan Sentuh Akidah, Jaga Persaudaraan!

Laporan: Firman
Rabu, 18 Februari 2026 | 11:08 WIB
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Anwar Iskandar - Foto: Dok Kemenag -
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, KH Anwar Iskandar - Foto: Dok Kemenag -

RAJAMEDIA.CO -  Jakarta – Perbedaan dalam menentukan awal maupun akhir Ramadan kembali terjadi. Namun bagi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Anwar Iskandar, hal itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.
 

Ia menegaskan, perbedaan tersebut berada dalam wilayah ijtihad yang bersifat teknis, bukan menyangkut prinsip akidah.
 

“Perbedaan itu adalah keniscayaan karena sifatnya ijtihadi dan teknis. Karena itu, kemungkinan memulai atau mengakhiri puasa berbeda bisa saja terjadi. Namun yang paling penting adalah menjaga keutuhan sebagai umat Islam dengan saling memahami dan saling menghormati,” ujarnya dalam Konferensi Pers Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadan 1447 H di Jakarta, Selasa (17/2/2026).
 

Ijtihad Bukan Perpecahan
 

Menurut KH Anwar, dalam khazanah keilmuan Islam, perbedaan pendapat adalah bagian dari dinamika intelektual. Ia menilai masyarakat perlu mematangkan kedewasaan dalam menyikapi ragam pandangan, apalagi dalam negara demokratis seperti Indonesia.
 

Selama perbedaan tidak menyentuh prinsip dasar keimanan, justru itu menjadi kekayaan tradisi keilmuan Islam.
 

“Perbedaan yang dikelola dengan baik bisa menjadi harmoni yang indah bagi persatuan Indonesia,” tegasnya.
 

Ia bahkan menilai, sikap saling menghormati dalam perbedaan dapat memperkuat stabilitas nasional dan mempererat sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun masa depan bangsa.
 

Ramadan Momentum Perbaikan Diri
 

Lebih jauh, KH Anwar mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum peningkatan kualitas ibadah dan ketakwaan.
 

“Mari kita berusaha sekuat tenaga menyempurnakan ibadah selama bulan Ramadan ini agar kualitas iman dan takwa kita semakin meningkat,” katanya.
 

Ia mengingatkan, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang menyakiti orang lain, menyebarkan fitnah, hingga membuat kegaduhan—termasuk melalui media sosial.
 

“Secara syariat, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari perbuatan yang tidak dibenarkan agama. Jangan sampai secara lahir puasa, tetapi secara hakikat ternodai oleh sikap yang merusak persaudaraan,” pesannya.
 

Hormati yang Berpuasa
 

Kepada masyarakat nonmuslim, ia juga mengimbau untuk bersama-sama menjaga suasana saling menghormati, khususnya terhadap umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa, agar Ramadan berlangsung khusyuk dan penuh kedamaian.
 

KH Anwar berharap, Ramadan melahirkan pribadi-pribadi yang penuh rahmah—penuh kasih sayang—sehingga semangat saling menghormati dan menyayangi terus terjaga dalam kehidupan bermasyarakat.rajamedia

Komentar: