Kemenhaj Dorong Produk Lokal Kuasai Dapur Haji di Arab Saudi
RAJAMEDIA.CO — Jakarta, Haji - Pemerintah mulai menggeser orientasi penyelenggaraan haji dan umrah dari sekadar layanan ibadah menjadi pengungkit ekonomi nasional. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mendorong pemanfaatan produk dalam negeri—mulai dari bumbu masak, makanan siap saji, hingga beras Indonesia—untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jutaan jemaah haji dan umrah di Arab Saudi.
Langkah ini bukan hanya soal logistik ibadah, tetapi juga strategi membuka pasar global bagi UMKM nasional di Tanah Suci.
Kebutuhan Jumbo: 400 Ton Bumbu, 3,9 Juta RTE
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj RI, Jaenal Effendi, mengungkapkan besarnya kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia pada 2026.
“Bumbu ini di tahun ini sekitar 400 ton lebih. Kemudian RTE-nya sekitar 3.900.000 paket untuk bisa dikonsumsi di sana. Ini harapannya bisa menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM di Indonesia,” kata Jaenal, Selasa (27/1/2026).
Volume tersebut menjadi ceruk pasar besar yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh produk lokal.
UMKM Masuk Rantai Pasok Global
Jaenal menegaskan, pemenuhan konsumsi jemaah haji dan umrah harus menjadi pintu masuk UMKM Indonesia ke rantai pasok global, khususnya di Arab Saudi yang setiap tahun menjadi titik temu jutaan umat Muslim dunia.
Menurutnya, ekosistem ekonomi haji tak boleh hanya dinikmati oleh pihak luar, tetapi harus memberi dampak nyata bagi pelaku usaha nasional.
Surplus Beras, Indonesia Siap Ekspor ke Tanah Suci
Tak berhenti pada produk olahan, Kemenhaj juga menyiapkan langkah strategis ekspor beras Indonesia ke Arab Saudi. Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden RI dan koordinasi lintas kementerian.
“Sudah saatnya Indonesia melakukan ekspor beras. Berdasarkan koordinasi dengan Bulog dan Kementerian Pertanian, saat ini pemerintah mengalami surplus panen raya sekitar 2 juta ton lebih,” ujar Jaenal.
Beras Indonesia direncanakan menjadi bagian dari konsumsi jemaah haji, sekaligus membuka peluang ekspor berkelanjutan.
‘Pecah Telur’ Beras Indonesia di Arab Saudi
Jaenal menyebut ekspor beras ini sebagai momentum awal atau ‘pecah telur’ bagi produk pangan Indonesia di Arab Saudi.
“Ini untuk pecah telur di Arab Saudi, terutama untuk keperluan ibadah haji. Syukur-syukur bisa sustain untuk umrah,” katanya.
Jika berhasil, kebutuhan konsumsi jemaah umrah sepanjang tahun dapat menjadi pasar permanen bagi beras nasional.
Soal Selera Jemaah: Beras Lokal Lebih Nyaman
Menurut Jaenal, penggunaan beras Indonesia bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek kenyamanan dan psikologis jemaah.
“Masyarakat kita rindu dan cinta bisa makan beras sendiri dari Indonesia. Banyak jemaah yang belum terbiasa dengan beras non-Indonesia,” ungkapnya.
Ia meyakini, konsumsi beras lokal dapat meningkatkan kepuasan dan kebahagiaan jemaah selama beribadah.
Haji Nyaman, Ekonomi Nasional Terdongkrak
“Ini poin penting agar jemaah kita merasa lebih nyaman dan bahagia, bisa merasakan beras Indonesia yang pulen dan enak,” tandas Jaenal.
Dengan strategi ini, penyelenggaraan haji dan umrah tak hanya menghadirkan layanan ibadah yang humanis, tetapi juga menjadi mesin baru penggerak ekonomi nasional.![]()
Peristiwa | 5 hari yang lalu
Hukum | 4 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu
Ekbis | 6 hari yang lalu
Politik | 6 hari yang lalu
Keamanan | 3 hari yang lalu
Nasional | 5 hari yang lalu
Daerah | 2 hari yang lalu
