Dipanggil Jadi Saksi, Ahok Buka Dapur Pertamina dan Singgung Jokowi di Ruang Sidang
RAJAMEDIA.CO - Jakarta - Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tampil blak-blakan saat menjadi saksi dalam persidangan kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina periode 2013–2024 di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).
Mantan Komisaris Utama Pertamina itu tak hanya membeberkan soal sistem internal BUMN migas pelat merah, tetapi juga menyeret konteks politik hingga hubungannya dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Di hadapan majelis hakim, Ahok secara terbuka mengungkap alasan pengunduran dirinya dari kursi Komut Pertamina pada awal 2024. Ia menyatakan mundur karena sudah tidak sejalan secara politik dengan Presiden Jokowi.
“Saya mundur karena sudah tidak sejalan. Ada perbedaan pandangan politik,” ungkap Ahok di ruang sidang.
Tak berhenti di situ, Ahok mempertanyakan praktik penunjukan dan pencopotan pejabat di Pertamina maupun BUMN lain yang dinilainya kerap tak berbasis meritokrasi. Bahkan, ia menyarankan agar soal itu ditanyakan langsung kepada Presiden atau Menteri BUMN.
Pernah Minta Jadi Dirut
Dalam keterangannya, Ahok juga mengungkap fakta lain yang cukup mengejutkan. Ia mengaku pernah meminta langsung kepada Presiden Jokowi agar ditunjuk sebagai Direktur Utama Pertamina.
Permintaan itu, menurut Ahok, didasari keinginannya melakukan pembenahan secara lebih eksekutif, bukan sekadar fungsi pengawasan sebagai komisaris. Namun, permintaan tersebut tidak pernah terwujud.
“Saya merasa sebagai komisaris tidak cukup kuat untuk eksekusi,” isyarat Ahok di hadapan hakim.
Bongkar Penyimpangan Impor Minyak
Dalam sidang tersebut, Ahok mengaku membawa data-data penting yang tersimpan di ponselnya. Data itu berkaitan dengan dugaan penyimpangan tata kelola impor minyak mentah dan produk kilang yang dinilai merugikan negara.
Ia juga menegaskan selama menjabat Komut Pertamina, dirinya berusaha keras menutup celah intervensi pihak luar, termasuk dari pengusaha besar.
“Saya pastikan tidak ada pihak luar yang bisa mengintervensi kebijakan Pertamina,” tegasnya, seraya menyinggung nama pengusaha Riza Chalid.
Ahok juga mengaku heran dengan pencopotan dua ahli terbaik Pertamina yang saat itu tengah fokus memperbaiki sistem kilang minyak. Menurutnya, keputusan tersebut justru kontraproduktif terhadap upaya pembenahan.
Singgung Kasus Korupsi LNG
Selain perkara tata kelola minyak, Ahok juga menyinggung pengalamannya dalam pengusutan kasus korupsi pengadaan Liquefied Natural Gas (LNG).
Ia menegaskan bahwa dirinya adalah pihak yang pertama kali mengendus dan melaporkan dugaan korupsi LNG tersebut ke KPK pada Januari 2025.
“Korupsinya terjadi sebelum saya menjabat. Saya hanya menemukan dan melaporkan,” ujarnya.
Ahok menegaskan kehadirannya sebagai saksi semata-mata untuk membuka fakta secara transparan. Ia bahkan berseloroh di ruang sidang sebagai penegasan sikapnya.
“Aku juga pernah dipenjara,” kata Ahok, yang disambut reaksi hadirin.
Pernyataan Ahok di persidangan ini menambah dimensi baru dalam perkara dugaan korupsi Pertamina, sekaligus membuka kembali perdebatan soal tata kelola BUMN, meritokrasi, dan relasi kuasa di lingkaran elite negara.![]()
Peristiwa | 5 hari yang lalu
Hukum | 4 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu
Ekbis | 6 hari yang lalu
Politik | 6 hari yang lalu
Keamanan | 3 hari yang lalu
Nasional | 5 hari yang lalu
Daerah | 2 hari yang lalu






