Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Refleksi Ramadhan

Ramadhan dan Konsumerisme

Oleh: Dahnil Anzar Simanjuntak
Minggu, 08 Maret 2026 | 06:21 WIB
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak

RAJAMEDIA.CO - FENOMENA paradoksal. Hakikat Ramadhan adalah "imsak" atau "menahan diri". Umat Islam dilatih untuk mengendalikan diri dari perilaku yang berlebihan, termasuk menahan diri untuk meningkatkan utilitas melalui konsumsi yang berlebihan.


Namun faktanya justru sebaliknya. Fenomena makro ekonomi justru memberikan tanda yang berbeda. Inflasi justru mencapai puncaknya di bulan Ramadhan. Artinya kenaikan harga barang-barang di pasar terjadi pada bulan nan mulia ini. Inflasi tersebut menandakan bahwa permintaan akan barang untuk konsumsi naik, sehingga harga-harga terdorong untuk naik.


Spirit Ramadhan mengajarkan kesetiakawanan dan kepedulian sosial melalui instrumen sedekah dan zakat yang secara ekonomi mampu menjadi katalis bagi distribusi pendapatan dan mempersempit kesenjangan ekonomi antara masyarakat kaya dengan masyarakat miskin. Namun fakta konsumerisme seolah menegasikan spirit tersebut.


Bukankah konsumerisme dan mubazir dilarang dalam agama seperti firman Allah SWT yang menyatakan: "Sesungguhnya mubazir atau perilaku berlebihan adalah saudara setan" (QS Al Isra' ayat 28). Secara faktual sketsa masyarakat menunjukkan konsumerisme pada bulan Ramadhan seperti "dipaksakan" di luar kemampuannya.


Kapitalisme menyambut bahagia budaya konsumerisme dan hedonisme di Bulan Ramadhan. Demikian pula dengan ekonom pemerintah khususnya. Bahagia, karena di bulan Ramadhan tren data ekonomi makro justru tumbuh positif didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat.


Namun tren tersebut hanya tren jangka pendek dan fluaktuatif. Dan akan segera bergerak turun paska lebaran. Ironisnya fenomena ekonomi seperti ini, menghapus esensi pesan transenden dari Tuhan, yakni pesan Ramadhan sebagai bulan membangun dan recharge kesetiakawanan dan kepedulian sosial yang permanen melalui maksimalisasi sedekah dan zakat.


Padahal, hakikat Ramadhan adalah tumbuh permanennya kultur jujur, simpati, dan empati di sebelas bulan selanjutnya. Konsumerisme seolah fatamorgana bagi ekonomi. Ekonomi terlihat bergeliat, padahal hanya fenomena bubble atau gelumbung sabun yang mudah pecah dalam waktu singkat. Kesejahteraan seolah ada, faktanya tidak ada.


Karena kemiskinan tetap tumbuh bahkan kesenjangan antara si miskin dengan si kaya justru sangat terasa pada bulan Ramadhan. Si kaya mampu meningkatkan utilitas dengan perilaku konsumerisme, si miskin justru sebaliknya hanya mampu menonton atraksi konsumerisme si kaya, dan sekali-kali mendapat bagian sedikit melalui sedekah dan zakat. Selain karena tumbuhnya ekonomi hanya dinikmati oleh segelintir orang, khususnya pemilik modal seperti pemilik mal, dan entitas bisnis lainnya.


Orang miskin yang menjadi pusat perhatian Ramadhan seolah tercampakkan oleh konsumerisme. Sedekah dan zakat berhenti hanya sebagai kegiatan sakral mengakumulasi pahala tanpa makna. Ramadhan seakan gagal melahirkan pribadi-pribadi umat Islam yang peduli akan lingkungan sosialnya, terutama terhadap saudara-saudara muslim yang tidak memiliki kecukupan secara ekonomi.


Pesan Ramadhan untuk melakukan transformasi sosial, tak pelak terabaikan karena konsumerisme. Ramadhan seakan setiap tahun lewat begitu saja tanpa ada transformasi sosial yang berarti. Cita-cita Ramadhan untuk membangun peradaban umat yang baru terbinasakan oleh perilaku konsumerisme umat Islam di bulan Ramadhan itu sendiri.


Islam sebagai agama wahyu memiliki instrumen dan pola jelas dalam merancang peradaban manusia. Sayangnya, instrumen itu dirusak oleh perilaku yang keliru. Padahal, apabila Ramadhan mampu dimaknai dengan benar, maka Ramadhan akan menjadi laboratorium yang sangat efektif untuk membangun fundamental peradaban ekonomi umat Islam. Kata kuncinya adalah imsak dan kepedulian sosial.


Pertama, imsak. Imsak yang bermakna menahan diri akan mendorong perilaku menabung yang proporsional di kalangan umat Islam. Perilaku menabung adalah prilaku positif bagi kesejahteraan ekonomi dalam jangka panjang. Tabungan secara makro ekonomi akan berdampak positif bagi perekonomian di masa depan. Karena dengan tabungan, kesejahteraan akan meningkat dalam jangka waktu yang panjang, dan umat Islam siap dengan berbagai perencanaan pembangunan di masa yang akan datang.


Kedua, kepedulian sosial. Instrumen sedekah dan zakat pada saat Ramadhan tidak dipahami sekedar usaha untuk memperoleh "perkenan" Tuhan melalui akumulasi pahala. Namun lebih dari itu, sedekah dan zakat harus mampu menjadi habit atau kebiasaan yang mampu menumbuhkan empati atau kepedulian sosial yang tinggi atas lingkungan sosial umat.


Sedekah dan zakat jangan direduksir hanya sebagai simbol filantropi dan kepedulian jangka pendek. Namun, sedekah dan zakat yang diperintahkan untuk diperbanyak di bulan Ramadhan harus mampu menjadi katalisator umat Islam untuk membantu sesamanya yang berkekurangan secara ekonomi untuk keluar dari lingkaran setan kemiskinan. Uang sepuluh ribu atau seratus ribu hanya mampu menyelesaikan kebutuhan si miskin sesaat, tidak akan mampu mengangkat mereka dari kemiskinan.


Maka, memperbanyak sedekah dan zakat di bulan Ramadhan harus berubah menjadi gerakan atau perilaku permanen pada sebelas bulan berikutnya. Institusionalisasi sedekah dan zakat menjadi keharusan untuk mengangkat si miskin dari kubangan kemiskinan.


Eksistensi lembaga dan badan amil zakat, infak, dan sedekah dengan berbagai program pengentasan kemiskinan yang dilakukan harus mendapat apresiasi yang maksimal dari umat Islam bukan hanya di bulan Ramadhan tetapi juga pada sebelas bulan berikutnya. Dengan begitu, Ramadhan berhasil mentrasformasikan umat Islam menjadi umat yang unggul peradaban dan perekonomiannya.


Catatan: Tulisan Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak ini dikutip dari salah satu bukunya yang berjudul “Menggembirakan Puasa” (2017).rajamedia

Mendikdasmen RI, Abdul Mu'ti
Pos Sebelumnya:
Muhasabah
Komentar:
BERITA LAINNYA
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak - Repro
Moral Berkemajuan
Kamis, 05 Maret 2026
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak
Akhlak yang Anggun
Rabu, 04 Maret 2026
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak
Puasa dan Moral Kedermawanan
Selasa, 03 Maret 2026
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak - ist
Puasa untuk Pemimpin Kaum Tertindas
Minggu, 01 Maret 2026
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyampaikan ceramah Ramadhan di Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, pada Rabu malam lalu (25/2).
Puasa dan Konsumsi Jalan Tengah
Sabtu, 28 Februari 2026
Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti
Buka Bersama
Sabtu, 28 Februari 2026