Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Harga Plastik Melejit! Puan Ajak Balik ke Daun: Murah, Ramah, dan Berkelas Lokal

Laporan: Halim Dzul
Kamis, 16 April 2026 | 12:10 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani - Humas DPR -
Ketua DPR RI Puan Maharani - Humas DPR -

RAJAMEDIA.CO — Jakarta, Legislator — Lonjakan harga plastik justru dibaca sebagai peluang. Ketua DPR RI, Puan Maharani, mendorong masyarakat dan pelaku usaha untuk kembali ke kemasan alami—dari daun pisang hingga daun jati—sebagai solusi ekonomi sekaligus lingkungan.
 

“Plastik memang praktis, tapi beban ekologinya sangat tinggi. Kenaikan harga ini bisa jadi momentum beralih ke ekonomi hijau,” tegas Puan, Rabu (15/4/2026).
 

Harga Naik 80 Persen, UMKM Terpukul
 

Kenaikan harga plastik tak main-main—mencapai 30 hingga 80 persen. Penyebabnya? Gejolak geopolitik global yang mengganggu rantai pasok, ditambah ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku impor hingga 60 persen.
 

Dampaknya paling terasa di sektor UMKM, terutama makanan dan minuman yang selama ini bergantung pada kemasan sekali pakai.
 

“Pelaku usaha kecil makin tertekan karena biaya naik dan pasokan sulit,” ungkap Puan.
 

Solusi Lama, Jawaban Baru
 

Alih-alih mencari inovasi mahal, Puan justru mengajak kembali ke kearifan lokal. Kemasan berbahan alami seperti daun dinilai bukan hanya murah, tapi juga lebih ramah lingkungan.
 

Di berbagai daerah, praktik ini sebenarnya masih hidup:
 

1. Nasi liwet dan gudeg dibungkus daun 

2. Mi lethek dengan kemasan tradisional 

3. Lontong dan lemper memakai daun pisang 
 

Selain lebih alami, kemasan ini juga memberi nilai tambah—aroma lebih harum dan daya tahan makanan lebih baik.
 

Nilai Jual Naik, Lingkungan Selamat
 

Menurut Puan, penggunaan kemasan organik bukan sekadar alternatif, tapi juga peluang ekonomi kreatif.
 

“Selain menghindari tekanan biaya impor, ini juga bisa menambah daya tarik produk,” katanya.
 

Keunikan kemasan alami bahkan bisa menjadi diferensiasi di pasar—terutama bagi konsumen yang peduli lingkungan.
 

Ancaman Sampah Plastik Makin Nyata
 

Puan juga mengingatkan ancaman global dari sampah plastik. Data UNEP mencatat:
 

1. Setara 2.000 truk sampah plastik dibuang ke perairan setiap hari 

2. Sekitar 19–23 juta ton limbah plastik mencemari ekosistem air tiap tahun 

Angka ini menunjukkan betapa seriusnya krisis lingkungan yang dihadapi dunia.
 

Transisi Tak Instan, Tapi Harus Dimulai
 

Meski mendorong perubahan, Puan realistis: peralihan dari plastik ke bahan alami tak bisa instan.
 

Ia menyarankan langkah awal sederhana, seperti:
 

1. Rumah makan tidak lagi memakai plastik untuk makan di tempat 

2. Mengurangi kemasan sekali pakai secara bertahap 
 

Butuh Dukungan Sistem dan Regulasi
 

Puan menegaskan, perubahan ini tak bisa dibebankan ke masyarakat saja. Pemerintah harus hadir dengan:

1. Regulasi yang jelas 

2. Dukungan industri bahan alami 

3. Sosialisasi masif 
 

Ia juga mendorong kolaborasi lintas kementerian—Lingkungan Hidup, Pertanian, Perdagangan, hingga Ekonomi Kreatif.
 

Momentum Emas Menuju Ekonomi Hijau
 

Pesan Puan lugas: ketika harga plastik melonjak, di situlah peluang perubahan muncul.
 

“Kalau sistemnya mendukung, bukan tidak mungkin kemasan organik bisa menggantikan plastik sekali pakai,” tandasnya.
 

Dari Daun untuk Masa Depan
 

Di tengah krisis plastik, solusi ternyata tak selalu baru. Kadang, jawabannya justru ada pada tradisi lama yang ramah bumi.
 

Dan kini, saatnya kembali.rajamedia

Komentar: