Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Pendidikan Asrama dan Masa Depan Intelegensia Indonesia

Oleh: Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:30 WIB
Foto Ilustrasi - RMN -
Foto Ilustrasi - RMN -

RAJAMEDIA.CO - INDONESIA merupakan negara dengan wilayah dan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara. Dengan lebih dari 280 juta penduduk, kekuatan terbesar bangsa ini sesungguhnya bukan terletak pada kekayaan alam, melainkan pada kualitas manusia yang dimilikinya. Karena itu, setiap indikator yang mengukur kapasitas sumber daya manusia perlu menjadi bahan introspeksi bersama. Laporan Intelligence Capital Index 2026 yang dikutip Kompas.com pada 29 Mei 2026 menempatkan Indonesia pada peringkat 126 dari 137 negara dengan skor rata-rata 89,96. Pada saat yang sama, Singapura berada di kelompok teratas dunia, Vietnam menembus sepuluh besar, dan Korea Selatan tetap menjadi salah satu negara dengan modal kecerdasan terbaik. Data ini menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia harus ditempatkan sebagai agenda strategis bangsa.


Tiga negara tersebut memberikan pelajaran yang berharga. Korea Selatan membangun keunggulannya melalui pendidikan STEM yang terhubung erat dengan universitas riset dan industri nasional. Singapura menjadikan kualitas manusia sebagai sumber daya utama negara melalui sistem pendidikan yang disiplin, meritokratis, dan konsisten lintas generasi. Sementara itu, Vietnam menunjukkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia dapat dimulai dari perbaikan gizi anak, kesehatan ibu, pendidikan dasar yang kuat, serta pembelajaran yang mendorong kemampuan berpikir kritis. Ketiganya berbeda jalan, tetapi memiliki kesamaan tujuan: membangun manusia unggul sebagai fondasi kemajuan bangsa.

Indonesia sesungguhnya memiliki modal kebijakan yang kuat. Pasca reformasi, konstitusi mengamanatkan alokasi anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD. Persoalannya bukan lagi pada besarnya anggaran, melainkan bagaimana mengubah investasi pendidikan menjadi modal kecerdasan bangsa. Tantangan utama pendidikan Indonesia saat ini adalah efektivitas, kesinambungan, dan kemampuan membangun ekosistem yang menghasilkan mutu secara berkelanjutan.


Salah satu kekuatan historis Indonesia adalah tradisi pendidikan berasrama. Jauh sebelum istilah human capital menjadi populer, pesantren telah mengembangkan lingkungan pendidikan yang memadukan ilmu, karakter, kepemimpinan, kedisiplinan, dan pengabdian dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlangsung selama dua puluh empat jam dalam sebuah sub kultur komunitas belajar yang hidup.


Sejarah menunjukkan bahwa Indonesia pernah menjadi salah satu rujukan pendidikan di Asia Tenggara. Pada dekade 1970-an hingga 1990-an, tenaga guru Indonesia dikirim ke sejumlah negara jiran untuk membantu pengembangan pendidikan. Pada saat yang sama, banyak keluarga Muslim dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand Selatan mempercayakan pendidikan putra-putri mereka kepada pesantren-pesantren terkemuka di Indonesia. Reputasi tersebut menunjukkan bahwa sistem pendidikan Indonesia pernah memiliki pengaruh yang melampaui batas-batas nasional.


Lembaga-lembaga seperti Sumatra Thawalib,  Gontor, Tebuireng, Al-Khairiyah, dan berbagai pesantren besar lainnya telah melahirkan ulama, akademisi, birokrat, pengusaha, serta pemimpin masyarakat selama lebih dari satu abad. Keberhasilan mereka tidak hanya terletak pada kurikulum, tetapi pada kemampuannya membangun budaya belajar yang kuat melalui pembiasaan, keteladanan, dan pengelolaan kehidupan murid secara terpadu.


Indonesia juga memiliki tokoh pendidikan perempuan yang pengaruhnya menjangkau dunia Islam internasional. Rahmah El Yunusiyah melalui Diniyyah Puteri Padang Panjang membangun model pendidikan Islam modern khusus perempuan yang memperoleh pengakuan luas. Gagasan dan praktik pendidikannya memberi inspirasi bagi pengembangan pendidikan perempuan di lingkungan Al-Azhar Mesir. Penghargaan gelar Syaikhah yang diterimanya menjadi simbol pengakuan dunia Islam terhadap kontribusi pendidikan Indonesia.


Keberhasilan pendidikan berasrama juga pernah direplikasi oleh negara melalui Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) ala Munawir Syazali dan SMA Insan Cendekia ala BJ Habibie. Kedua lembaga ini membuktikan bahwa model pendidikan asrama dapat dimodernisasi untuk mencetak ulama, ilmuwan, teknokrat, dan pemimpin masa depan. Pengalaman tersebut menjadi modal penting ketika Indonesia mengembangkan Sekolah Garuda sebagai pusat pembinaan talenta unggul nasional.


Namun terdapat pelajaran yang tidak boleh diabaikan. Persoalannya sering kali negara terlalu sering mengubah arah sebelum sebuah kebijakan mencapai kematangan. Negara juga lebih sibuk mengatur daripada belajar dari praktik-praktik pendidikan yang telah terbukti berhasil di masyarakat. Tidak jarang kebijakan pemerintah justeru kontroversial karena meminggirkan peran pesantren dan madrasah. Akibatnya, banyak inovasi pendidikan tumbuh sebagai keberhasilan lokal, tetapi gagal berkembang menjadi gerakan nasional.


Indonesia tidak kekurangan anggaran atau contoh keberhasilan. Indonesia juga tidak kekurangan sekolah, guru, dan anak-anak cerdas. Yang dibutuhkan adalah keberanian menjadikan praktik baik pesantren dan pendidikan berasrama sebagai inspirasi reformasi pendidikan nasional. Pengalaman pesantren, MAPK, dan Insan Cendekia menunjukkan bahwa kualitas pendidikan lahir dari ekosistem yang utuh, bukan semata dari perubahan kurikulum atau pergantian kebijakan.


Karena itu, reformasi pendidikan harus dimulai dari pembangunan fondasi yang nyata. Dapur asrama pesantren dan kantin sekolah harus memastikan setiap murid memperoleh gizi yang cukup. Intelegensia bangsa dibangun bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga di meja makan. Asrama harus menjadi ruang pembentukan karakter dan budaya hidup produktif. Perpustakaan harus dihidupkan sebagai pusat literasi dan pembelajaran mandiri, sementara laboratorium STEM harus menjadi ruang eksperimen yang menumbuhkan budaya riset, kreativitas, dan inovasi.


Untuk menopang keberlanjutan ekosistem tersebut, tradisi wakaf produktif perlu diperkuat. Wakaf di lingkungan lembaga pendidikan diarahkan untuk mendukung riset, inovasi, dan pengembangan industri strategis. Wakaf dapat menjadi sumber pembiayaan laboratorium, pusat riset, inkubator teknologi, serta unit-unit usaha produktif yang memperkuat ketahanan pangan. Dengan demikian, pesantren dan sekolah tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga pusat produksi pengetahuan dan kemandirian ekonomi, terutama pertanian, peternakan, perikanan, kelautan, dan perdagangan.


Saatnya sebagian aliran anggaran pendidikan yang mencapai lebih dari 20 persen APBN dan APBD diarahkan secara lebih strategis untuk memperkuat fondasi pendidikan: revitalisasi dapur pesantren dan kantin sekolah, pengembangan asrama pendidikan, modernisasi perpustakaan, pembangunan laboratorium STEM, serta penguatan wakaf produktif untuk riset dan industri penopang ketahanan pangan. Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh banyaknya gedung yang dibangun, melainkan oleh kualitas manusia yang dihasilkan. Pemerintah dan pemerintah daerah perlu insyaf, bahwa kebangkitan intelegensia Indonesia dapat dimulai dari dapur yang menjamin gizi, asrama yang membentuk budaya belajar, perpustakaan yang menumbuhkan literasi, laboratorium yang melahirkan inovasi, serta riset dan industri yang menopang kemandirian bangsa. Wallahu a'lam.


Penulis: Dekan FKIP UNTIRTArajamedia

Komentar: