Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Bencana Alam! Pejabat Jangan Tambah Luka Rakyat dengan Pernyataan Tak Empatik!

Laporan: Halim Dzul
Selasa, 02 Desember 2025 | 21:26 WIB
Anggota DPR RI Yanuar Arif Wibowo - Humas DPR -
Anggota DPR RI Yanuar Arif Wibowo - Humas DPR -

RAJAMEDIA.CO - Jakarta, Legislator — Anggota DPR RI Yanuar Arif Wibowo menyesalkan sejumlah pernyataan pejabat pemerintah yang dinilai tidak sensitif dan justru memicu kemarahan publik di tengah duka nasional akibat banjir dan longsor besar di Sumatra dan Aceh.

Ia meminta para pejabat, termasuk para menteri dan Kepala BNPB, untuk berhati-hati dalam menyampaikan informasi di saat masyarakat sedang kehilangan ribuan anggota keluarga dan harta benda.
 

Pernyataan Pejabat Dinilai Defensif dan Menyakitkan
 

Yanuar menilai beberapa komentar pejabat terkesan meremehkan skala bencana. Ia menyoroti pernyataan yang menanggapi soal banyaknya kayu gelondongan yang hanyut terbawa arus banjir.
 

“Jangan defensif dengan statement yang membuat masyarakat marah. Ada pejabat yang bilang (akar pohonnya) tercabut karena hujan deras, tercabut karena nggak ada akarnya. Ini membuat orang bertanya dan marah,” kritiknya dalam diskusi “Refleksi Akhir Tahun: Membangun Solidaritas Bersama di Tengah Bencana” yang digelar KWP dan Biro Pemberitaan DPR RI, Selasa (02/12/2025).
 

Yanuar juga keberatan atas komentar Kepala BNPB yang menyebut kondisi di lapangan tidak seheboh yang terlihat di media sosial. Menurutnya, pernyataan semacam itu tidak pantas diucapkan ketika ratusan warga meninggal dunia.
 

“Masak iya 700 meninggal dianggap biasa-biasa saja? Ini anak bangsa,” tegasnya.
 

Aceh: Dua Desa Hilang, Situasi Kritis
 

Politisi PKS itu menyampaikan laporan dari Aceh bahwa dua desa hilang diterjang banjir dan longsor. Menurut Yanuar, situasi kritis ini seharusnya menjadi alarm keras agar pejabat lebih berhati-hati menarasikan kondisi lapangan.
 

Ia menegaskan bahwa korban membutuhkan solidaritas, bukan komentar yang mendiskreditkan fakta.
 

“Kita harus memberi keteduhan, bukan memancing kemarahan,” ujarnya.
 

Apresiasi untuk Respons Cepat DPR
 

Di tengah kritiknya, Yanuar tetap mengapresiasi langkah cepat Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang mengirim bantuan menggunakan pesawat khusus ke wilayah terdampak. Fraksi-fraksi di DPR dan sejumlah partai juga tercatat turun langsung membantu warga.
 

“Itu bagian dari empati. Jangan sampai pejabat publik malah membuat statement yang memicu amarah,” katanya.
 

Komunikasi Kebencanaan Harus Dibenahi
 

Yanuar menegaskan bahwa pemerintah perlu mengevaluasi komunikasi publik dalam situasi krisis. Menurutnya, masyarakat terdampak membutuhkan rasa diperhatikan, bukan pernyataan yang meremehkan penderitaan mereka.
 

“Seluruh pejabat harus berbenah. Komunikasi dalam situasi seperti ini harus benar-benar diperbaiki,” tandasnya.
 

Ia juga mengingatkan bahwa pola bencana besar yang terus berulang setiap akhir tahun merupakan sinyal bahwa kondisi alam Indonesia semakin ekstrem. Pemerintah diminta memperkuat mitigasi dan meningkatkan kesiapsiagaan.
 

APBD Daerah Tertekan, Pemerintah Pusat Diminta Turun Tangan
 

Yanuar menyebut banyak pemerintah daerah berada dalam tekanan fiskal sehingga tidak mampu menanggung beban penanganan bencana berskala besar.
 

“APBD mereka tidak sanggup. Jadi meskipun belum ditetapkan bencana nasional, pemerintah pusat harus memberikan perhatian ekstra,” tekannya.
 

Data Terkini BNPB
 

Hingga Selasa (2/12) siang, BNPB mencatat:
 

- 659 orang meninggal dunia,

- 475 orang masih hilang,

- 2.600 luka-luka,

- 3,2 juta jiwa terdampak di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.rajamedia

Komentar: