Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Venezuela dan Ujian Bebas Aktif

Oleh: H. Dede Zaki Mubarok
Selasa, 06 Januari 2026 | 09:22 WIB
Presiden Venezuela Nicolás Maduro saat digiring pasukan elit Amerika - Repro -
Presiden Venezuela Nicolás Maduro saat digiring pasukan elit Amerika - Repro -

RAJAMEDIA.CO -  SAYA terdiam dan merenung usai membaca berita Venezuela.
 

Bukan karena saya pendukung Nicolás Maduro. Bukan pula karena saya anti-Amerika. Tapi karena pertanyaan itu muncul lagi, pertanyaan lama yang terasa baru: kalau presiden sebuah negara bisa ditangkap begitu saja, apa arti kedaulatan?
 

Hari ini Venezuela.
Besok siapa?
 

Dan di sela pertanyaan itu, pikiran saya melayang ke Indonesia. Ke Jakarta. Ke Istana. Ke Presiden Prabowo Subianto.
 

Dunia yang Kembali ke Hukum Kekuatan
 

Amerika Serikat bicara demokrasi. Bicara hukum internasional. Bicara tatanan dunia berbasis aturan.
 

Namun ketika kepala negara berdaulat ditangkap tanpa mekanisme hukum internasional yang sah, pesan yang sampai ke dunia sederhana saja: yang kuat menentukan yang benar.
 

Ini bukan cerita baru. Irak. Libya. Afghanistan. Suriah. Sekarang Venezuela.
 

Nama negaranya berbeda. Dalihnya berganti. Tapi hasilnya hampir selalu sama:
negara hancur, stabilitas hilang, rakyat menanggung luka panjang.
 

Dan dunia, lagi-lagi, hanya bisa berkata: prihatin.
 

Global South: Kita Pernah di Posisi Itu
 

Global South bukan istilah akademik. Ia adalah pengalaman kolektif.
 

Pengalaman dijajah.
Pengalaman diatur.
Pengalaman diberi tahu apa yang benar dan salah oleh mereka yang punya senjata dan modal.
 

Indonesia ada di sana. Pernah. Dan itu sebabnya kita dulu keras bicara soal kedaulatan.
 

Bandung, 1955. Asia-Afrika. Soekarno. Nehru. Nasser. Tito.
 

Mereka sepakat satu hal: jangan jadi pion.
 

Prabowo dan Jalan yang Dipilih
 

Di titik inilah kepemimpinan Prabowo Subianto menjadi relevan.
 

Di tengah dunia yang kembali terbelah—Barat dan non-Barat, NATO dan BRICS, hegemoni dan perlawanan—Indonesia tidak tergoda untuk berteriak paling keras, tapi juga tidak memilih diam.
 

Politik luar negeri bebas aktif kembali diuji.
Bukan sebagai slogan.
Tapi sebagai strategi bertahan hidup.
 

Bebas: tidak tunduk pada satu blok.
Aktif: tidak bersembunyi saat hukum diinjak-injak.
 

Prabowo paham betul satu hal: konfrontasi frontal dengan kekuatan besar sering kali berujung mahal. Venezuela hari ini adalah contohnya.
 

Mengapa Indonesia Harus Waspada
 

Yang berbahaya dari Venezuela bukan hanya invasinya. Tapi contohnya.
 

Jika hari ini dunia membiarkan penangkapan kepala negara berdaulat, maka besok:

Sanksi bisa jadi senjata biasa, intervensi bisa dinormalisasi, hukum internasional tinggal catatan kaki. Dan negara-negara Global South—termasuk Indonesia—akan selalu berada di posisi paling rentan.
 

Itulah sebabnya diplomasi Indonesia tidak boleh emosional. Tapi juga tidak boleh pengecut.
 

PBB dan Dunia yang Kehilangan Penjaga
 

PBB seharusnya wasit. Tapi ketika veto menjadi palu hakim, PBB berubah menjadi ruang pidato.
 

Pertanyaannya sederhana: apakah hukum internasional masih hidup, atau hanya berlaku untuk negara kecil?
 

Jika jawabannya yang kedua, maka politik bebas aktif bukan lagi pilihan—melainkan keharusan.
 

Venezuela adalah Pengingat
 

Saya tidak sedang membela Maduro.
Saya sedang membela satu prinsip dasar: kedaulatan tidak boleh ditentukan oleh kekuatan senjata.
 

Venezuela hari ini adalah pengingat bagi Indonesia.
Bahwa dunia tidak selalu adil.
Bahwa yang kuat sering tergoda bertindak sepihak.
Dan bahwa berdiri di tengah, dengan kepala dingin dan sikap tegas, adalah pilihan paling sulit—sekaligus paling bermartabat.
 

Kalau kita lengah, suatu hari cermin itu bisa menghadap ke kita.
 

Dan saat itu, sejarah akan bertanya: Indonesia memilih diam, atau tetap bebas dan aktif?
 

Penulis: Pimpinan Redaksi Raja Media, Ketua DPP Pro Jurnalismedia Siber, Wabendum IKALUIN Jakartarajamedia

Komentar: