Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Aktivasi Salat: Memaknai Peta Jalan Hidup Profetis

Oleh: Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Senin, 16 Februari 2026 | 05:17 WIB
Ilustrasi AI -
Ilustrasi AI -

RAJAMEDIA.CO - SALAT bukan sekadar ritual, melainkan peta perjalanan eksistensial manusia. Ia memetakan fase-fase hidup dari kesunyian ruhani menuju tanggung jawab sosial dan kembali ke keheningan transendental. Setiap waktu salat adalah simbol perkembangan jiwa dan peran. Dari tahajud sampai isya, manusia bergerak dari asal menuju tujuan. Dalam perspektif sufistik, salat adalah mi‘raj harian. Dalam perspektif pedagogis, salat adalah kurikulum karakter. Dalam perspektif filosofis, salat adalah struktur makna. Dalam perspektif sosial, salat adalah fondasi peradaban. Salat menata waktu sekaligus makna. Salat menghubungkan langit dan bumi. Salat mengajarkan siapa kita dan untuk apa kita hidup.


Tahajud melambangkan fase sebelum lahir, ketika manusia masih berada dalam kesucian fitrah. Pada tahap ini, kesadaran hanya mengenal Tuhan sebagai pusat. Tidak ada ambisi, tidak ada kepentingan, hanya kepasrahan. Tahajud mendidik jiwa untuk jujur pada asal-usulnya. Dalam tasawuf, ini maqam tazkiyah. Dalam pendidikan, ini pembentukan karakter dasar. Dalam filsafat, ini kesadaran ontologis. Fitrah adalah modal awal seluruh kebajikan. Tanpa fitrah, manusia kehilangan arah. Tahajud menghidupkan kembali kesadaran asal. Ia menjaga manusia tetap manusia.


Witir melambangkan fase rahim, ketika manusia hidup dalam rahmah dan ketergantungan total. Di sini manusia belajar bahwa hidup dimulai dari kasih sayang, bukan prestasi. Rahmah membentuk rasa aman dan kepercayaan. Dalam tasawuf, rahmah adalah energi cinta. Dalam pendidikan, rahmah adalah dasar pengasuhan. Dalam filsafat, rahmah adalah prinsip empati. Tanpa rahmah, lahir generasi keras. Tanpa rahmah, peradaban kehilangan nurani. Witir menutup malam dengan cinta. Ia mengajarkan bahwa awal hidup harus penuh kelembutan. Dari rahmah lahir kemanusiaan.


Subuh melambangkan kelahiran dan pembukaan kesadaran. Di sinilah manusia mulai menghadapi cahaya dunia. Dalam sirah, Nabi Muhammad SAW mengalami peristiwa pembelahan dada oleh malaikat pada masa kecil. Itu simbol pembersihan dan penguatan qalb. Ia terjadi sekitar usia empat tahun. Peristiwa itu adalah fase insyirah, kelapangan dada. Insyirah adalah kesiapan menerima amanah hidup. Dalam pendidikan, ini fase membangun rasa aman dan percaya diri. Dalam tasawuf, ini pembukaan qalb. Dalam filsafat, ini kesadaran awal. Subuh adalah lahirnya kesadaran diri.


Dhuha melambangkan masa kanak-kanak yang aktif dan penuh potensi. Di sini anak belajar sopan, jujur, dan berani mencoba. Dhuha adalah waktu eksplorasi. Anak mulai mengenali bakat dan minat. Dalam pendidikan, ini fase discovery learning. Dalam tasawuf, ini tahdzib al-nafs. Dalam filsafat, ini pembentukan etos. Nabi Muhammad SAW sejak kecil dikenal jujur dan amanah. Karakter itu dibangun sebelum kenabian. Dhuha mengajarkan bahwa kompetensi harus tumbuh dari akhlak. Tanpa sopan, bakat liar. Tanpa etika, kecerdasan berbahaya.


Dzuhur melambangkan puncak energi dan kematangan awal. Ini fase kepemimpinan heroik. Kepemimpinan dimulai dari kharisma moral. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai al-Amīn karena sopan dan jujurnya. Ia teruji keberaniannya dalam Perang Fijār pada usia remaja. Ia dimatangkan kebijaksanaannya dalam peristiwa Hajar Aswad pada usia sekitar 35 tahun. Dari sopan, berani, hingga bijaksana, kepemimpinan tumbuh alami. Dalam pendidikan, ini fase aktualisasi diri. Dalam filsafat, ini tanggung jawab etis. Dalam tasawuf, ini maqam amanah. Dzuhur adalah saat manusia berdiri sebagai figur teladan.


Usia empat puluh tahun adalah puncak kematangan manusia. Dalam sirah, pada usia inilah wahyu pertama turun. Artinya, hidup beralih dari sekadar memimpin menjadi mengemban misi. Kepemimpinan heroik naik kelas menjadi kepemimpinan profetik. Dari karisma moral menuju amanah risalah. Dalam filsafat, ini fase makna transenden. Dalam tasawuf, ini maqam risalah. Dalam pendidikan, ini fase keteladanan misi. Sejak titik ini, hidup tidak lagi berpusat pada diri. Hidup menjadi pelayanan umat. Inilah pergeseran orientasi terdalam manusia.


Antara adzan dan iqamah Jumat ada khutbah. Ia bukan jeda, tetapi pengarahan nilai. Secara simbolik, ini fase transisi kritis hidup. Manusia berpindah dari orientasi privat ke tanggung jawab publik. Nabi Muhammad SAW menata keluarga dan bisnis sebelum risalah. Lalu beliau hadir di ruang publik membawa nilai. Khutbah melambangkan formasi visi. Dalam pendidikan, ini orientasi kepemimpinan. Dalam tasawuf, ini tazkirah. Dalam filsafat, ini refleksi praksis. Tanpa khutbah, iqamah kosong. Tanpa visi, aksi liar.


Ashar melambangkan fase kedewasaan sosial. Kepemimpinan tidak lagi heroik, tetapi kolektif. Peran dibagi, sistem dibangun, nilai dilembagakan. Negara Madinah adalah contoh kepemimpinan sistemik. Nabi Muhammad SAW membangun komunitas, bukan kultus individu. Dalam pendidikan, ini kolaborasi. Dalam tasawuf, ini khidmah. Dalam filsafat, ini etika sosial. Ashar mengajarkan bahwa peradaban dibangun bersama. Kepemimpinan sejati menciptakan pemimpin lain. Ashar adalah seni memimpin bersama.


Setelah Ashar menuju Maghrib adalah waktu regenerasi. Ambisi pribadi mulai dilepas. Fokus bergeser dari membangun diri ke membangun generasi. Dalam Haji Wada’, Nabi Muhammad SAW menyampaikan pesan estafet visi. Beliau mewariskan nilai, bukan harta. Dalam pendidikan, ini mentoring. Dalam tasawuf, ini taslim. Dalam filsafat, ini etika warisan. Regenerasi adalah tanda kedewasaan peradaban. Tanpa estafet, visi mati. Tanpa kaderisasi, peradaban runtuh. Ini seni melepaskan.


Maghrib melambangkan senja kehidupan. Cahaya meredup, tetapi makna menguat. Ini fase muhasabah dan evaluasi. Dalam pendidikan, ini refleksi diri. Dalam tasawuf, ini maqam muhasabah. Dalam filsafat, ini kesadaran kefanaan. Nabi Muhammad SAW di akhir hayat fokus menata umat. Bukan menumpuk harta. Maghrib mengajarkan bahwa hidup bukan soal panjang, tetapi bermakna. Senja bukan akhir, tetapi persiapan pulang. Maghrib adalah seni menyelesaikan dengan tenang.


Isya melambangkan fase pelepasan total. Dunia ditinggalkan tanpa beban. Nabi Muhammad SAW melepas seluruh kepentingan pribadi. Tidak ada warisan materi, hanya risalah. Inilah husnul khatimah. Dalam tasawuf, ini fana. Dalam filsafat, ini transendensi. Dalam pendidikan, ini keteladanan akhir hayat. Isya mengajarkan bahwa sukses bukan memiliki, tetapi melepaskan. Mulia bukan kaya, tetapi bersih. Hidup yang baik ditutup dengan kebaikan. Tanpa ikhlas, akhir menjadi gelap.


Salat yang tegak melahirkan hidup yang sukses dan mulia. Bukan sukses duniawi semata, tetapi sukses bermakna dan berdampak. Salat menata waktu, jiwa, dan tujuan. Ia mengajarkan kapan memimpin, kapan melepas. Kapan berdiri sendiri, kapan berjalan bersama. Kapan mengumpulkan, kapan mewariskan. Jika salat menjadi gaya hidup, hidup menjadi ibadah. Jika ibadah menjadi peradaban, dunia menjadi adil. Tegakkan salat, tegakkan manusia. Tegakkan manusia, tegakkan sejarah. Tegakkan sejarah, lahirlah kemuliaan.


Penulis: Dekan FKIP UNTIRTArajamedia

Komentar:
BERITA LAINNYA