Standar Moral Puasa
RAJAMEDIA.CO - "Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" (QS. Al Baqarah ayat 183)
Puasa adalah ibadah eksklusif. Undangan puasa, "Hai orang-orang beriman..." eksklusif ditujukan kepada orang-orang beriman, tidak untuk orang kafir. Orang-orang yang beriman pasti akan terpanggil, dan sepenuhnya akan menghadiri undangan puasa dengan suka cita. Sebaliknya, orang tidak beriman pastilah abai, karena merasa tidak diundang.
Beriman bagi saya erat kaitannya dengan moral. Keberimanan termanifestasikan melalui moralitas, yakni perilaku atau kebiasaaan akhlak yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari dalam hubungan dengan Allah SWT, manusia, dan alam.
Mengutip pernyataan Buya Syafii Maarif, "Standar moral bangsa Indonesia rendah". Bahkan sebelum pernyataan Buya tersebut, Koentjaraningrat (1967) dalam bukunya “Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan” mengutip pernyataan koleganya, seorang Profesor Jepang, yang menyatakan bahwa "Orang Indonesia memiliki moral rendah".
Dimensi moral yang dimaksud Buya, dengan pernyataan tersebut, adalah terjadi degradasi nilai baik dan buruk, benar dan salah, di tengah-tengah masyarakat. Kekayaan dan uang yang diperoleh dengan cara korupsi seakan menjadi kebiasaan, lumrah, bahkan terjadi di tengah-tengah masyarakat. Mereka para koruptor menjadi orang-orang terhormat di tengah masyarakat karena memiliki harta yang berlimpah.
Karena harta yang berlimpah dan kerap dibagi-bagikan sedikit kepada orang lain, organisasi, dan kelompok tertentu, masyarakat seakan tutup mata asal-usul harta tersebut. Perilaku-perilaku seperti suap, sogok, uang pelicin, seakan biasa. Menerobos lampu merah bukan perbuatan yang memalukan; melawan arus dalam mengendarai sepeda motor bukan dosa; tidak menepati janji, sumpah jabatan maupun janji kampanye adalah hal yang biasa.
Sedang dimensi moral yang dimaksud dengan pernyataan Profesor Jepang di atas yang dikutip oleh Koentjaraningrat (1967) adalah orang Indonesia memiliki perilaku yang tidak disiplin, miskin komitmen, cenderung munafik, kurang kerja keras, cenderung berpikir instan. Nah, bagi saya orang beriman tidak masuk dalam kategori yang memiliki standar moral rendah yang disinyalir oleh Buya Syafii dan Koentjaraningrat.
Orang yang beriman adalah orang-orang yang memiliki standar moral Ilahiah dan mereka otentik, yakni perilaku yang mengedepankan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Orang yang beriman selalu menjaga harmonisasi kata dan laku, menjaga harmonisasi hubungan dengan sesama manusia dan alam, jauh dari perbuatan yang merugikan sesama manusia dan alam.
Keberimanan adalah sebuah kata bagi totalitas moral, tanpa memisahkan kehidupan spiritual dan duniawi. Ajaran Islam secara tegas tidak pernah menjadi ajaran yang ekstrem, baik ekstrem spiritualis maupun ekstrem duniawi. Ajaran Islam menjadikan keduanya sebagai satu kesatuan. Beriman tidak berarti sekadar percaya kepada Allah SWT dan rukun-rukun iman lainnya. Tetapi lebih dari itu, keimanan harus termanifestasikan dalam moralitas yang baik sesuai dengan standar Ilahiah, yang didasari oleh nilai-nilai Al-Quran dan Sunnah Rasulullah.
Moralitas orang beriman pastilah merasa berdosa apabila korupsi. Orang beriman pastilah malu menerobos lampu merah. Orang beriman sudah pasti menjauhkan diri dari perbuatan sogok dan suap. Orang beriman berusaha keras untuk tidak ingkar janji, dan taat terhadap sumpah jabatan. Orang beriman sudah pasti tidak sudi mengkhianati kepercayaan rakyat kepada dirinya. Orang beriman tidak akan menegasikan kehadiran kedisiplinan, komitmen tinggi, kerja keras dan kejujuran dalam kehidupan sehari-harinya.
Puasa pada bulan Ramadhan bagi orang-orang yang diundang (baca: beriman), pastilah penuh dengan makna. Bagai rest area, Ramadhan menjadi momentum recharnge keimanan agar pada bulan-bulan berikutnya kehidupan menjadi lebih berkualitas secara total (material dan spiritual).
Sejatinya bulan Ramadhan, melalui ibadah puasa, setiap anak bangsa Indonesia, anda, saya dan kita semua, bisa kembali merenungkan esensi Ramadhan, apakah kita masuk ke dalam orang-orang yang diundang (baca: beriman) atau justru banyak dari kita sama sekali tidak termasuk orang-orang yang diundang, tetapi lebih dari sekadar pengikut setia, yang hanya sekadar meramaikan suasana Ramadhan dengan ritual berpuasa, tarawih, bersedekah, zakat dan akhirnya ikut merayakan hari kemenangan melalui Idul Fitri, tanpa menemukan kebahagiaan menjadi orang-orang beriman, yang diundang menjadi tamu utama pada pelaksanaan puasa selama Ramadhan.
Karena kita menjadi bagian yang jamak, di mana puasa hanya menjadi ritual tahunan tanpa makna, absen terhadap makna hakikinya yakni mendorong perubahan kualitas keimanan dan mengedepankan peningkatan standar moral.
Mudah-mudahan kita tidak menjadi "penggembira" suasana Ramadhan, tetapi menjadi bagian tamu utama, yang diundang Allah SWT dalam bulan Ramadhan untuk melakukan perbaikan keimanan melalui peningkatan kualitas standar moral kita sebagai seorang muslim. Amin. Billahi fisabillil haq, fastabiqul khairat.
Catatan: Tulisan Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak ini diambil dari salah satu bukunya yang berjudul “Menggembirakan Puasa” (2017).![]()
Daerah 4 hari yang lalu
Olahraga | 6 jam yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Parlemen | 6 hari yang lalu
Dunia | 6 hari yang lalu
Keamanan | 5 hari yang lalu
Nasional | 9 jam yang lalu
Olahraga | 4 hari yang lalu
Hukum | 3 hari yang lalu
Olahraga | 4 hari yang lalu
