Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Refleksi Ramadhan

Moral Berkemajuan

Oleh: Dahnil Anzar Simanjuntak
Kamis, 05 Maret 2026 | 16:49 WIB
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak - Repro
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak - Repro

RAJAMEDIA.CO - PUASA menyimpan pesan makna moral berkemajuan. Islam adalah agama yang memajukan. Syarat utama kemajuan adalah hadirnya rasionalitas. Islam adalah agama yang menempatkan nalar, akal atau rasionalitas pada tempat yang sangat penting. Al-Quran banyak sekali mengungkapkan pentingnya peran akal.


Akal yang disebutkan dalam Al-Quran tersebut semuanya dalam kata derivatif-nya, berupa “fi'l” (kata kerja), dengan berbagai varian, yang menjelaskan sebuah proses rasionalisasi.


Misalnya “afala ta'qiluun” (apakah kamu tidak mengerti) yang disebut sebanyak 13 kali, "la'allakum ta'qiluun" (agar kalian memahami) disebut sebanyak 8 kali, "liqaumi ya'qiluun" (bagi kaum yang berfikir) sebanyak 8 kali. Juga dalam ungkapan "liqaumi yatafakkaruun" (bagi kaum yang memikirkan) yang diulang sebanyak 7 kali.


Peradaban yang berkemajuan pastilah peradaban di mana nalar ilmiah mendapat posisi yang terhormat, irasionalitas sulit mendapat tempat. Karena peradaban berkemajuan dibangun dengan kompetisi kapasitas dan moralitas, bukan dengan ukuran jenis kelamin, suku, asal usul.


Rasialisme yang bernuansa kebencian ditempatkan di "tong sampah peradaban". Karena irasionalitas adalah sampah kotor yang bau-nya menggangu harumnya nalar ilmiah sebagai alat untuk memahami dan mempraktekkan Islam yang berkemajuan.


Puasa Ramadhan adalah momentum yang tepat bagi umat Islam untuk kembali memahami pentingnya mendorong Islam yang berkemajuan. Puasa memberikan momentum untuk mengolah "rasa", "karsa", dan "nalar". Rasa dan karsa melahirkan empati dan simpati. Nalar melahirkan karya intelektual yang bisa memajukan. Namun, untuk mendorong kemajuan harus mengintegrasikan rasa, karsa, dan nalar secara bersamaan. Karena tiga hal tersebut adalah instrumen untuk memajukan.


Rasa, karsa dan nalar yang terintegrasi sebagai produk hasil pelatihan puasa Ramadhan diharapkan bisa menjadi alat untuk "bergerak". Karena bila ketiganya tidak digunakan untuk menggerakkan, maka tidak akan ada kemajuan. Kemajuan itu bermakna bergerak dari A ke B dari B ke C, makanya langkah berikutnya harus menggerakkan. Seorang muslim yang berkemajuan akan menggunakan panduan Al-Quran dan As-Sunnah untuk bergerak memajukan.


Al-Quran adalah absolut, tetapi pemahaman dan perspektif terhadap Al-Quran bisa terus berkembang. Dengan rasa, karsa dan nalar maka muslim berkemajuan akan bergerak dan berbuat sesuai dengan perubahan zaman yang mengikutinya.


Semoga kita mampu menjadikan puasa Ramadhan tahun ini sebagai sekolah untuk meninggikan moral berkemajuan kita untuk menghadirkan Islam yang berkemajuan khususnya di Indonesia dan dunia internasional.


Catatan: Tulisan Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak ini dikutip dari salah satu bukunya yang berjudul “Menggembirakan Puasa” (2017).rajamedia

Komentar:
BERITA LAINNYA
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak
Akhlak yang Anggun
Rabu, 04 Maret 2026
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak
Puasa dan Moral Kedermawanan
Selasa, 03 Maret 2026
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak - ist
Puasa untuk Pemimpin Kaum Tertindas
Minggu, 01 Maret 2026
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyampaikan ceramah Ramadhan di Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, pada Rabu malam lalu (25/2).
Puasa dan Konsumsi Jalan Tengah
Sabtu, 28 Februari 2026
Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti
Buka Bersama
Sabtu, 28 Februari 2026
Wamenhaj RI, Dahnil Anzar Simanjuntak
Puasa dan Produktivitas
Jumat, 27 Februari 2026