Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Ichsanuddin Noorsy Ungkap Tujuh Indikator Kerentanan Ekonomi Indonesia

Laporan: Zulhidayat Siregar
Jumat, 27 Februari 2026 | 00:31 WIB
Ekonom politik senior Ichsanuddin Noorsy (pegang mic) berbicara dalam sarasehan "Asta Cita ke-2: Quo Vadis Pembangunan Ekonomi Nasional Indonesia" di Kampus Paramadina Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (25/2).
Ekonom politik senior Ichsanuddin Noorsy (pegang mic) berbicara dalam sarasehan "Asta Cita ke-2: Quo Vadis Pembangunan Ekonomi Nasional Indonesia" di Kampus Paramadina Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (25/2).

RAJAMEDIA.CO - Jakarta - Ekonom politik senior Ichsanuddin Noorsy memaparkan analisa tajam mengenai arah pembangunan ekonomi nasional saat tampil sebagai salah satu pembicara dalam sarasehan "Asta Cita ke-2: Quo Vadis Pembangunan Ekonomi Nasional Indonesia" di Kampus Paramadina Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (25/2).


Dalam paparannya, ia menampilkan kerangka “7 Indikator Kerentanan Ekonomi Indonesia” yang menggambarkan potensi kelumpuhan ekonomi jika tidak dilakukan pembenahan kebijakan secara fundamental.


Ia menyoroti tiga indikator utama kerentanan: depresiasi rupiah yang berkelanjutan, ruang fiskal negara yang semakin sempit akibat beban utang dan bunga, serta krisis kepercayaan publik terhadap sistem ekonomi.


Selain itu, ia memaparkan dampak nyata yang mulai terlihat di masyarakat dan sektor riil. Antara lain menyusutnya kelas menengah hingga jutaan orang, sikap hati-hati sektor perbankan dalam menyalurkan kredit akibat ketidakpastian ekonomi, serta gejala deindustrialisasi dini yang ditandai dengan menurunnya kontribusi sektor manufaktur.


Menurut Ichsanuddin, kondisi tersebut menunjukkan gejala stagnasi struktural yang dapat mempersempit ruang gerak negara dalam mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan. Ia menyebut Indonesia berada dalam situasi “risk-off”, yakni meningkatnya kehati-hatian ekonomi akibat ketidakpastian struktural dan global.


Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa akar persoalan terletak pada ketimpangan kebijakan ekonomi nasional yang berdampak pada kelumpuhan struktural. Disfungsi kebijakan fiskal dan moneter, praktik penguasaan sumber daya strategis oleh elite, melemahnya produktivitas dan inovasi, serta distorsi harga dan daya beli disebut sebagai faktor yang memperlemah daya saing nasional.


Sebagai jalan keluar, Ichsanuddin menekankan pentingnya penguatan pilar daya saing dan ketahanan nasional secara simultan, meliputi modal intelektual, modal sosial, pengelolaan sumber daya alam, efisiensi ekonomi, serta tata kelola pemerintahan yang baik.


Ia juga menyoroti pentingnya harmonisasi antara pendekatan ekonomi syariah, yang menekankan keadilan dan perlindungan ekonomi rakyat, dengan ekonomi konstitusi, yang menegaskan pengelolaan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.


Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta yang menyoroti relevansi gagasan tersebut dalam konteks agenda pembangunan nasional ke depan.


Forum ini diharapkan menjadi ruang refleksi kritis sekaligus kontribusi pemikiran strategis bagi arah pembangunan ekonomi Indonesia menuju sistem ekonomi yang sehat, masyarakat yang berdaya, dan negara yang berdaulat.


Acara sarasehan ini sendiri digelar Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (DN-PIM) bekerja sama dengan Universitas Paramadina. Kegiatan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama ini dihadiri puluhan peserta dari kalangan aktivis, pimpinan organisasi kemasyarakatan, mahasiswa, serta sejumlah guru besar Paramadina.rajamedia

Wamenhaj RI Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan tausiah setelah salat tarawih di Masjid Kampus Universitas Diponegoro (Undip), Semarang pada Senin malam lalu, 23 Februari 2026.
Pos Sebelumnya:
Standar Moral Puasa
Komentar: