Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Skema Pecah Belah Zionis Dibongkar Dubes Iran: Isu Sunni–Syiah Strategi Lemahkan Umat

Laporan: Firman
Jumat, 03 April 2026 | 20:25 WIB
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi - Repro -
Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi - Repro -

RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Isu perpecahan Sunni–Syiah kembali disorot. Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyebut konflik mazhab di dunia Islam bukan terjadi secara alami—melainkan dikondisikan untuk melemahkan umat.
 

Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan di kediaman Din Syamsuddin di kawasan Pondok Labu, Jakarta, Jumat (3/4/2026).
 

“Umat Dipecah, Supaya Mudah Dilemahkan”
 

Boroujerdi menilai narasi perpecahan antarmazhab sengaja dibentuk oleh kekuatan tertentu.
 

“Perpecahan itu diinisiasi dan dikondisikan. Ketika umat tercerai-berai, maka akan lemah,” tegasnya.
 

Ia bahkan menyebut keterlibatan kelompok Zionis dalam menciptakan konflik internal di tubuh umat Islam.
 

Iran Klaim Tak Lagi Bahas Sunni–Syiah
 

Menurut Boroujerdi, di Iran isu Sunni–Syiah sudah tidak lagi menjadi perdebatan.
 

Ia menegaskan masyarakat Iran justru hidup dalam keberagaman:

1. Ada komunitas Ahlussunnah wal Jamaah 

2. Ada kelompok Syiah 

3. Bahkan terdapat pemeluk agama lain 
 

“Iran tidak lagi membahas perbedaan mazhab,” ujarnya.
 

Semua Punya Peran, Termasuk Non-Muslim
 

Boroujerdi juga menyoroti keterlibatan berbagai kelompok dalam sistem negara Iran.
 

Ia menyebut:

1. Perwakilan Ahlussunnah ada di parlemen 

2. Komunitas Nasrani dan Yahudi juga memiliki kursi 

3. Bahkan unsur militer berasal dari berbagai latar belakang 
 

Semua disebut bersatu dalam menjaga negara.
 

Ancaman Tak Pilih Mazhab
 

Dalam konteks konflik, ia mengingatkan bahwa ancaman eksternal tidak membedakan identitas.
 

“Ketika rudal jatuh, tidak memilih Sunni atau Syiah,” katanya.
 

Pesan ini menegaskan pentingnya persatuan di tengah konflik global.
 

Israel Dituding Diskriminatif
 

Boroujerdi juga mengkritik kebijakan Israel yang dinilai membedakan perlakuan berdasarkan identitas.
 

Ia menyinggung adanya aturan yang mengistimewakan kelompok tertentu, sementara pihak lain—terutama Palestina—mendapat perlakuan keras.
 

Di tengah konflik global, narasi perpecahan jadi senjata paling halus—tapi mematikan. Jika umat terus sibuk berdebat identitas, maka yang lain akan diam-diam mengambil kendali. Pertanyaannya: siapa yang diuntungkan dari perpecahan ini?rajamedia

Komentar: