Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Membaca Konflik AS–Israel vs Iran: Perspektif Santri Indonesia

Oleh: Dr. H. Fadlullah, S.Ag., M.Si.
Jumat, 20 Maret 2026 | 19:01 WIB
---
---

RAJAMEDIA.CO - IDUL FITRI 1447 Hijriyah dihrapkan menjadi momentum lahirnya hikmah Balqis, berupa keberanian menghentikan perang dan memulai diplomasi yang bermartabat. Di hari ketika umat kembali kepada fitrah, kemanusiaan seharusnya menemukan jeda untuk menata arah peradaban. Bagi santri Indonesia, kemenangan sejati adalah kemampuan menahan diri dari kehancuran. Dari sinilah harapan peradaban seharusnya dimulai kembali.


Namun di saat umat merayakan kemenangan spiritual, dunia justru diguncang eskalasi konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran. Bagi santri Indonesia, dentuman senjata yang menggantikan gema takbir menjadi tanda bahwa dunia kehilangan keseimbangan moral. Serangan dan balasan merambat ke infrastruktur strategis kawasan. Jalur energi global terancam dan kegelisahan melampaui batas negara. Konflik ini bukan peristiwa lokal, melainkan simpul kepentingan global yang saling bertarung. Dunia tidak kekurangan kekuatan, tetapi kehilangan kebijaksanaan.


Pertanyaan mendasar pun harus diajukan secara jujur. Apakah konflik ini soal keamanan atau perebutan pengaruh kawasan. Apakah narasi global mencerminkan realitas atau sekadar konstruksi politik. Publik sering terjebak dalam dikotomi yang menyesatkan. Dari perspektif santri Indonesia, membaca konflik bukan sekadar mengikuti arus informasi, tetapi menimbangnya dengan kerangka wahyu dan akal sehat. Tanpa kesadaran ini, pembacaan menjadi dangkal. Karena itu diperlukan pendekatan yang kritis dan berlapis.


Konflik ini memperlihatkan wajah invasi modern yang kompleks. Serangan militer berjalan beriringan dengan tekanan ekonomi dan perang narasi. Energi menjadi alat kontrol sekaligus sumber perebutan. Kekuatan tidak hanya hadir melalui senjata, tetapi juga melalui sistem dan informasi. Hegemoni bekerja secara halus dan tidak kasat mata. Bahkan cara berpikir masyarakat dapat diarahkan. Inilah lanskap geopolitik kontemporer.


Di titik ini, kritik geopolitik menjadi penting untuk dikedepankan. Narasi keamanan sering dijadikan legitimasi bagi ekspansi kepentingan. Hegemoni tidak selalu hadir dalam bentuk pendudukan fisik, tetapi melalui pengendalian sistem dan arah kebijakan. Bahkan kesadaran publik dapat diarahkan secara perlahan. Inilah bentuk dominasi yang tidak kasat mata namun sangat kuat. Dunia hari ini berada dalam lanskap seperti ini. Tanpa kewaspadaan, kita mudah terseret arusnya.


Dalam konteks ini, wahyu memberikan kunci pembacaan. QS. An-Naml ayat 34 menjelaskan bahwa penguasa yang memasuki suatu negeri akan merusak dan merendahkan yang mulia. Ayat ini bukan hanya menggambarkan kekuasaan, tetapi membongkar cara kerja dominasi dalam setiap zaman. Kerusakan tidak hanya fisik, tetapi juga penghancuran legitimasi. Kehormatan diruntuhkan melalui opini dan tekanan sistemik. Kekuasaan melemah dari dalam sebelum runtuh dari luar. Inilah bentuk invasi paling halus.


Namun wahyu juga menghadirkan alternatif melalui Ratu Balqis. Ia tidak tergesa memilih perang, tetapi mengedepankan pembacaan situasi dan diplomasi. Kekuatan tetap diakui, tetapi dikendalikan oleh kebijaksanaan. Sejarah menunjukkan bahwa agresi sering melahirkan krisis panjang. Sebaliknya, diplomasi membuka ruang keberlanjutan. Di sinilah arah peradaban ditentukan. Hikmah menjadi kunci.


Teladan ini menemukan bentuk praksis dalam kepemimpinan Nabi Muhammad. Pada fase awal, beliau mengedepankan jihad bil hujjah wal burhan sebelum konfrontasi fisik. Dakwah dibangun di atas fondasi ilmu, kesabaran, dan keteguhan iman. Kesadaran umat ditumbuhkan secara bertahap, bukan dipaksakan secara instan. Strategi ini menunjukkan bahwa perubahan besar dimulai dari pembentukan cara berpikir. Inilah jalan sunyi yang melahirkan peradaban kokoh.


Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah membuktikan bahwa diplomasi dapat menjadi jalan kemenangan strategis. Apa yang tampak sebagai kompromi justru membuka ruang ekspansi dakwah yang luas. Sementara Perang Tabuk menegaskan pentingnya kesiapsiagaan tentara dan tenaga cadangan menghadapi ancaman. Namun dalam situasi genting tersebut, jihad intelektual tidak pernah berhenti. Ilmu tetap menjadi penuntun di tengah tekanan. Keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan menjadi inti kepemimpinan profetik.


Dalam dinamika global, Iran tidak berdiri sendiri. China dan Rusia memberi dukungan politik dan strategis sambil mendorong diplomasi. Mereka menjaga keseimbangan kekuatan global tanpa keterlibatan langsung. Sementara itu, Spanyol bersama Prancis dan Jerman menekankan de-eskalasi, berbeda dari pendekatan Amerika. Dalam banyak kasus, hukum internasional tampak tegas pada yang lemah, namun lentur pada yang kuat. Kepentingan nasional tetap menjadi penentu utama.


Sebaliknya, dunia Arab berada dalam posisi kompleks. Negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, Oman, serta Yordania dan Mesir cenderung berhati-hati. Sebagian memiliki kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat. Ketergantungan ini membatasi ruang gerak politik. Mereka berada di antara stabilitas dan kedaulatan. Inilah realitas geopolitik yang tidak sederhana.


Di sinilah tampak ironi dunia Islam. Solidaritas belum menjadi kekuatan geopolitik yang efektif. Kepentingan nasional lebih dominan daripada persatuan umat. Konflik besar justru memperlihatkan fragmentasi. Tidak terbentuk blok yang solid dan mandiri. Sikap yang diperlukan bukan sekadar keberpihakan emosional, tetapi keberpihakan yang cerdas, adil, dan berlandaskan nilai. Ini menjadi tantangan besar ke depan.


Dalam situasi global ini, pesantren dan santri Indonesia memegang peran strategis. Mereka harus mampu membaca geopolitik secara jernih dan kritis. Tafaqquh fid-din harus dihubungkan dengan realitas global. Pesantren tidak hanya menjaga nilai, tetapi juga membentuk arah peradaban. Kemandirian dan kesiapan bela negara harus ditanamkan. Dengan kesadaran ini, santri tidak sekadar menjadi penonton, tetapi pelaku sejarah yang menentukan arah masa depan. Pada akhirnya, peradaban tidak ditentukan oleh kekuatan semata, tetapi oleh kebijaksanaan dalam mengelola konflik. Wallahu a’lam.

Penulis: Ketua Presidium FSPP Provinsi Bantenrajamedia

Komentar: