Tiga Tungku Kedaulatan Bangsa
RAJAMEDIA.CO - SETIAP kali Rupiah melemah, kegelisahan publik segera terasa di mana-mana. Harga bahan baku naik, biaya produksi membengkak, dan daya beli rumah tangga perlahan tergerus. Bagi pelaku usaha kecil, perubahan kurs bukan sekadar angka di layar perdagangan. Ia menjelma menjadi ongkos yang makin berat dan ketidakpastian yang makin besar. Sejarah menunjukkan bahwa krisis ekonomi tidak selalu datang dengan suara gemuruh. Ia sering berawal dari tanda-tanda kecil yang dianggap biasa. Karena itu, pelemahan Rupiah harus dibaca sebagai peringatan dini bagi kesehatan ekonomi nasional.
Pada 2008, warga Zimbabwe membawa uang 100 triliun dolar ke pasar. Nilai yang tampak fantastis itu tidak cukup untuk membeli sebutir telur. Tabungan rakyat berubah menjadi kertas tanpa makna dalam waktu singkat. Sawah tidak lagi produktif dan toko-toko kehilangan barang dagangan. Kepercayaan terhadap mata uang lenyap lebih cepat daripada kemampuan negara untuk memulihkannya. Tragedi itu bukan bencana alam, melainkan akumulasi kebijakan yang keliru. Zimbabwe mengingatkan bahwa kehancuran ekonomi selalu bermula dari fondasi yang rapuh.
Krisis Zimbabwe terjadi ketika tiga penyangga utama negara runtuh sekaligus. Reformasi agraria dilakukan tanpa persiapan yang memadai dan menghancurkan produksi pangan. Pemerintah kehilangan penerimaan dan memilih mencetak uang untuk menutup defisit. Hukum tidak lagi menjadi rujukan, melainkan tunduk pada kepentingan kekuasaan. Inflasi melonjak dan harga berubah dari pagi ke sore hari. Rakyat lebih percaya pada beras dan dolar asing daripada mata uang sendiri. Ketika moneter, pangan, dan hukum runtuh bersamaan, negara kehilangan kedaulatannya.
Indonesia tentu tidak berada pada situasi yang sama dengan Zimbabwe. Inflasi masih terkendali dan cadangan devisa relatif memadai. Sistem perbankan juga lebih kuat dibandingkan masa krisis 1998. Namun, pelemahan Rupiah tetap perlu dibaca dengan kewaspadaan. Ketergantungan pada impor pangan dan bahan baku masih cukup besar. Korupsi dan lemahnya kepastian hukum belum sepenuhnya teratasi. Karena itu, kita memerlukan fondasi yang lebih kokoh untuk menjaga kedaulatan ekonomi.
Soekarno telah meletakkan arah melalui Trisakti: berdaulat, berdikari, dan berkepribadian. Berdikari berarti mampu memenuhi kebutuhan dasar dengan kekuatan sendiri. Kemandirian ekonomi tidak identik dengan menutup diri dari dunia. Ia berarti kebebasan menentukan arah pembangunan tanpa tekanan berlebihan dari luar. Bangsa yang terlalu bergantung akan mudah goyah ketika dunia bergejolak. Karena itu, berdikari tetap relevan sebagai cita-cita kemerdekaan yang substantif.
Pertanyaan pentingnya adalah apakah kita sudah benar-benar berdikari. Indonesia memiliki tanah subur, laut luas, dan sumber daya alam yang melimpah. Namun, sejumlah komoditas strategis masih bergantung pada pasokan luar negeri. Ketika Rupiah melemah, harga pangan dan energi ikut terdorong naik. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi belum sepenuhnya kokoh. Hilirisasi dan industrialisasi merupakan langkah maju yang perlu diperkuat. Berdikari harus diwujudkan dalam kebijakan, bukan hanya dalam pidato.
Jika Soekarno memberi arah, B. J. Habibie memberi teladan tindakan. Pada saat Indonesia berada di titik terendah, ia berani mengambil keputusan besar. Kepercayaan terhadap perbankan dipulihkan melalui langkah-langkah yang tegas. Independensi Bank Indonesia diperkuat sebagai fondasi stabilitas moneter. Kebebasan pers dan pemilu demokratis membuka jalan reformasi kelembagaan. Habibie menunjukkan bahwa krisis dapat menjadi momentum pembaruan. Keberanian memperbaiki sistem adalah inti kepemimpinan.
Habibie memahami bahwa ekonomi yang sehat memerlukan institusi yang sehat. Kepercayaan publik tidak tumbuh dari slogan, melainkan dari tata kelola yang kredibel. Investor menanamkan modal ketika hukum memberikan kepastian. Rakyat percaya pada mata uang ketika negara dikelola dengan disiplin. Reformasi institusi adalah pekerjaan yang berat, tetapi tidak dapat ditunda. Tanpa kelembagaan yang kuat, kebijakan ekonomi mudah kehilangan arah. Di sinilah pelajaran Habibie tetap relevan hingga hari ini.
Dari pelajaran sejarah itu, saya merumuskan konsep Tiga Tungku Kedaulatan Ekonomi. Tungku pertama adalah moneter dan kepercayaan. Tungku kedua adalah pangan dan kemandirian dasar. Tungku ketiga adalah hukum dan kelembagaan. Ketiganya merupakan fondasi yang menopang kedaulatan ekonomi bangsa. Konsep ini merupakan penajaman praktis dari ajaran berdikari Bung Karno. Sekaligus, ia memetik pelajaran dari keberanian reformasi Habibie dan tragedi Zimbabwe.
Tungku moneter menjaga agar nilai uang tetap dipercaya masyarakat. Tungku pangan memastikan kebutuhan pokok tersedia dengan harga yang terjangkau. Tungku hukum menjamin aturan ditegakkan secara adil dan konsisten. Ketiga tungku ini saling menopang satu sama lain. Stabilitas nilai uang membutuhkan pasokan pangan yang cukup. Produksi pangan memerlukan kepastian hukum dan tata kelola yang bersih. Kedaulatan ekonomi hanya berdiri kokoh jika ketiganya menyala bersama.
Tidak ada gunanya inflasi rendah jika rakyat kesulitan memperoleh pangan. Tidak ada artinya swasembada jika hukum tidak memberi kepastian. Tidak ada institusi yang kuat jika nilai uang kehilangan kepercayaan. Mengabaikan satu tungku berarti melemahkan seluruh sistem. Krisis biasanya dimulai dari satu titik, lalu menjalar ke sektor lain. Karena itu, kebijakan ekonomi harus memandang ketiga tungku sebagai satu kesatuan. Inilah inti dari manajemen risiko ekonomi nasional.
Pelemahan Rupiah hari ini seharusnya dibaca sebagai pengingat, bukan alasan untuk panik. Kita masih memiliki waktu untuk memperkuat fondasi ekonomi. Produksi pangan perlu ditingkatkan secara konsisten. Disiplin fiskal dan moneter harus terus dijaga. Reformasi hukum dan pemberantasan korupsi tidak boleh melemah. Institusi negara harus bekerja lebih efektif dan terpercaya. Dengan demikian, tekanan eksternal tidak mudah mengguncang perekonomian nasional.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia ditentukan oleh jawaban atas tiga pertanyaan besar. Sudahkah kita berdikari seperti yang diajarkan Soekarno? Sudahkah kita berani mereformasi institusi seperti Habibie? Sudahkah kita cukup waspada agar tidak mengulangi tragedi Zimbabwe? Jika jawabannya belum sepenuhnya, maka pekerjaan kita masih panjang. Tiga Tungku Kedaulatan Ekonomi menawarkan arah yang jelas dan terukur. Jika ketiga tungku itu terus dijaga, Indonesia dapat tumbuh sebagai bangsa yang benar-benar merdeka.
Penulis: Ketua KOPMA IAIN Jakarta 1997–1998![]()
Olahraga | 1 hari yang lalu
Keamanan | 3 hari yang lalu
Keamanan | 2 hari yang lalu
Olahraga | 1 hari yang lalu
Parlemen | 3 hari yang lalu
Info Haji | 5 hari yang lalu
Keamanan | 5 hari yang lalu
Parlemen | 3 hari yang lalu
Olahraga | 4 hari yang lalu