Puasa dan Moral Kedermawanan
RAJAMEDIA.CO - "Dan mereka bertanya kepadamu tentang aра yang harus mereka nafkahkan. Katakanalah; yang lebih dari keperluan" (QS Al Baqarah ayat 219)
Ayat di atas diriwayatkan, bahwa Mu'adz Bin Jabal dan Tsa'labah datang menghadap Rasulullah, lalu berkata: "Ya Rasulullah, kami punya banyak harta, lalu harta benda mana yang harus kami keluarkan?" maka, turunlah ayat di atas.
Banyak cerita moral kedermawanan yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Moral kedermawanan yang diwujudkan melalui pemberian barang-barang kesenangan dan kesayangan yang mereka miliki seringkali kita dengar. Pesan dan akhlak memberikan yang terbaik untuk didermakan menjadi kedermawanan yang dimiliki oleh Rasullulah SAW dan para Sahabat, (QS Al Baqarah ayat 267).
Kita seringkali membaca riwayat bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabat tidak ragu dan sungkan untuk memberikan sebagian harta-harta mereka untuk kepentingan orang-orang miskin atau perjuangan Islam. Abu Bakar bahkan rela memberikan sebagian besar hartanya untuk kepentingan perjuangan Islam dan umat Islam saat itu. Demikian pula dengan Umar bin Khattab, Utsman bin Affan maupun Ali bin Abi Thalib serta para sahabat lainnya.
Rasanya sulit melihat karakter kedermawanan seperti itu hadir saat ini. Tetapi dunia sempat terenyuh ketika orang terkaya di dunia, Bill Gates, mengajak orang-orang kaya di dunia untuk menyumbangkan sebagian dari hartanya untuk kepentingan sosial. Nilai itu lahir dari seorang yang saya yakin tidak begitu mengenal tradisi moral kedermawanan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.
Dan agaknya hari ini karakteristik kedermawanan ini menjadi "rahasia" sukses sebagian orang-orang besar dan super kaya di dunia ini. Ketika ditanya bagaimana mereka mampu menjaga kesuksesan dan kekayaan mereka, kebanyakan dari mereka selalu menjawab dengan merawat perilaku memberi.
Sahabat, pertanyaan mendasarnya mengapa Rasulullah SAW dan para sahabat begitu yakin dan rela menunjukkan moral kedermawanan yang bagi orang biasa seperti kita, berlebihan, mungkin karena kekikiran kita.
Ada dua karakter moral yang dimiliki oleh Rasulullah SAW dan para sahabat sehingga memiliki moral kedermawanan yang luar biasa (extraordinary).
Pertama. Rasullulah SAW dan para sahabat percaya betul bahwa Allah SWT Maha Pemberi Rezeki. Dan mereka tidak pernah takut untuk menjadi miskin karena karunia Allah SWT selalu dijanjikan untuk mereka (QS Al Baqarah ayat 267). Keimanan yang begitu kuat terhadap Allah SWT memberikan kekuatan penuh kepada Rasulullah SAW dan para sahabat untuk memberikan semua yang terbaik yang mereka miliki untuk kepentingan umat dan perjuangan Islam.
Karena mereka yakini semua yang mereka miliki adalah milik Allah SWT yang dititipkan. Dan setiap saat ketika Allah SWT percaya dengan kemampuan mereka menjaga amanah akan harta benda, maka harta benda tersebut akan mampir kembali kepada mereka yang kemudian akan dipergunakan untuk kebajikan.
Kedua. Menurut saya, ada energi kepercayaan diri yang begitu kuat. Yakni energi kreativitas dan produktivitas yang tinggi. Rasulullah SAW dan para sahabat terkenal merupakan sosok-sosok pedagang yang tangguh, pengusaha yang terpercaya dan dipercaya. Mereka yakni betul dengan kemampuan mereka untuk kembali menghasilkan harta-harta yang halal melalui kerja keras.
Moral kedermawanan telah mendorong mereka untuk kembali bekerja keras dengan kreativitas dan produktivitas yang tinggi sehingga kembali mampu mengumpulkan harta benda yang cukup, yang kemudian digunakan kembali untuk kebajikan.
Agaknya moral kedermawanan yang juga ditunjukkan oleh tokoh-tokoh non-muslim seperti Bill Gates, lahir dari kepercayaan diri dan kemampuan diri untuk kembali menghasilkan lebih banyak. Mereka memiliki produktivitas dan kreativitas yang sangat tinggi dan percaya dengan kemampuan mereka sendiri.
Sahabat, agaknya puasa di bulan Ramadhan ini mengajarkan, bukan saja moral kedermawanan, tetapi mengajarkan determinasi yang menyebabkan moral kedermawanan itu lahir, yakni keimanan kepada Allah SWT yang begitu kuat dan kepercayaan diri akan kemampuan diri melalui sikap moral kreatif dan produktif.
Semuanya tersedia di bulan Ramadhan melalui deretan ritual ibadah yang diperintahkan di dalamnya. Tinggal sensitivitas kita untuk menemukenali hikmah itu dan menjadikannya bagian dari moral kita sebagai umat Islam. Fastabiqul khoirot.
Catatan: Tulisan Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak ini diambil dari salah satu bukunya yang berjudul “Menggembirakan Puasa” (2017).![]()
Dunia 2 hari yang lalu
Opini | 3 hari yang lalu
Olahraga | 4 hari yang lalu
Nasional | 4 hari yang lalu
Nasional | 6 hari yang lalu
Nasional | 5 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Hukum | 4 hari yang lalu
Opini | 3 hari yang lalu
Opini | 2 hari yang lalu