Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Ketika Jersey Mengajarkan Nasionalisme

Oleh: Abdul Rozak
Rabu, 08 Juli 2026 | 12:13 WIB
Foto ilustrasi - RMN -
Foto ilustrasi - RMN -

RAJAMEDIA.CO - SETIAP empat tahun sekali, dunia meski dalam hiruk pikuk berbagai persoalan akibat berbagai faktor seolah lepas dan memiliki kalendernya sendiri. Ritme kehidupan manusia di berbagai penjuru dunia berubah, jam biologis bergeser, dan waktu istirahat rela dikorbankan demi untuk mengikuti perhelatan akbaar kejuaraan Piala Dunia Sepak Bola. Ketika Piala Dunia digelar oleh FIFA, jutaan orang di berbagai belahan dunia dengan sukarela menyesuaikan aktivitasnya demi menyaksikan pertandingan yang hanya berlangsung sekali dalam empat tahun. Tidak sedikit dari mereka yang rela begadang hingga dini hari, meskipun keesokan paginya tetap harus bekerja di berbagai tempat, mengajar, kuliah, berdagang, atau menjalankan berbagai aktivitas lainnya.
 

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Piala Dunia telah melampaui batas rasionalitas sebagai sekadar kompetisi olahraga biasa. Ia telah berkembang menjadi peristiwa budaya global yang mampu menghadirkan pengalaman kolektif, membangun ikatan emosional, sekaligus mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang dalam satu kegembiraan yang sama dan dari latar yang berbeda. Selama satu bulan penyelenggaraan turnamen, sepak bola menjadi bahasa universal yang dipahami oleh miliaran manusia tanpa memandang negara, agama,budaya, etnisitas,  profesi, maupun status sosial.

Kejuaraan sepak bola paling bergengsi di dunia ini diselenggarakan oleh Fédération Internationale de Football Association (FIFA) dalam periode setiap empat tahun sekali. Gagasan penyelenggaraannya pertama kali dipelopori oleh Jules Rimet, Presiden FIFA periode 1921–1954, yang kemudian namanya diabadikan sebagai trofi pertama Piala Dunia kejuaraan sepak bola , sehingga disebut denganJules Rimet Trophy. Turnamen perdana Piala Dunia berlangsung pada tahun 1930 di Uruguay dan diikuti oleh 13 negara. Sejak saat itu, Piala Dunia berkembang menjadi ajang olahraga bergengsi dan terbesar yang selalu dinantikan masyarakat dunia internasional termasuk masyarakat Indonesia. Kejuaraan Piala Dunia sempat tidak dilaksanakan pada tahun 1942 dan 1946 akibat Perang Dunia II.
 

Perjalanan panjang kejuaraan sepak bola Piala Dunia juga melahirkan berbagai catatan bersejarah. Brasil menjadi negara pertama yang meraih tiga gelar juara sehingga berhak memiliki Jules Rimet Trophy secara permanen pada tahun 1970. Selanjutnya sejak 1974 ada perubahan trofi kejuaraan dimana mulai digunakan trofi baru yang kini dikenal sebagai *_FIFA World Cup Trophy_* . Peraih trofi kejuaraan sejak awal hingga Piala Dunia 2022, hanya delapan negara yang pernah menjadi juara dunia, sementara Brasil masih tercatat sebagai negara dengan koleksi gelar juara terbanyak sekaligus satu-satunya negara yang selalu tampil pada setiap putaran final sejak turnamen pertama hingga 2022.
 

Pada kejuaraan sepak bola Piala Dunia 2026 ini menjadi tonggak sejarah baru karena diselenggarakan bersama oleh tiga negara yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan jumlah peserta bertambah dari 32 menjadi 48 negara. Ini jumlah peserta terbesar sepanjang sejarah Piala Dunia. Negara dengan Gelar Juara Piala Dunia Terbanyak (hingga 2022) yaitu Brazil 5 kali juara, Jerman 4 kali juara, Italia 4 kali juara, Argentina 3 kali juara, Uruguay 2 kali juara, Perancis 2 kali juara, Inggris 1 kali juara, Spanyol 1 kali juara. Hingga Piala Dunia 2022, hanya 8 negara yang pernah menjadi juara dunia. Brasil adalah satu-satunya negara yang selalu lolos ke setiap putaran final Piala Dunia sejak 1930. 
 

Piala Dunia 2026 kembali mencatat sejarah baru. Untuk pertama kalinya turnamen diselenggarakan secara bersama oleh tiga negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—serta diikuti oleh 48 peserta, meningkat dari 32 negara pada edisi sebelumnya. Perubahan tersebut bukan hanya memperluas partisipasi negara peserta, tetapi juga mempertegas posisi kejuaraan sepak bola Piala Dunia sebagai perhelatan olahraga terbesar yang mampu menyatukan perhatian masyarakat global.
 

Namun, daya tarik Piala Dunia sesungguhnya tidak hanya terletak pada trofi yang diperebutkan atau negara yang akhirnya keluar sebagai juara. Ada kisah-kisah kecil yang justru lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Kisah tentang orang-orang yang rela menukar waktu tidur dengan sembilan puluh menit pertandingan, tentang ruang keluarga yang berubah menjadi tribun stadion, tentang obrolan panjang di warung kopi, kafe, dan arena nonton bareng yang dipenuhi tawa, sorak kemenangan, bahkan kekecewaan ketika tim favorit harus pulang lebih awal.
 

Di Indonesia, suasana seperti itu selalu hadir setiap kali Piala Dunia berlangsung. Perbedaan zona waktu membuat sebagian besar pertandingan digelar ketika malam telah larut. Namun kondisi tersebut tidak pernah mengurangi antusiasme para pencinta sepak bola. Justru pada saat itulah muncul tradisi yang selalu dirindukan: secangkir kopi yang mengepul, semangkuk mi instan yang hangat, layar televisi atau gawai yang menyala, serta kebersamaan yang lahir tanpa direncanakan.
 

Bagi pencinta sepak bola di Indonesia, Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan tantangan klasik. Banyak pertandingan berlangsung ketika sebagian besar orang seharusnya sedang terlelap menikmati istirahat malam. Namun, bagi mereka yang sudah jatuh cinta pada sepak bola, rasa kantuk hanyalah lawan kecil yang mudah dikalahkan.
 

Maka lahirlah “tim nasional” yang sesungguhnya di ruang-ruang keluarga atau melalui skema NOBAR dan bisa juga di Cafe para pencinta sepak bola dengan ditemani secangkir kopi yang mengepul, semangkuk mie instan rebus atau goreng yang masih hangat dengan disertakan telur ayam, televisi atau gawai yang menyala, dan sekelompok orang yang siap begadang hingga dini hari. Mereka mungkin bukan pemain di lapangan, tetapi pem,ain dalam imajinasi dengan semangatnya tak kalah besar dengan semangat yang sesungguhnya pada diri sebelas pemain yang sedang mengejar kemenangan.
 

Kopi menjadi “kapten tim” yang menjaga mata tetap terbuka. Mie instan atau menu makanan lain menjadi “penyerang” yang menghalau rasa lapar ketika pertandingan memasuki babak pertama hingga tambahan waktu. Sementara itu, sofa ruang tamu atau ruang keluarga bahkan di lapangan halaman NOBAR dan Cafe berubah menjadi tribun stadion, tempat berbagai emosi bertanding tanpa jeda.
 

Kopi, Mi Instan, dan Cinta yang Tak Pernah Offside dalam Piala Dunia 2026. Kopi dan mi instan akhirnya menjadi lebih dari sekadar teman begadang. Keduanya menjelma menjadi simbol sederhana dari sebuah pengorbanan kecil yang dilakukan dengan penuh kerelaan. Tidak ada kewajiban untuk begadang, tidak ada hadiah yang menanti setelah pertandingan usai, dan tidak ada kompensasi atas rasa kantuk yang harus dibayar keesokan harinya. 
 

Namun jutaan orang tetap memilih melakukannya. Mereka sadar akan konsekuensinya, tetapi kecintaan terhadap sepak bola selalu menemukan alasan untuk tetap terjaga hingga peluit panjang dibunyikan. Di sinilah Piala Dunia memperlihatkan wajahnya yang paling manusiawi. Kejuaraan sepak bola Piala Dunia  bukan sekadar panggung persaingan antarnegeri, melainkan ruang yang memperlihatkan bagaimana olahraga mampu membangun loyalitas, komitmen, kebersamaan, kesetiaan tinggi dan harapan. Dalam ruang-ruang sederhana itulah makna Piala Dunia sesungguhnya mulai menemukan bentuknya. Inilah karakter terpenting yang terbangun pada diri setiap warga negara dari ajang Piala Dunia yang semestinya terbangun tidak saja dan selesai hanya pada ajang Piala Dunia  melainkan terus berkelanjutan dalam aspek kehidupan lainnya.
 

Penulis: Dosen senior Civic Education Fakultas Tarbiyah UIN Jakarta
 

RAJA MEDIA I Opini 2026rajamedia

Komentar: