Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Zakat Tak Lagi Sekadar Sedekah! BAZNAS–BSI Gaspol Jadikan Mesin Ekonomi Umat

Laporan: Zulhidayat Siregar
Jumat, 03 April 2026 | 07:46 WIB
Pimpinan BAZNAS, Rizaludin Kurniawan - Foto: Dok. BAZNAS -
Pimpinan BAZNAS, Rizaludin Kurniawan - Foto: Dok. BAZNAS -

RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Zakat tak lagi sekadar urusan berbagi. Kini, zakat didorong naik kelas—menjadi motor penggerak ekonomi umat yang berkelanjutan.
 

Pesan itu menguat dalam talkshow bertajuk “Beyond Charity: Transformasi Zakat untuk Ekonomi Umat Berkelanjutan” yang digelar Badan Amil Zakat Nasional bersama Bank Syariah Indonesia di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
 

Zakat Bukan Sekadar Ibadah, Tapi Instrumen Sosial
 

Pimpinan BAZNAS, Rizaludin Kurniawan, menegaskan zakat punya dimensi lebih luas dari sekadar kewajiban personal.
 

“Zakat adalah jembatan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial,” ujarnya.
 

Menurutnya, zakat harus mampu menghadirkan keberkahan sekaligus kesejahteraan bagi masyarakat.
 

Tak Cukup Himpun, Harus Berdampak
 

Rizaludin menekankan, pengelolaan zakat tak boleh berhenti di pengumpulan dana.
 

Harus ada:
 

1. Transparansi 

2. Profesionalisme 

3. Dampak nyata bagi mustahik 

“Zakat harus memberi ketenangan bagi muzaki dan manfaat nyata bagi penerima,” tegasnya.
 

Potensi Ratusan Triliun, Harus Dioptimalkan
 

Potensi zakat nasional disebut mencapai ratusan triliun rupiah.
 

Sumbernya beragam:
 

1. Pendapatan individu 

2. Korporasi 

3. Pertanian 

4. Tabungan 
 

Namun, potensi besar ini baru bisa maksimal jika didukung:
 

1. Ekosistem zakat yang kuat 

2. Kolaborasi dengan lembaga keuangan syariah 

3. Digitalisasi layanan 

4. SDM pengelola yang profesional 
 

Arah Baru: Mustahik Jadi Muzaki
 

Inilah transformasi besar yang didorong BAZNAS.
 

Zakat tidak lagi sekadar bantuan konsumtif—tapi menjadi alat pemberdayaan ekonomi.
 

Targetnya jelas: Mustahik (penerima zakat) naik kelas menjadi muzaki (pembayar zakat).
 

BSI Perkuat Kolaborasi dan Digitalisasi
 

Dari sisi perbankan, Direktur Retail Banking BSI, Kemas Erwan Husainy, menegaskan komitmen memperkuat ekosistem zakat nasional.

“Kolaborasi kami bukan hanya menghimpun, tapi juga memastikan penyaluran berdampak,” ujarnya.
 

Program yang didorong meliputi:
 

1. Pemberdayaan ekonomi 

2. Pendidikan 

3. Penguatan kapasitas mustahik 
 

Zakat Makin Mudah Lewat Digital
 

BSI juga menghadirkan inovasi digital untuk memudahkan masyarakat:
 

1. Kalkulator zakat 

2. Pembayaran otomatis 

3. Sistem penyaluran terintegrasi 
 

Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.
 

Sinergi Jadi Kunci
 

Acara ini juga dihadiri jajaran pimpinan kedua lembaga, termasuk Ketua BAZNAS RI dan Direktur Utama BSI.
 

Kolaborasi lintas sektor dinilai sebagai kunci agar zakat benar-benar menjadi kekuatan ekonomi umat.
 

Jika zakat dikelola serius, ini bukan sekadar amal—tapi kekuatan ekonomi. Dari masjid ke pasar, dari sedekah ke kemandirian. Zakat yang dulu konsumtif, kini ditantang jadi produktif. Dan di situlah masa depan umat dipertaruhkan.rajamedia

Komentar: