Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Willy Aditya Sentil BPIP! Jangan Asumtif, Ideologi Pancasila Harus Berbasis Riset Ilmiah

Laporan: Halim Dzul
Senin, 13 April 2026 | 22:25 WIB
Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya - Humas DPR -
Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya - Humas DPR -

RAJAMEDIA.CO — Jakarta, Legislatot — Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, melontarkan kritik tajam ke Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Ia meminta pendekatan pembinaan ideologi Pancasila tak lagi sekadar asumsi, tapi berbasis riset ilmiah yang kuat.
 

Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung Nusantara II, Senayan, Senin (13/4/2026).
 

Stop Sosialisasi Seremonial, Perkuat Riset
 

Willy menilai selama ini pendekatan BPIP masih terlalu normatif dan seremonial.
 

Ia mendorong pergeseran besar:
 

1. Dari sosialisasi → ke riset mendalam 

2. Dari asumsi → ke pendekatan ilmiah (scientific approach
 

Menurutnya, kebijakan ideologi tidak boleh dibangun di atas asumsi.
 

“Harus ada assessment kuat, gabungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif,” tegasnya.
 

Neuroscience hingga Digital Life Harus Masuk
 

Di era teknologi, Willy menilai BPIP harus naik level.
 

Ia bahkan mendorong penggunaan pendekatan modern seperti: riset berbasis neuroscience, analisis perilaku di kehidupan digital, dan adaptasi nilai gotong royong dalam dunia sosial dan digital. 
Pesannya jelas: ideologi harus relevan dengan zaman, bukan sekadar slogan.
 

Ideologi Butuh Aktor Nyata, Bukan Wacana
 

Willy juga mengingatkan bahwa dalam teori ideologi ada dua pilar utama: Dominasi dan Hegemoni. 
 

Pertanyaannya, siapa yang menjadi “backbone” pelaksana Pancasila?
 

Ia khawatir tanpa aktor nyata, kebijakan ideologi hanya akan mengambang tanpa arah.
 

Turbulensi Pancasila vs Realitas Ekonomi
 

Sorotan lain: adanya benturan antara nilai Pancasila dengan realitas sosial-ekonomi yang makin liberal.
 

Menurut Willy, kondisi ini tidak bisa dibiarkan.
 

Harus ada sinkronisasi konkret dan  terjemahan nilai ke aksi nyata di lapangan 
 

Usul Rembuk Nasional: Libatkan Semua Pihak
 

Sebagai solusi, Willy mengusulkan langkah besar: rembuk nasional.
 

Tujuannya:
 

1. Melibatkan civil society 

2. Dunia usaha 

3. Pemerintah 

4. Elemen politik 
 

“Jangan jadi klaim segelintir. Harus partisipatif dan dialog dari hati ke hati,” tegasnya.
 

Pesan Keras: Pancasila Harus Ilmiah dan Membumi
 

Willy menutup dengan pesan kuat: pembinaan ideologi tidak bisa lagi normatif.
 

Harus ilmiah, terukur, relevan dengan zaman.
 

Jika tidak, Pancasila hanya akan jadi wacana—tanpa daya hidup di tengah masyarakat.rajamedia

Komentar: