Survei IPO: 58 Persen Responden Kesulitan Memenuhi Kebutuhan Pokok
RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Tekanan ekonomi rumah tangga masih menjadi persoalan yang dirasakan masyarakat. Survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan, sebanyak 58 persen responden mengaku mengalami keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan masyarakat menjaga kecukupan kebutuhan dasar masih menjadi tantangan. Di tengah gambaran kondisi ekonomi nasional yang dinilai positif oleh mayoritas responden, survei ini mengungkap adanya persoalan daya beli di tingkat rumah tangga.
Dalam rilis bertajuk Refleksi dan Evaluasi Publik: Dua Tahun Kabinet Merah Putih, IPO menanyakan apakah kondisi keuangan responden saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Sebanyak 58 Persen Mengalami Keterbatasan
Berdasarkan hasil survei, sebanyak 36 persen responden menyatakan kondisi keuangan mereka cukup mencukupi, tetapi masih terbatas. Sementara itu, 15 persen mengaku tidak mencukupi dan 7 persen menyatakan sangat tidak mencukupi.
Jika dua kategori terakhir digabungkan, terdapat 22 persen responden yang secara tegas menyatakan keuangan mereka tidak mencukupi atau sangat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Secara keseluruhan, IPO mencatat 58 persen responden mengalami keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Angka ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi tidak cukup dilihat dari penilaian terhadap kondisi nasional. Kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi ukuran penting untuk memahami tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Hanya 42 Persen Merasa Keuangannya Mencukupi
Di sisi lain, sebanyak 42 persen responden menyatakan kondisi keuangan mereka mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Rinciannya, 40 persen responden merasa uang yang dimiliki mencukupi, sedangkan 2 persen lainnya menyatakan kondisi keuangannya sangat mencukupi.
Dengan demikian, proporsi responden yang mengalami keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan pokok lebih tinggi 16 poin persentase dibandingkan kelompok yang merasa mampu memenuhinya.
Perbedaan tersebut menjadi catatan penting bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama terkait harga kebutuhan pokok, pendapatan, dan daya beli.
Persepsi Ekonomi Nasional dan Kondisi Rumah Tangga
Temuan mengenai kecukupan keuangan rumah tangga menarik jika dibandingkan dengan penilaian responden terhadap kondisi ekonomi nasional.
Dalam bagian survei yang berbeda, IPO mencatat 67 persen responden menilai kondisi ekonomi secara umum baik atau sangat baik. Sebanyak 28 persen menilainya buruk, 4 persen sangat buruk, dan 1 persen tidak tahu atau tidak menjawab.
Di satu sisi, mayoritas responden memberikan penilaian positif terhadap kondisi ekonomi nasional. Namun, di sisi lain, 58 persen mengaku mengalami keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Kedua temuan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara penilaian terhadap ekonomi secara umum dan pengalaman keuangan di tingkat rumah tangga.
Meski demikian, hasil tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa persepsi ekonomi nasional bertentangan dengan kondisi keuangan keluarga. Pertanyaan yang diajukan mengukur aspek berbeda, sehingga perlu dibaca secara proporsional.
Namun, data ini menjadi pengingat bahwa penilaian positif terhadap ekonomi nasional perlu diikuti dengan upaya memastikan manfaat pertumbuhan dan kebijakan ekonomi dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Pengendalian Harga dan Daya Beli Jadi Perhatian
Dalam rilisnya, IPO menilai temuan tersebut menjadi sinyal bagi pemerintah untuk memperkuat kebijakan pengendalian harga bahan pokok, menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan masyarakat, serta memastikan bantuan sosial tepat sasaran bagi kelompok rentan.
Langkah tersebut penting karena kecukupan keuangan rumah tangga berkaitan erat dengan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar.
Kebijakan ekonomi pada akhirnya tidak hanya dinilai melalui indikator makro, tetapi juga dari kemampuan masyarakat membeli bahan pangan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menjaga keberlangsungan hidup sehari-hari.
Karena itu, hasil survei ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk memastikan kebijakan ekonomi tidak berhenti pada persepsi positif terhadap kondisi nasional, tetapi juga menjawab persoalan daya beli yang masih dirasakan sebagian besar responden.
Metodologi Survei
Survei IPO bertajuk Refleksi dan Evaluasi Publik: Dua Tahun Kabinet Merah Putih dilaksanakan pada 12–20 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden.
Survei menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error sekitar ±2,9 poin persentase pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasil survei menggambarkan jawaban responden selama periode pengumpulan data. Temuan ini perlu dipahami sesuai pertanyaan yang diajukan dan tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh faktor yang memengaruhi kondisi keuangan rumah tangga.
RAJA MEDIA — Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Politik 1 hari yang lalu
Olahraga | 5 hari yang lalu
Olahraga | 6 hari yang lalu
Olahraga | 6 hari yang lalu
Politik | 3 hari yang lalu
Politik | 2 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu
Politik | 6 hari yang lalu
Politik | 3 hari yang lalu
Olahraga | 6 hari yang lalu
