Survei IPO: 71 Persen Responden Tidak Puas terhadap Kinerja Gibran
RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum evaluasi publik. Survei Indonesia Political Opinion (IPO) periode 12–20 Oktober 2026 mencatat, 71 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kinerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam laporan bertajuk Refleksi dan Evaluasi Publik: Dua Tahun Kabinet Merah Putih, sebanyak 53 persen responden menyatakan tidak puas dan 18 persen sangat tidak puas terhadap kinerja Gibran. Sementara itu, 19 persen menyatakan puas, tidak ada responden yang menyatakan sangat puas, dan 10 persen tidak tahu atau tidak menjawab.
Temuan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam evaluasi perjalanan pemerintahan Prabowo-Gibran sejak dilantik pada Oktober 2024.
Ketidakpuasan terhadap Kondisi Ekonomi
Survei IPO juga menggambarkan tantangan pemerintah dalam memenuhi harapan masyarakat di bidang ekonomi.
Sebanyak 37 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kondisi ekonomi saat ini dan 4 persen sangat tidak puas. Sebaliknya, 23 persen menyatakan puas dan 6 persen sangat puas. Adapun 28 persen responden menyatakan cukup puas, sedangkan 2 persen tidak tahu atau tidak menjawab.
Dengan demikian, total responden yang menyatakan tidak puas mencapai 41 persen, lebih tinggi dibandingkan gabungan responden yang menyatakan puas atau sangat puas, yakni 29 persen.
Data ini menunjukkan bahwa penilaian terhadap kondisi ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah di tengah pelaksanaan program prioritas nasional.
Penanganan Bencana Mendapat Penilaian Rendah
Dalam penilaian terhadap sejumlah bidang pemerintahan, laporan IPO menempatkan penanganan bencana sebagai salah satu sektor yang memperoleh penilaian relatif rendah.
Sebanyak 58 persen tercatat memberikan nilai C–D terhadap upaya pemerintah dalam penanganan bencana. Sebaliknya, ketahanan pangan menjadi salah satu bidang dengan porsi nilai B terbesar, yakni 63 persen.
Sementara itu, pembangunan dan kesejahteraan desa mencatat porsi nilai A terbesar, yaitu 32 persen.
Perbedaan penilaian ini memperlihatkan bahwa persepsi masyarakat terhadap kinerja pemerintah tidak seragam di setiap sektor. Ada bidang yang mendapat penilaian relatif baik, tetapi ada pula yang dinilai masih memerlukan perbaikan.
Amran Sulaiman dan Bahlil Masuk Daftar Menteri dengan Penilaian Tertinggi
Dalam penilaian terhadap kinerja menteri, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperoleh angka tertinggi pada kategori menteri yang dinilai bekerja paling baik, yakni 33 persen.
Posisi berikutnya ditempati Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono sebesar 25,2 persen serta Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sebesar 24,5 persen.
Adapun dalam kelompok menteri bidang ekonomi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memperoleh penilaian tertinggi sebesar 31,1 persen. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berada di posisi berikutnya dengan 4,5 persen.
Namun, laporan tersebut juga menunjukkan tingginya proporsi responden yang tidak tahu atau tidak menjawab pada sejumlah kategori penilaian menteri. Karena itu, angka-angka tersebut perlu dibaca sesuai basis respon yang dicantumkan dalam laporan survei.
Raja Juli Antoni Paling Banyak Disebut Bekerja Buruk
Pada kategori menteri yang dinilai bekerja paling buruk, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memperoleh angka 36,6 persen. Berikutnya, Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai mencatat 21,8 persen.
Dalam laporan yang sama, Raja Juli Antoni juga masuk dalam daftar menteri yang paling banyak disebut responden ketika diminta menilai kinerja buruk.
Temuan tersebut merupakan persepsi responden dalam survei dan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kinerja seorang pejabat secara objektif buruk. Penilaian tersebut tetap perlu ditempatkan dalam konteks pertanyaan, basis respon, dan metodologi yang digunakan.
Elektabilitas Prabowo dan Peta Politik Nasional
Survei IPO turut memotret pilihan responden jika pemilihan presiden dilaksanakan saat survei berlangsung.
Dalam pertanyaan dengan daftar nama yang disediakan, Dedi Mulyadi memperoleh 32 persen, disusul Prabowo Subianto sebesar 18,4 persen dan Anies Baswedan 12,6 persen. Sementara itu, Gibran Rakabuming Raka memperoleh 3,1 persen.
Pada pertanyaan terbuka atau top of mind, Dedi Mulyadi tercatat memperoleh 33,7 persen, Prabowo 14,5 persen, dan Anies 11,3 persen.
Hasil tersebut menggambarkan preferensi responden pada saat survei dilakukan. Angka itu bukan hasil pemilihan umum dan tidak dapat diperlakukan sebagai prediksi pasti hasil pemilu mendatang.
Untuk elektabilitas partai politik, Partai Gerindra memperoleh 23,1 persen, diikuti PDI Perjuangan sebesar 11,6 persen dan Partai Golkar 10,7 persen.
Survei Libatkan 1.200 Responden
IPO menyebut survei dilakukan pada 12–20 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden. Laporan mencantumkan metode multistage random sampling, tingkat kepercayaan 95 persen, dan margin of error sekitar ±2,9 persen.
Survei tersebut dirancang untuk memetakan persepsi masyarakat terhadap kinerja pemerintahan, kepercayaan publik, kondisi sosial-ekonomi, serta dinamika politik nasional.
Hasilnya memberikan gambaran mengenai sejumlah persoalan yang perlu menjadi bahan evaluasi pemerintah. Namun, setiap angka perlu dibaca dengan memperhatikan rumusan pertanyaan, basis respon, dan kategori penilaian yang digunakan.
Memasuki tahun ketiga pemerintahan, tantangan Prabowo-Gibran bukan hanya menjalankan program prioritas, tetapi juga memastikan kebijakan menjawab kebutuhan masyarakat dan meningkatkan kepercayaan publik.
RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Nasional | 1 minggu yang lalu
Parlemen | 1 minggu yang lalu
Peristiwa | 6 hari yang lalu
Olahraga | 1 minggu yang lalu
Politik | 1 minggu yang lalu
Olahraga | 1 minggu yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Olahraga | 4 hari yang lalu
Opini | 6 hari yang lalu

