Survei IPO: Dua Tahun Prabowo-Gibran Memerintah, Mengapa Penilaian Publik Berbeda?
RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyisakan catatan penting dalam evaluasi opini publik. Survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan, penilaian masyarakat terhadap kinerja keduanya tidak sepenuhnya sama.
Dalam survei bertajuk Refleksi dan Evaluasi Publik: Dua Tahun Kabinet Merah Putih, tingkat kepuasan terhadap Prabowo tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan Gibran. Namun, ketidakpuasan terhadap kinerja keduanya justru mendominasi hasil survei.
Temuan ini memunculkan pertanyaan: mengapa penilaian publik terhadap presiden dan wakil presiden berbeda, padahal keduanya menjalankan pemerintahan dalam satu kepemimpinan nasional?
Kepuasan terhadap Prabowo Hanya 33 Persen
Berdasarkan hasil survei IPO, sebanyak 28 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Sementara itu, 5 persen menyatakan sangat puas.
Dengan demikian, total kepuasan terhadap kinerja Prabowo mencapai 33 persen.
Di sisi lain, 61 persen responden menyatakan tidak puas dan 6 persen sangat tidak puas. Jika digabungkan, ketidakpuasan terhadap kinerja Presiden mencapai 67 persen.
Angka tersebut memperlihatkan adanya jarak antara dukungan politik terhadap kepemimpinan nasional dan penilaian masyarakat terhadap pelaksanaan pemerintahan.
Tingkat kepuasan ini juga perlu dibaca bersama persoalan yang dianggap mendesak oleh masyarakat, seperti pengendalian harga bahan pokok, pemberantasan korupsi, penciptaan lapangan kerja, dan pengurangan kemiskinan.
Artinya, penilaian terhadap presiden tidak hanya berkaitan dengan citra kepemimpinan, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh sejauh mana kebijakan pemerintah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Penilaian terhadap Gibran Lebih Rendah
Sementara itu, hasil survei IPO menunjukkan tingkat kepuasan terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada pada angka 19 persen. Tidak ada responden yang menyatakan sangat puas, atau 0 persen.
Sebaliknya, sebanyak 53 persen responden menyatakan tidak puas dan 18 persen sangat tidak puas. Total ketidakpuasan terhadap kinerja Gibran mencapai 71 persen.
Adapun 10 persen responden menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.
Jika dibandingkan dengan Prabowo, tingkat kepuasan terhadap Gibran lebih rendah 14 poin persentase. Sementara itu, ketidakpuasan terhadap Gibran lebih tinggi 4 poin persentase.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa publik memberikan penilaian yang tidak seragam terhadap dua pejabat yang berada dalam satu pemerintahan.
Namun, angka tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab penilaian yang berbeda. Untuk mengetahui faktor yang memengaruhinya, diperlukan informasi lebih terperinci mengenai persepsi masyarakat terhadap peran, kontribusi, komunikasi, dan kinerja masing-masing pemimpin.
Mengapa Penilaian Keduanya Berbeda?
Ada beberapa kemungkinan yang dapat digunakan untuk membaca perbedaan penilaian tersebut. Namun, hal-hal berikut merupakan analisis, bukan kesimpulan sebab-akibat yang dibuktikan langsung oleh angka survei.
Pertama, perbedaan peran dan tanggung jawab.
Presiden merupakan pemimpin tertinggi pemerintahan yang menjadi rujukan utama masyarakat dalam menilai arah kebijakan nasional. Karena itu, penilaian terhadap Prabowo dapat berkaitan dengan berbagai agenda pemerintah, mulai dari ekonomi hingga politik dan keamanan.
Wakil presiden memiliki posisi berbeda dalam struktur pemerintahan. Persepsi publik terhadap Gibran bisa dipengaruhi oleh seberapa jelas masyarakat melihat kontribusi dan perannya dalam pelaksanaan agenda pemerintahan.
Kedua, harapan publik terhadap hasil kebijakan.
Masyarakat pada akhirnya menilai pemerintahan melalui persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Harga kebutuhan pokok, kesempatan kerja, kondisi ekonomi keluarga, dan pemberantasan korupsi merupakan isu yang dapat memengaruhi evaluasi terhadap pemerintah.
Jika masyarakat belum merasakan perbaikan yang diharapkan, ketidakpuasan dapat meningkat. Namun, survei ini saja belum cukup untuk memastikan bahwa faktor-faktor tersebut menjadi penyebab langsung rendahnya kepuasan terhadap Prabowo maupun Gibran.
Ketiga, tingkat pengenalan terhadap kinerja masing-masing pemimpin.
Penilaian publik juga dapat berkaitan dengan sejauh mana masyarakat mengetahui program, tanggung jawab, dan hasil kerja pejabat yang dinilai. Akan tetapi, untuk memastikan apakah faktor ini berperan dalam perbedaan penilaian terhadap Prabowo dan Gibran, diperlukan data pendukung yang lebih spesifik.
Karena itu, perbedaan angka kepuasan perlu menjadi bahan evaluasi, bukan alasan untuk langsung menyimpulkan penyebabnya.
Satu Pemerintahan, Dua Evaluasi Publik
Perbedaan hasil survei tersebut menjadi catatan bagi pemerintahan Prabowo-Gibran dalam memasuki tahun ketiga kepemimpinan.
Prabowo memperoleh tingkat kepuasan 33 persen, sedangkan Gibran 19 persen. Pada saat yang sama, ketidakpuasan terhadap keduanya sama-sama berada di atas 60 persen.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa tantangan pemerintahan tidak cukup dijawab melalui komunikasi politik atau penyampaian program. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa kebijakan berjalan efektif dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Evaluasi terhadap presiden dan wakil presiden pun perlu dilakukan secara proporsional, dengan mempertimbangkan tugas masing-masing, capaian program, serta persoalan yang masih membutuhkan penyelesaian.
Pada akhirnya, dua tahun pemerintahan menjadi momentum untuk mengukur jarak antara janji, pelaksanaan kebijakan, dan harapan masyarakat.
Kepercayaan dan kepuasan publik bukanlah sesuatu yang dapat dipertahankan hanya melalui popularitas. Keduanya membutuhkan hasil kerja yang konsisten, transparansi, serta kemampuan menjawab kebutuhan rakyat.
Metodologi Survei
Survei IPO bertajuk Refleksi dan Evaluasi Publik: Dua Tahun Kabinet Merah Putih dilaksanakan pada 12–20 Oktober 2026.
Penelitian menggunakan 1.200 responden dengan metode multi-stage random sampling. Survei tersebut memiliki margin of error sebesar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Hasil survei merupakan gambaran opini responden pada periode pengumpulan data. Angka-angka tersebut perlu dibaca sesuai pertanyaan dan kategori penilaian yang digunakan, serta tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab suatu tingkat kepuasan atau ketidakpuasan.
RAJA MEDIA — Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Olahraga | 4 hari yang lalu
Olahraga | 2 hari yang lalu
Opini | 6 hari yang lalu
Hukum | 5 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Hukum | 5 hari yang lalu
Opini | 1 minggu yang lalu
Politik | 3 hari yang lalu




