Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Suara Keras Senator M. Nuh: Trump Bak Preman, Dunia Dibawa Kembali ke Hukum Rimba

Laporan: Zulhidayat Siregar
Jumat, 06 Maret 2026 | 10:38 WIB
Anggota DPD RI KH Muhammad Nuh, MSP
Anggota DPD RI KH Muhammad Nuh, MSP

RAJAMEDIA.CO - Jakarta, Geopolitik - Anggota DPD RI KH Muhammad Nuh, MSP, mengecam keras berbagai kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat Donald Trump, terutama terkait dengan pelanggaran kedaulatan negara lain. Setelah belum lama ini menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang terbaru Trump mengerahkan militer AS bersama Israel menyerang Iran yang menewaskan para pemimpin negara Mullah tersebut, termasuk pemimpin tertingginya Ayatollah Ali Khamenei.


"Kalau kita cermati langkah-langkah Trump terutama belakangan ini, sebenarnya sejak periode kedua dia, artinya setelah kosong terus masuk (kembali menjadi presiden), ini kan kadang aneh-aneh. Dia umpamanya menculik Presiden Venezuela, kemudian menyerang ini itu dan sebagainya," jelas KH Muhammad Nuh dalam perbincangan dengan Raja Media Network (RMN) pagi ini (Jumat, 6/3/2026).


Dalam amatannya, Trump memiliki ambisi tertentu setelah kembali menjadi presiden pada periode kedua (2025-2029). Terlebih kepercayaan dirinya pun bertambah untuk merealisasikan ambisi itu karena kursi kepresiden berhasil direbut setelah sempat kalah pada Pilpres AS tahun 2000. "Jadi kayaknya dia mengukur, tetap saja ada pendukungnya. Sebagaimana rakyat Amerika pun, di mana dia sudah kalah pun, terus masih menang lagi. Itu kan menambah percaya dirinya berlebihan," ucapnya.


Karena ambisi dan kepercayaan diri yang berlebihan itu, lanjut senator dari Sumatera Utara ini dengan nada menyesalkan, Trump lalu berbuat seenaknya, tidak menghormati PBB hingga menerabas, menabrak, dan melanggar hukum internasional. Dia tidak menampik Trump bisa berbuat semaunya karena merasa paling kuat. "Jadi kita bisa katakan (Trump) ini kan preman dunia. Kalau begitu ya hukum rimba sebenarnya (yang berlaku). Jadi hampir sama saja dengan masa lalu," ungkapnya.


Dengan tindakannya itu, Lebih jauh Ketua PW Persatuan Islam (Persis) Sumut ini menilai, Trump telah mencoreng wajah Amerika Serikat yang selama ini mendaku sebagai kampiun demokrasi. Karena demokrasi yang disebut sebagai sistem yang mengedepankan dialog, cara-cara damai dan beradab, ternyata tidak sesuai kenyataan. Trump menggunakan kekerasan, bahkan dimaksudkan untuk mengganti sebuah rezim di sebuah negara.


"Kan kayaknya (demokrasi) ideal. Tetapi ternyata pelaku-pelakunya, tokoh-tokohnya, gembong-gembongnya melakukan pengrusakan seenaknya. Israel juga, yang sudah mendapatkan posisi dan citra negatif di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa), baik di Majelis Umum PBB, di Dewan Keamanan bahkan di Mahkamah Internasional, juga masih dibela habis-habisan (oleh Trump dan AS). Itu kan aneh," ketus Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Sumut ini.


Saat ditanya bagaimana Indonesia seharusnya menyikapi langkah Trump tersebut, KH Muhammad Nuh tidak menampik hal itu bukan sesuatu yang mudah. Karena, dia mengibaratkan, yang dihadapi ini adalah 'orang jahat' yang memegang senjata paling canggih. Sehingga perlu pencermatan secara mendalam sehingga ditemukan strategi yang tepat menghadapinya. Mengingat kekuatan yang kita miliki tidak sepadan.


Karena itulah, dia memaklumi muncul perbedaan pendapat bagaimana menyikapi kebijakan-kebijakan Trump tersebut. Termasuk ketidaksamaan pandangan bagaimana seharusnya Indonesia sebagai anggota Board of Peace (BoP) bentukan Donal Trump bersikap. "Nah, untuk itu maka kita harus tarik ulurlah menghadapi dan menyikapinya. Tapi tentang dia, perilakunya seperti itu, jelas kita tidak setuju dan kita tidak mengatakan itu kebaikan," demikian KH Muhammad Nuh.rajamedia

Komentar: