Soal Pengkhianat! Sarmuji: Pesan Prabowo Warning Keras, yang Kalah Jangan Rusak Demokrasi!
RAJAMEDIA.CO — Jakarta, Polkam - Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji menegaskan pidato Presiden Prabowo Subianto tentang pemimpin pengkhianat bukanlah ancaman politik, melainkan peringatan keras agar bangsa Indonesia tidak mengulangi kesalahan masa lalu.
Menurut Sarmuji, demokrasi hanya akan tumbuh sehat jika seluruh pihak mampu mengelola kemenangan maupun kekalahan secara dewasa.
"Ya itu warning. Warning jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang terdahulu. Kita ini harus belajar mengelola kepuasan dan ketidakpuasan," kata Sarmuji di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/7/2026).
Menang Jangan Fanatik, Kalah Jangan Anarkis
Sarmuji mengingatkan bahwa kemenangan dalam kontestasi politik tidak boleh melahirkan sikap fanatisme yang berlebihan.
Sebaliknya, pihak yang kalah juga tidak boleh melampiaskan kekecewaan dengan tindakan anarkis maupun upaya merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
"Jangan sampai kepuasan seseorang menjadikan seorang fanatik buta. Tapi ketidakpuasan juga jangan menjadikan seseorang anarkis, iri dengki, yang kemudian merusak tatanan kenegaraan kita," tegasnya.
Menurutnya, pesan Presiden merupakan pengingat bagi seluruh elite politik agar menjaga kualitas demokrasi Indonesia.
Prabowo Serukan Persatuan
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh kekuatan politik meninggalkan polarisasi pasca-pemilu.
Dalam pidatonya pada Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional 2026 di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7/2026), Prabowo menegaskan perbedaan pilihan politik merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi.
"Mari kita bersatu semua unsur. Berbeda partai tidak ada masalah. Tiap sekian tahun kita bertanding dengan baik, tidak ada masalah. Siapa yang menang monggo," ujar Prabowo.
Peringatan Keras untuk Provokasi Kerusuhan
Meski demikian, Presiden mengingatkan agar kontestasi politik tidak berujung pada tindakan provokatif yang memicu kerusuhan.
Prabowo menilai pemimpin yang menghasut masyarakat untuk melakukan aksi kekerasan setelah kalah dalam pemilu merupakan pengkhianat terhadap bangsa.
"Jangan kalau kalah mau bakar-bakar. Pemimpin yang menganjurkan bakar-bakar di Republik ini adalah pemimpin pengkhianat," tegas Presiden.
Demokrasi Harus Dewasa
Bagi Sarmuji, pesan tersebut merupakan refleksi penting agar demokrasi Indonesia semakin matang.
Kontestasi politik, menurutnya, seharusnya menghasilkan kompetisi yang sehat, bukan permusuhan yang berkepanjangan.
"Warning Presiden itu ditujukan agar semua pihak belajar menghormati hasil demokrasi dan menjaga persatuan bangsa," pungkasnya.
RAJA MEDIA — Cepat, Tajam, Terpercaya.![]()
Olahraga 6 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Olahraga | 5 hari yang lalu
Hukum | 4 hari yang lalu
Parlemen | 6 hari yang lalu
Ekbis | 6 hari yang lalu
Olahraga | 5 hari yang lalu
Nasional | 6 hari yang lalu
Daerah | 1 hari yang lalu
Peristiwa | 3 hari yang lalu





