Puasa dan Produktivitas
RAJAMEDIA.CO - Islam memiliki metode praksis mendidik dan melatih pengikut-pengikutnya untuk memelihara keharmonisan dalam kehidupan. Ramadhan melalui praktek puasa merupakan salah satu metode praksis tersebut.
Dari deretan hikmah yang terkandung dari pesan-pesan Ramadhan adalah 'tradisi produktif' yang kerap diabaikan bahkan cenderung disalahtafsirkan. Puasa seolah menjadi pembenaran untuk mengurangi beban pekerjaan atau produktivitas seseorang. Padahal sebaliknya. Perintah memaksimalkan sedekah, infaq dan zakat di bulan suci ini merupakan simbolisasi pesan transformasi agar seorang muslim menjadi individu yang produktif.
Mereka yang mampu bersedekah, infaq, dan membayar zakat adalah individu muslim terpuji yang mampu secara material alias sejahtera. Kesejahteraan yang mereka peroleh adalah buah dari kerja keras yang mereka lakukan.
Dalam Hadist yang diriwiyatkan oleh Bukhari, Nabi bersabda: "Tidak seorang pun pernah memakan makanan yang lebih baik daripada apa yang ia makan dari hasil kerja dengan tangannya sendiri".
Hadist ini secara implisit memberikan pesan bagi seorang muslim untuk memaksimalkan kemampuan yang dimiliki untuk mencukupi semua kebutuhannya, untuk menjadi sejahtera dengan cara-cara yang halal tentunya. Setelah mampu menjadi sejahtera, Islam pun melengkapi instrumen praksis untuk berbagi kepada sesama sebagai bentuk tanggung jawab sosial sekaligus wujud dari manifesto keridhaan Tuhan atau dalam bahasa yang sering saya gunakan sebagai usaha untuk memperoleh "perkenan Tuhan", yakni melalui sedekah, infaq dan zakat.
Islam menganggap kesejahteraan sosial dan individual sebagai dua hal yang saling mengisi. Bukan bersaing atau berlawanan. Artinya, Islam mengakomodir individualisme yang bertanggung jawab, yakni individualisme yang didasari oleh semangat produktivitas untuk mensejahterakan diri. Tapi dalam usaha-usaha mensejahterakan diri tidak melanggar etika Ilahiah dan kemanusiaan. Bahkan dalam "individualisme bertanggungjawab" tersebut terintegrasi kepedulian terhadap individu lain. Karena itu, Islam mendorong hubungan yang erat antar individu si kaya dan si miskin melalui sedekah, infaq, dan zakat.
Perintah memaksimalkan sedekah, infaq dan zakat di bulan Ramadhan merupakan latihan untuk membentuk pribadi muslim yang memiliki tradisi produktivitas tinggi dan filantropi bersamaan, yakni tradisi di mana seorang individu memiliki produktivitas dan etos kerja yang tinggi untuk menjadi sejahtera. Dan bersamaan dengan karakter produktivitas tinggi itu juga lahir karakter filantropi, yakni karakter mencintai melayani dan membantu sesama. Sehingga kesejahteraan yang dinikmatinya akan berdampak positif bagi kesejahteraan orang-orang di sekitarnya, atau orang lain yang membutuhkan bantuan.
Praktik puasa dengan cara menahan haus dan lapar merupakan salah satu cara untuk merasakan kesusahan yang dialami si miskin yang menahan diri untuk tidak makan dan tidak minum karena tidak memiliki kemampuan secara material untuk membeli atau memperoleh bahan makanan. Sehingga, muncul sikap empati terhadap kemiskinan yang dialami oleh si miskin dan berusaha membantu si miskin untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Tradisi bersedekah, yang dipraktikkan Rasulullah dan para sahabat memberikan contoh tingginya produktivitas yang diajarkan Islam.
Saya, Anda dan banyak dari kita seringkali disuguhi cerita bahwa Rasulullah dan para sahabat tak sungkan memberikan semua harta yang mereka miliki kepada orang lain yang membutuhkan tanpa menyisakan sedikit pun untuk mereka. Pesan Al-Quran: "Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (At-Taghabun ayat 16) dan “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi ini melainkan Allah lah yang memberi rezekinya” (QS Hud ayat 6).
Rasul dan sahabat ingin memerdekakan diri dari kekikiran dan kendali material, dan percaya bahwa semua mahluk Tuhan di bumi ini selalu diberikan rezekinya. Perilaku bersedekah seperti itu saya yakini, tidak an sich bermakna transenden. Namun, terselip makna bahwa Rasul dan para sahabat adalah individu yang memiliki produktivitas dan kreativitas tinggi.
Harta yang disedekahi seluruhnya, toch tidak membuat mereka terjerembab dalam kubangan kemiskinan. Keyakinan akan kemampuan diri untuk menghasilkan kembali dan menjadi sejahtera dengan cara bekerja keras. Hanya individu yang memiliki produktivitas dan kreativitas tinggi saja yang mampu berperilaku sedekah seperti Rasulullah dan para sahabat. Perilaku tersebut mendapat media latihan yang paripurna pada saat Ramadhan.
Karena selain kita diajarkan berempati, juga diperintahkan untuk peduli melalui sedekah, infaq dan zakat. Tentu saja harapannya, perilaku tersebut menjadi habitus atau tabiat yang tertanam di setiap muslim sejati, produktivitas tinggi dalam bekerja, berhati ikhlas dan bertangan ringan dalam bersedekah.
Jadi, ajaran Islam sangat sempurna apabila kita tidak keliru dalam menafsirkan dan melaksanakannya. Puasa memiliki dimensi pemaknaan distribusi ekonomi yang sangat luas melalui instrumen sedekah, infaq dan zakat. Puasa bak kawah candramuka nilai-nilai moral Islam yang mengakomodir maksimalisasi kesejahteraan melalui produkivitas yang tinggi sambil menumbuhkan sikap simpati dan empati terhadap kemiskinan melalui maksimalisasi sedekah, infaq dan zakat. Wallahu a'lam bishawwab.
Catatan: Tulisan Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak ini dikutip dari salah satu bukunya yang berjudul “Menggembirakan Puasa” (2017).![]()
Daerah 4 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu
Olahraga | 21 jam yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Hukum | 3 hari yang lalu
Olahraga | 5 hari yang lalu
Keamanan | 6 hari yang lalu
Olahraga | 4 hari yang lalu
Opini | 3 hari yang lalu
Keamanan | 4 hari yang lalu
