Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Komisi I DPR Ingatkan Risiko Misi Gaza, Pasukan RI Terjebak Konflik Berkepanjangan!

Laporan: Halim Dzul
Minggu, 22 Februari 2026 | 11:04 WIB
Foto: Ilustrasi -
Foto: Ilustrasi -

RAJAMEDIA.CO - Jakarta, Polkam - Penunjukan Indonesia sebagai Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) di Gaza, Palestina, memicu perhatian serius di Senayan. Komisi I DPR RI menegaskan, keputusan pengiriman ribuan prajurit TNI ke wilayah konflik bukan perkara sederhana.


Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal, atau yang akrab disapa Deng Ical, mengingatkan bahwa Gaza adalah zona panas dengan risiko tinggi bagi keselamatan pasukan.


“Pengiriman pasukan ke Gaza membutuhkan kesiapan khusus, baik dari sisi strategi, perlengkapan, hingga mitigasi risiko. Potensi gesekan dengan pasukan perlawanan di Gaza sangat besar dan tidak bisa dianggap ringan,” ujar Deng Ical, Minggu (22/2/2026).


DPR Minta Transparansi dan Pembahasan Khusus


Menurut Deng Ical, keputusan strategis seperti ini wajib dibahas secara matang dan terbuka. Ia mendorong agar Komisi I segera menggelar rapat khusus dengan Kementerian Pertahanan.


Tujuannya jelas: publik harus mengetahui secara rinci mandat, aturan pelibatan (rules of engagement), hingga skema perlindungan prajurit.


“Pertemuan ini penting agar publik mengetahui tujuan, mandat, dan perlindungan bagi prajurit kita. Jangan sampai ada keputusan strategis yang minim penjelasan kepada rakyat,” tegasnya.


ISF Akan Kuasai Lima Sektor


Sorotan juga diarahkan pada pernyataan Komandan ISF, Jasper Jeffers. Ia menyebut pasukan ISF akan dibagi ke lima sektor, masing-masing ditempatkan satu brigade.


Dalam jangka pendek, fokus pengerahan ada di sektor Rafah bersamaan dengan pelatihan kepolisian. Dalam jangka panjang, ISF menargetkan pembentukan 12.000 personel kepolisian serta 20.000 tentara ISF.


Bagi Deng Ical, skema tersebut memunculkan pertanyaan besar.


“Kalau melihat rencana itu, ISF akan betul-betul menguasai dan mengendalikan Gaza. Pertanyaannya, di mana kedaulatan rakyat Gaza? Apakah ini bukan bentuk penjajahan baru?” ujarnya.


Komitmen Prabowo di Washington


Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk mendukung perdamaian dunia, khususnya di Gaza. Hal itu disampaikan dalam Inaugural Meeting of Board of Peace di Washington DC, di hadapan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.


Dalam forum tersebut, Prabowo menyatakan Indonesia siap mengirim hingga 8.000 prajurit TNI untuk berpartisipasi dalam ISF.


“Kami siap mengerahkan pasukan tersebut untuk berpartisipasi aktif dalam International Stabilization Force, guna memastikan perdamaian ini berhasil,” kata Prabowo.


Ia menegaskan, Indonesia sejak awal mendukung penuh rencana perdamaian dan bergabung dengan Board of Peace demi memastikan gencatan senjata benar-benar terwujud.


“Kami tahu akan ada banyak hambatan dan kesulitan, tetapi kami sangat optimistis,” ucapnya.


Antara Idealism dan Realitas Lapangan


Di satu sisi, Indonesia ingin tampil sebagai motor perdamaian global. Di sisi lain, DPR mengingatkan bahwa setiap langkah harus dihitung dengan cermat.


Misi kemanusiaan tidak boleh berubah menjadi jebakan konflik berkepanjangan. Diplomasi penting, tetapi keselamatan prajurit dan kepastian mandat harus menjadi prioritas utama.


Karena di medan konflik, idealisme seringkali diuji oleh realitas yang jauh lebih keras.rajamedia

Komentar: