Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Kasus Anak Bunuh Diri Jadi Alarm Nasional, Kemendikdasmen Perkuat Peran Guru BK di Sekolah

Laporan: Halim Dzul
Jumat, 06 Februari 2026 | 20:59 WIB
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq -  Foto: Humas Kemendikdasmen -
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq - Foto: Humas Kemendikdasmen -

RAJAMEDIA.CO - Bandung - Pemerintah mendorong penguatan peran guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolah sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dan menangani persoalan kesehatan mental siswa sejak dini. Selama ini, banyak masalah psikologis anak luput terpantau karena fungsi pendampingan di sekolah belum berjalan optimal.
 

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq di Bandung, Jumat (6/2/2026). Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang aman sekaligus tempat pertama untuk mengenali tanda-tanda tekanan psikologis yang dialami peserta didik.
 

“Selama ini di sekolah guru kurang cepat mendeteksi persoalan anak-anaknya. Dengan memperkuat peran konseling guru BK di sekolah, kita ingin para guru menjadi pihak pertama yang bisa mendeteksi persoalan anak,” ujar Fajar.
 

Masalah Keluarga Terbawa ke Sekolah
 

Fajar menjelaskan, berbagai persoalan di lingkungan keluarga kerap terbawa ke sekolah dan memengaruhi kondisi emosional serta perilaku siswa. Tekanan ekonomi, konflik keluarga, hingga persoalan sosial sering kali berdampak langsung pada kesehatan mental anak.
 

Karena itu, ia menilai penguatan peran guru wali kelas dan layanan konseling menjadi penting sebagai sistem deteksi dini di lingkungan sekolah. Guru diharapkan lebih peka terhadap perubahan sikap, emosi, maupun prestasi belajar siswa.
 

“Guru wali kelas harus menjadi pengamat pertama. Ketika ada perubahan perilaku yang tidak wajar, itu harus segera ditindaklanjuti melalui layanan konseling,” katanya.
 

Revitalisasi UKS dan Sinergi dengan Puskesmas
 

Selain memperkuat guru BK, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga tengah merevitalisasi peran Unit Kesehatan Sekolah (UKS). UKS diharapkan menjadi penghubung efektif antara sekolah dan puskesmas, baik dalam penanganan kesehatan fisik maupun mental siswa.
 

“Kalau tidak bisa diatasi di sekolah, UKS bisa merekomendasikan rujukan ke fasilitas kesehatan. Ini sistem yang ingin kita perkuat,” ujar Fajar.
 

Langkah tersebut sejalan dengan rencana Kementerian Kesehatan yang akan menempatkan tenaga psikolog klinis di setiap puskesmas. Kehadiran psikolog ini diharapkan memperluas akses layanan kesehatan mental, termasuk bagi anak usia sekolah.
 

Kasus Ngada Jadi Alarm Serius
 

Dalam kesempatan itu, Fajar juga menyinggung kasus seorang siswa sekolah dasar berinisial Y di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang mengakhiri hidupnya dan diduga dipicu tekanan finansial keluarga. Menurutnya, peristiwa tersebut harus menjadi alarm serius bagi semua pihak.
 

“Kita tahu anak zaman sekarang tingkat stresnya tinggi. Ada faktor ekonomi, keluarga, sosial, bahkan tekanan dari lingkungan pertemanan,” ungkapnya.
 

Ia menegaskan, persoalan kesehatan mental anak tidak bisa dianggap sepele dan harus ditangani secara sistematis serta kolaboratif.
 

Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
 

Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, pemerintah menyiapkan program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Program ini dirancang untuk membentuk karakter, ketahanan mental, dan kebiasaan hidup sehat sejak dini.
 

“Supaya anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang sehat, kuat secara mental, dan jauh dari tekanan hidup, depresi, atau stres,” kata Fajar.
 

Ia menegaskan, berbagai kebijakan tersebut merupakan bentuk intervensi jangka panjang pemerintah dalam merespons meningkatnya tekanan hidup yang dialami anak-anak, baik akibat faktor ekonomi, keluarga, sosial, maupun lingkungan pergaulan.rajamedia

Komentar: