Dirjen Vokasi: Santri Harus Kuasai Akhlak, Kompetensi, dan Literasi
RAJAMEDIA.CO - Jampang, Bogor — Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, Tatang Muttaqin, S.Sos., M.Ed., Ph.D., menegaskan bahwa tantangan santri ke depan tidak cukup hanya kuat dalam pemahaman keagamaan, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan kemandirian ekonomi melalui penguasaan keterampilan dan keahlian abad ke-21.
Penegasan tersebut disampaikan Tatang Muttaqin dalam orasi ilmiah dan sambutan pada acara Wisuda Angkatan VI sekaligus Milad ke-10 Muhammadiyah Boarding School (MBS) Ki Bagus Hadikusumo.
Satu Dasawarsa Pondasi Pendidikan
Mengawali orasinya, Tatang menyampaikan apresiasi atas perjalanan satu dasawarsa MBS Ki Bagus Hadikusumo. Menurutnya, sepuluh tahun merupakan fase krusial yang menandai kokohnya pondasi sebuah institusi pendidikan.
“Sepuluh tahun adalah fase penting. Pondasi sudah diletakkan, dan hari ini kita melihat hasilnya melalui anak-anak luar biasa yang diwisuda,” ujar Tatang di hadapan pimpinan pesantren, tokoh Muhammadiyah, serta orang tua wali santri.
Pesantren dan Pendidikan Vokasi
Tatang menekankan relevansi kuat antara pesantren dan pendidikan vokasi. Di era perubahan cepat, pesantren dituntut mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga mandiri secara ekonomi.
“Pemahaman agama harus diimplementasikan dalam kemandirian. Pendidikan vokasi dan keahlian sangat relevan dikembangkan di lingkungan pesantren,” tegasnya.
Ia mengaku bangga mendengar capaian santri MBS Ki Bagus Hadikusumo di bidang sains dan astronomi, yang menurutnya menjadi bukti bahwa santri Muhammadiyah adaptif terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tiga Bekal Utama Lulusan
Dalam pesannya kepada para wisudawan, Tatang menekankan tiga bekal utama yang harus dimiliki lulusan pesantren dalam menghadapi dunia global.
Pertama, karakter dan akhlak, sebagai modal dasar yang telah ditempa selama bertahun-tahun di pesantren. Kedua, kompetensi, yakni keahlian spesifik yang terus diasah dan dikembangkan. Ketiga, literasi, baik literasi digital maupun baca-tulis, agar tidak tertinggal oleh laju perubahan teknologi.
“Jangan berhenti belajar hanya sampai di sini,” pesannya.
Pesantren Persemaian Pemimpin
Lebih jauh, Tatang menyebut pesantren sebagai ladang persemaian pemimpin masa depan. Menurutnya, pemimpin yang dibutuhkan bangsa adalah mereka yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
“Saya berharap dari MBS ini lahir teknokrat, pengusaha, dan profesional yang kuat secara moral,” ucapnya seraya menegaskan dukungan Dirjen Vokasi terhadap penguatan life skills di pesantren-pesantren Muhammadiyah.
Dorongan Inovasi Berkelanjutan
Menutup orasinya, Tatang mendorong MBS Ki Bagus Hadikusumo untuk terus berinovasi meski di tengah keterbatasan.
“Jangan takut dengan keterbatasan fasilitas. Sejarah membuktikan banyak penemuan besar lahir dari keterbatasan,” ujarnya.
Ia pun berpesan kepada Wisuda Angkatan VI agar menjaga nama baik almamater dan Persyarikatan Muhammadiyah dalam melanjutkan pendidikan dan pengabdian di masa depan.![]()
Peristiwa 3 hari yang lalu
Daerah | 1 hari yang lalu
Nasional | 5 hari yang lalu
Nasional | 1 hari yang lalu
Parlemen | 5 hari yang lalu
Nasional | 6 hari yang lalu
Opini | 3 hari yang lalu
Hukum | 4 hari yang lalu
Olahraga | 6 hari yang lalu
Nasional | 5 hari yang lalu
