Jangan Cepat Puas! Komisi IX DPR Ingatkan Ancaman Campak Masih Mengintai
RAJAMEDIA.CO – Jakarta, Legislator – Angka turun drastis, tapi bahaya belum hilang. Pemerintah diminta tak terlena dengan klaim penurunan kasus campak hingga 95 persen di awal 2026.
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher angkat suara. Ia mengingatkan, di balik statistik yang membaik, masih ada nyawa anak yang hilang.
95 Persen Turun, Tapi Nyawa Masih Melayang
Netty mengakui capaian penurunan kasus campak patut diapresiasi, terutama kerja keras Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Namun ia menegaskan, angka tak boleh menutupi realitas di lapangan.
“Kita tidak boleh hanya terpaku pada angka 95 persen. Statistik bukan segalanya jika kita masih kehilangan nyawa anak-anak kita,” tegasnya.
Pesan ini jadi pengingat keras: keberhasilan belum tuntas.
“Bom Waktu” Kekebalan Mengintai
Netty menyoroti adanya celah kekebalan atau immunity gap.
Kondisi ini disebutnya sebagai “bom waktu” yang bisa memicu lonjakan kasus jika tak segera ditangani.
Artinya, meski grafik turun, potensi wabah tetap ada.
Penanganan Akar Rumput Belum Maksimal
Menurut Netty, penurunan kasus sejauh ini lebih banyak didorong langkah darurat.
Sementara itu, penanganan di tingkat bawah—seperti deteksi dini dan penanganan komplikasi—dinilai belum optimal.
“Satu nyawa anak Indonesia itu terlalu mahal untuk dikompensasi dengan angka persentase,” ujarnya.
Jangan Rayakan Terlalu Dini
Netty mengingatkan pemerintah agar tidak buru-buru berpuas diri. Di balik angka yang menurun, masih ada keluarga yang berduka karena keterlambatan perlindungan.
Pesannya jelas: jangan rayakan statistik, jika masalah belum selesai.
Desak Evaluasi Total Sistem Kesehatan
Ia mendesak Kementerian Kesehatan untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
Mulai dari distribusi vaksin hingga kecepatan layanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas—terutama di wilayah yang pernah jadi zona merah.
Target: Nol KLB di Masa Depan
Netty menegaskan, tujuan akhir bukan sekadar menurunkan angka, tapi memastikan tidak ada lagi kejadian luar biasa (KLB) di masa depan.
“Kita butuh jaminan perlindungan total, bukan sekadar laporan statistik,” pungkasnya.
Redaksi mencatat: angka boleh turun, tapi kewaspadaan tak boleh ikut turun. Karena dalam isu kesehatan, satu nyawa pun terlalu berharga untuk diabaikan.![]()
Hukum | 6 hari yang lalu
Parlemen | 3 hari yang lalu
Pendidikan | 19 jam yang lalu
Keamanan | 17 jam yang lalu
Nasional | 6 hari yang lalu
Keamanan | 6 hari yang lalu
Keamanan | 5 hari yang lalu
Keamanan | 18 jam yang lalu
Pendidikan | 5 hari yang lalu