Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Said Abdullah Bantah APBN 2026 Jebol: Fiskal Negara Masih Aman!

Laporan: Halim Dzul
Senin, 11 Mei 2026 | 20:20 WIB
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah - Humas DPR -
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah - Humas DPR -

RAJAMEDIA.CO - Jakarta, Legislator  — Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah membantah keras isu yang menyebut APBN 2026 dalam kondisi tertekan hingga terancam jebol.
 

Politikus senior PDI Perjuangan itu menegaskan kondisi fiskal nasional masih aman dan terkendali, meski belakangan muncul berbagai spekulasi soal menipisnya saldo anggaran negara.
 

Menurut Said, kritik dari pengamat ekonomi maupun akademisi tetap penting sebagai bagian dari kontrol publik terhadap kebijakan pemerintah.
 

“Kita harus apresiasi kritik dan alarm kewaspadaan itu. Yang justru berbahaya kalau publik sudah apatis dan enggan bicara,” kata Said dalam keterangannya di Jakarta, Senin (11/5/2026).
 

Ekonomi RI Justru Tumbuh 5,6 Persen
 

Said menilai narasi APBN jebol tidak sejalan dengan kondisi ekonomi nasional saat ini.
 

Ia mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,6 persen, di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
 

Menurutnya, pertumbuhan tersebut didorong meningkatnya konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Lebaran yang menggerakkan sektor perdagangan, transportasi, hotel, restoran, hingga industri.
 

“Percepatan belanja pemerintah juga ikut menopang pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
 

Belanja Negara Tumbuh Tajam
 

Banggar DPR mencatat belanja pemerintah pada kuartal I 2026 tumbuh 21,81 persen secara tahunan.
 

Kenaikan itu disebut memberikan kontribusi sekitar 1,26 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
 

Tak hanya itu, Said menyebut pendapatan negara juga masih menunjukkan tren positif.
 

“Kinerja APBN kuartal I 2026 masih positif. Pendapatan negara mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu,” katanya.
 

Penerimaan Pajak Naik 20 Persen
 

Said juga membeberkan penerimaan pajak hingga kuartal I 2026 mencapai Rp394,8 triliun atau tumbuh 20,7 persen secara tahunan.
 

Bahkan, menurutnya pemerintah masih memiliki surplus dari selisih kurang bayar dan lebih bayar pajak sebesar Rp13,38 triliun.
 

Data itu, kata Said, menunjukkan ruang fiskal pemerintah masih cukup kuat.
 

Jangan Andalkan Belanja Negara Saja
 

Meski demikian, Said mengingatkan pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan belanja negara untuk menggerakkan ekonomi.
 

Ia menilai kontribusi belanja pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hanya sekitar 6,72 persen, sehingga sektor riil tetap harus diperkuat.
 

Menurutnya, sektor manufaktur, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan perlu mendapat insentif dan pembenahan ekosistem investasi.
 

“Kalau sektor-sektor ini tumbuh, penyerapan tenaga kerja formal akan lebih besar dan kelas menengah bisa kembali menguat. Pemerintah masih punya tabungan pajak,” tegas Said.
 

Isu APBN Jebol Dinilai Berlebihan
 

Dengan berbagai indikator tersebut, Said memastikan isu APBN 2026 jebol terlalu berlebihan dan tidak mencerminkan kondisi fiskal yang sebenarnya.
 

Namun ia tetap mengingatkan pemerintah agar disiplin menjaga kualitas belanja, memperkuat penerimaan negara, dan terus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan global.rajamedia

Komentar: