Halal Bihalal: Lebaran yang Tak Pernah Selesai

RAJAMEDIA.CO - SAYA tidak tahu siapa yang pertama kali menciptakan istilah halal bihalal. Tapi saya yakin, itu bukan dari Arab. Karena orang Arab sendiri, setahu saya, tidak mengucapkan “halal bihalal” saat Idulfitri. Mereka cukup dengan taqabbalallahu minna wa minkum—semoga Allah menerima amal ibadah kita.
Tapi di Indonesia, halal bihalal sudah menjadi budaya. Bahkan, menjadi ritual pasca-Lebaran yang lebih ramai dari Lebarannya sendiri.
Yang bikin unik, halal bihalal bukan hanya ajang saling memaafkan. Tapi juga ajang reuni, pamer baju baru, saling intip posisi karier, bahkan… membahas siapa yang jomblo dan siapa yang sudah naik jabatan.
Dari Silaturahmi ke Silapolitik
Saya pernah datang ke satu acara halal bihalal yang suasananya lebih mirip kampanye politik. Ada panggung. Ada baliho besar. Ada pidato panjang yang bukan soal maaf-memaafkan, tapi soal visi-misi.
Tentu, halal bihalal semacam itu sah-sah saja. Tapi saya jadi bertanya-tanya: apakah masih ada ruang yang benar-benar tulus di balik semua ini?
Bukankah tujuan halal bihalal adalah menyambung hati yang mungkin retak? Menyatukan tangan yang selama ini enggan berjabat?
Dulu dan Sekarang
Dulu, waktu kecil, saya diajak keliling kampung oleh ayah saya. Bersalaman dari rumah ke rumah. Tidak ada nasi kotak, tidak ada undangan cetak. Yang ada hanya niat dan langkah kaki.
Sekarang, halal bihalal sering pindah ke gedung megah. Ada daftar tamu. Ada MC. Ada sesi foto. Bahkan kadang, ada sponsor.
Apakah itu buruk? Tidak juga. Tapi saya rindu suasana sederhana, yang lebih banyak diam dan tatap mata. Karena di situlah maaf lahir dari hati, bukan dari pengeras suara.
Maaf yang Bukan Formalitas
Tantangan halal bihalal hari ini adalah menjaganya tetap hangat. Bukan sekadar formalitas.
Kita boleh makan opor dan rendang, tapi jangan lupa untuk betul-betul memaafkan. Jangan hanya berkata “maaf lahir batin” sambil sibuk scroll HP. Jangan juga hanya hadir untuk jabat tangan, tapi pulang dengan hati yang tetap keras.
Akhirnya…
Halal bihalal adalah bukti bahwa Indonesia punya cara sendiri dalam memaknai silaturahmi. Lebaran kita tidak selesai di hari ke-1 Syawal. Ia bisa berlangsung sebulan penuh, bahkan lebih.
Dan selama masih ada niat baik untuk saling membuka hati, halal bihalal akan terus hidup.
Walau tanpa panggung. Tanpa nasi kotak. Tanpa baliho.
Cukup ada senyum dan tangan yang terulur. Maka semua luka bisa sembuh.
Dan lebaran, akhirnya, benar-benar terasa.
Peristiwa 6 hari yang lalu

Politik | 5 hari yang lalu
Peristiwa | 2 hari yang lalu
Politik | 3 hari yang lalu
Parlemen | 3 hari yang lalu
Nasional | 6 hari yang lalu
Peristiwa | 6 hari yang lalu
Nasional | 3 hari yang lalu
Dunia | 3 hari yang lalu
Politik | 3 hari yang lalu