Epistemologi Tajdid Muhammadiyah
RAJAMEDIA.CO - EPISTEMOLOGI Tajdid Muhammadiyah berpijak pada keyakinan bahwa ilmu adalah cahaya dari Tuhan Yang Maha Esa yang diturunkan melalui wahyu, alam, dan pengalaman batin manusia. Untuk menangkap cahaya itu, manusia dibekali tiga perangkat utama: bahasa, akal-rasional, dan rasa-estetis.
Dalam tradisi keilmuan Islam, ketiganya dikenal sebagai pendekatan bayani, burhani, dan irfani. Ketiganya bukan jalan yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi dalam memahami tanda-tanda Tuhan. Dari sinilah lahir kerangka epistemologi yang integratif dan berkemajuan.
Pendekatan bayani menempatkan bahasa sebagai sarana utama memahami wahyu. Melalui bahasa, manusia membaca, menafsirkan, dan menjelaskan pesan Tuhan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Ketelitian gramatikal, semantik, dan konteks historis menjadi syarat agar makna tidak menyimpang. Dalam Tajdid Muhammadiyah, bayani memastikan bahwa pembaruan tetap berpijak pada teks yang sahih dan rasional.
Bahasa dalam kerangka bayani bukan sekadar alat komunikasi, tetapi medium pembentukan makna dan nilai. Ia menata cara berpikir umat, membingkai wacana, dan membentuk kesadaran kolektif. Karena itu, Tajdid menuntut pembaruan bahasa keagamaan agar jernih, lugas, dan relevan dengan zaman. Bahasa yang jernih melahirkan pemahaman yang jernih.
Melalui bayani, ilmu dari Tuhan diturunkan ke dalam sistem konsep yang bisa dipelajari dan diajarkan. Wahyu tidak dibiarkan sebagai misteri, tetapi diterjemahkan menjadi petunjuk hidup. Bahasa menjadi jembatan antara teks ilahi dan praksis manusia. Di sinilah bayani berfungsi sebagai fondasi normatif epistemologi Tajdid.
Pendekatan burhani bertumpu pada akal dan pembuktian rasional. Ia menggunakan logika, matematika, dan metode ilmiah untuk memahami keteraturan ciptaan Tuhan. Melalui burhani, manusia membaca hukum-hukum alam sebagai ayat-ayat kauniyah. Rasionalitas ini mendorong umat untuk maju dalam sains dan teknologi.
Matematika dalam kerangka burhani adalah bahasa universal yang mengungkap pola, ukuran, dan relasi. Ia melatih ketepatan, konsistensi, dan objektivitas. Dalam Tajdid Muhammadiyah, burhani mencegah taklid buta dan menghidupkan semangat ijtihad ilmiah. Akal yang kritis adalah amanah dari Tuhan.
Dengan burhani, kebenaran tidak hanya diterima, tetapi diuji dan dipertanggungjawabkan. Rasio menjadi mitra wahyu, bukan lawannya. Sains menjadi sarana ibadah ketika diarahkan untuk kemaslahatan manusia. Di sinilah burhani menguatkan dimensi rasional epistemologi Tajdid.
Pendekatan irfani menempatkan seni dan pengalaman batin sebagai jalan pengetahuan. Ia menekankan intuisi, rasa, dan penyucian jiwa untuk menangkap makna terdalam dari kebenaran. Melalui seni, nilai-nilai ilahi dihadirkan secara indah dan menyentuh. Irfani menghidupkan sisi ruhani ilmu.
Dalam irfani, kebenaran tidak hanya dipahami, tetapi dialami. Zikir, tafakur, dan kontemplasi menjadi metode mengenal Tuhan secara personal. Seni menjadi ekspresi kesadaran ilahi dalam bentuk yang manusiawi. Tajdid Muhammadiyah memandang bahwa pembaruan juga harus menyentuh dimensi batin umat.
Dengan irfani, ilmu melahirkan akhlak dan kepekaan sosial. Pengetahuan tidak berhenti di kepala, tetapi turun ke hati dan tangan. Seni dakwah, budaya, dan etika sosial menjadi wujud konkret dari kesadaran spiritual. Di sinilah irfani menyempurnakan epistemologi Tajdid.
Interrelasi bayani, burhani, dan irfani membentuk kesatuan epistemik yang utuh. Bayani memberi arah normatif, burhani memberi kekuatan rasional, dan irfani memberi kedalaman makna. Bahasa, matematika, dan seni saling berkorespondensi sebagai tiga jalan membaca tanda-tanda Tuhan. Tanpa salah satunya, pengetahuan menjadi timpang.
Dalam praktik Tajdid Muhammadiyah, ketiganya harus diintegrasikan dalam pendidikan, dakwah, dan amal usaha. Bahasa menuntun visi, matematika menata strategi, seni menggerakkan jiwa. Integrasi ini melahirkan insan berkemajuan: cerdas akalnya, lurus pikirannya, dan halus budinya. Inilah sintesis epistemologis Tajdid.
Dengan demikian, Epistemologi Tajdid Muhammadiyah adalah jalan pembaruan yang memadukan wahyu, akal, dan rasa. Bayani, burhani, dan irfani bukan sekadar teori, tetapi kerangka hidup untuk mengenal Tuhan YME secara utuh. Dari sinilah lahir peradaban yang berilmu, beriman, dan berkeadaban.
Penulis: Dekan FKIP UNTIRTA Banten![]()
Nasional 2 hari yang lalu
Peristiwa | 6 hari yang lalu
Daerah | 4 hari yang lalu
Nasional | 5 hari yang lalu
Parlemen | 3 hari yang lalu
Nasional | 5 hari yang lalu
Opini | 6 hari yang lalu
Politik | 3 hari yang lalu
Politik | 3 hari yang lalu
Daerah | 3 hari yang lalu
