Sinergi Kampus dan Pesantren Merancang Kurikulum Indonesia
RAJAMEDIA.CO - PRESIDEN Prabowo Subianto meminta pemerintah mengumpulkan dan mempelajari buku pelajaran tingkat SD, SMP, dan SMA dari berbagai negara, termasuk negara-negara di kawasan Asia Tenggara, sebagai bahan perbandingan untuk meningkatkan mutu buku ajar Indonesia. Arahan tersebut mengemuka pada 7 Agustus 2026, setelah Presiden menaruh perhatian pada kualitas buku yang digunakan peserta didik ketika melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah. Pemerintah kemudian menyiapkan tim lintas kementerian dan lembaga untuk membandingkan materi, mutu, dan penyajian buku pelajaran dengan negara lain. Langkah ini patut diapresiasi karena menunjukkan keseriusan pemerintah memperbaiki kualitas pembelajaran dan menyiapkan generasi Indonesia menghadapi persaingan global.
Namun, ketika Indonesia melihat ke luar untuk mencari pembanding, ada pertanyaan yang lebih mendasar: sudahkah kita menggali secara serius kekayaan pengalaman pendidikan yang tumbuh di negeri sendiri? Indonesia bukan bangsa yang baru mengenal pendidikan modern. Jauh sebelum kemerdekaan, madrasah dan pesantren telah berinteraksi dengan pusat-pusat keilmuan Islam dunia. Para ulama Nusantara belajar dan membangun jejaring keilmuan dengan Haramain, Mesir, dan berbagai pusat pendidikan Islam lainnya, lalu membawa gagasan tersebut pulang, mengolahnya, dan menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Tradisi itu menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia sejak dahulu tidak tertutup terhadap dunia, tetapi memiliki kemampuan untuk menyerap, mengolah, dan melahirkan tradisinya sendiri.
Dunia pendidikan kontemporer juga menunjukkan bahwa inovasi kurikulum tidak selalu lahir dari pemerintah. Montessori bermula dari gagasan seorang pendidik, Maria Montessori. AP (Advanced Placement) berkembang melalui jejaring sekolah dan perguruan tinggi yang dibangun oleh College Board. IB (International Baccalaureate) tumbuh dari komunitas pendidik internasional. Edexcel berkembang melalui lembaga pendidikan profesional, sedangkan Cambridge memiliki akar kuat pada tradisi akademik universitas. Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa ilmu, pengalaman pendidik, komunitas, jejaring akademik, lembaga profesional, dan universitas dapat menjadi sumber inovasi pendidikan.
Karena itu, Indonesia tentu perlu belajar dari dunia, tetapi tidak cukup hanya dengan mengimpor gagasan dan membandingkan buku ajar. Kita juga perlu belajar dari pengalaman pendidikan Indonesia sendiri. Jika dunia memberi ruang kepada gagasan pendidik, komunitas, jejaring sekolah dan perguruan tinggi, lembaga profesional, serta universitas untuk melahirkan inovasi pendidikan, mengapa FKIP UNTIRTA bersama Forum Silaturrahim Pondok Pesantren tidak dapat menjadi salah satu sumber inovasi kurikulum Indonesia? Pertanyaan ini bukan ajakan untuk menggantikan kurikulum nasional, melainkan dorongan agar kekayaan pengalaman pendidikan masyarakat dapat digali melalui proses ilmiah dan menjadi sumber inovasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Banten memiliki modal yang kuat untuk memulai ikhtiar tersebut. Pengalaman Perguruan Islam Al-Khairiyah Cilegon, Madrasah Al-Jauharatunnaqiyah Cibeber, Mathla'ul Anwar Menes, Masyaariqul Anwar Caringin, dan Pesantren Madarijul Ulum Pelamunan dapat menjadi sumber pengalaman yang dikaji secara serius. Masing-masing memiliki sejarah, kultur, tradisi keilmuan, pola pengasuhan, pengalaman pembelajaran, serta hubungan dengan masyarakat yang khas. Keragaman tersebut tidak perlu diseragamkan. Sebaliknya, ia dapat menjadi kekayaan yang digali untuk menemukan praktik-praktik pendidikan yang relevan bagi pengembangan kurikulum Indonesia.
Rintisan tersebut pada dasarnya merupakan rintisan para kiai dan guru yang telah berlangsung jauh sebelum istilah inovasi kurikulum menjadi populer. Forum Silaturrahim Pondok Pesantren dapat menjadi ruang untuk menghimpun pengalaman tersebut, sementara satuan pendidikan formal di lingkungan pesantren menjadi laboratorium tempat praktik pendidikan dapat diamati. Dari sana dapat dipelajari bagaimana ilmu agama dan ilmu umum, karakter, kedisiplinan, bahasa, kepemimpinan, kemandirian, kewirausahaan, serta pengabdian kepada masyarakat dipadukan dalam kehidupan pendidikan sehari-hari. Yang dicari bukan sekadar materi pelajaran, melainkan pengalaman pendidikan yang terbukti membentuk manusia.
Di sinilah FKIP UNTIRTA dapat memberikan sentuhan ilmu kependidikan. Kampus tidak datang sebagai pihak yang merasa paling tahu, melainkan sebagai mitra akademik yang membantu menggali, mendokumentasikan, meneliti, memetakan, dan mengembangkan pengalaman pesantren. Praktik baik dapat diterjemahkan ke dalam bahasa capaian pembelajaran, pedagogi, asesmen, bahan ajar, dan indikator mutu. Dengan demikian, pengalaman para kiai dan guru tidak berhenti sebagai tradisi atau pengalaman lokal, tetapi berkembang menjadi pengetahuan pendidikan yang terdokumentasi, teruji, dan dapat dikembangkan.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana inovasi tersebut memperoleh pengakuan pemerintah tanpa menimbulkan beban ganda. Pesantren dan sekolah tidak semestinya dipaksa menjalankan kurikulum nasional ditambah kurikulum alternatif sebagai dua paket pembelajaran yang terpisah. Yang dibutuhkan adalah mekanisme pemetaan dan ekuivalensi: capaian pembelajaran inovasi dipetakan terhadap standar nasional, diuji secara akademik, dan apabila memenuhi atau melampaui standar, memperoleh pengakuan resmi. Dengan demikian, satu proses pembelajaran dapat sekaligus memenuhi standar nasional dan mengakomodasi kekhasan kurikulum yang dikembangkan melalui sinergi pesantren dan kampus.
Pembagian peran pun menjadi lebih sehat. Pemerintah menetapkan standar, mengatur, memvalidasi, dan menjamin mutu; kampus mengembangkan ilmu dan melakukan pengujian; pesantren dan sekolah menyediakan pengalaman serta ruang praktik; guru menghidupkan pembelajaran; masyarakat memberikan umpan balik. Negara tetap hadir sebagai penjamin mutu, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya produsen gagasan kurikulum. Masyarakat pendidikan memperoleh ruang untuk berinovasi, sementara pemerintah memiliki instrumen untuk memastikan bahwa inovasi tersebut tetap memenuhi kepentingan nasional.
Di sinilah pelajaran dari Montessori, Advanced Placement, International Baccalaureate, Edexcel, dan Cambridge menjadi penting. Indonesia tidak perlu menyalin isi kurikulum mereka. Yang perlu dipelajari adalah bagaimana sebuah gagasan pendidikan lahir, dikembangkan, diuji, memperoleh kepercayaan, dan akhirnya mendapatkan pengakuan luas. Sesungguhnya Indonesia memiliki pengalaman yang sejalan. Madrasah dan pesantren sejak sebelum kemerdekaan telah berinteraksi dengan pusat-pusat keilmuan dunia, menyerap gagasan dari Haramain, Mesir, dan jaringan keilmuan lainnya, kemudian mengolahnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat Nusantara.
Sinergi kampus dan pesantren karena itu dapat menjadi bentuk baru pengembangan pendidikan Indonesia. Kerja sama tidak berhenti pada seminar, penelitian, pengabdian masyarakat, atau praktik mahasiswa, tetapi berkembang menjadi kerja bersama menghasilkan pengetahuan dan inovasi kurikulum. FKIP UNTIRTA belajar dari pengalaman pesantren, sementara pesantren memperoleh penguatan metodologis dari ilmu kependidikan. Pengalaman memberi bahan bagi ilmu, sedangkan ilmu membantu pengalaman menjadi lebih terukur, terdokumentasi, dapat diuji, dan dapat dikembangkan.
Pada akhirnya, pembaruan kurikulum membutuhkan ruang yang lebih luas daripada sekadar pergantian kebijakan. Kurikulum menyangkut bagaimana manusia belajar, bagaimana guru mengajar, bagaimana pengetahuan dibangun, bagaimana karakter tumbuh, dan bagaimana peserta didik mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Karena itu, kurikulum lebih membutuhkan olahan ilmu daripada palu politik. Politik dapat menetapkan arah dan negara dapat memberikan legitimasi, tetapi mutu desain kurikulum semestinya lahir dari riset, pengalaman pendidik, dialog akademik, pengujian di lapangan, dan evaluasi yang jujur.
Momentum pembaruan buku ajar yang kini digagas Presiden Prabowo dapat menjadi pintu masuk menuju agenda yang lebih besar: Indonesia bukan hanya membandingkan pendidikan kita dengan dunia, tetapi juga menemukan kembali kekayaan pendidikan Indonesia untuk ditawarkan kepada dunia. Dari rintisan para kiai, pengalaman pesantren dan madrasah, satuan pendidikan formal, serta sentuhan keilmuan FKIP UNTIRTA, dapat dibangun laboratorium inovasi kurikulum yang tumbuh dari masyarakat. Dari pesantren, melalui kampus, diolah oleh ilmu, diuji dalam praktik, dan diakui negara—untuk merancang kurikulum Indonesia yang berakar pada kekayaan bangsa dan terbuka terhadap kemajuan dunia.
Penulis: Dekan FKIP UNTIRTA
RAJA MEDIA - Opini 2026.![]()
Olahraga 5 hari yang lalu
Nasional | 4 hari yang lalu
Olahraga | 5 hari yang lalu
Nasional | 4 hari yang lalu
Olahraga | 5 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu
Nasional | 4 hari yang lalu
Parlemen | 6 hari yang lalu
Parlemen | 3 hari yang lalu
Info Haji | 4 hari yang lalu