Golkar Dorong Pileg, Pilpres, dan Pilkada Dipisah: Hasil Pileg Jadi Tiket Capres
RAJAMEDIA.CO – Jakarta – Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia mengusulkan agar penyelenggaraan Pemilu Legislatif (Pileg), Pemilu Presiden (Pilpres), dan Pilkada dipisahkan. Doli juga mendorong agar Pileg digelar lebih dahulu, sehingga hasilnya dapat menjadi dasar pencalonan presiden pada tahun yang sama.
Gagasan tersebut disampaikan Doli saat membahas desain keserentakan pemilu, Selasa (22/9/2026). Ia menyebut Indonesia pernah memiliki pengalaman penyelenggaraan Pileg lebih dahulu, kemudian Pilpres dan Pilkada.
“Ya kita sudah punya pengalaman seperti Pemilu 2014, Pileg dulu, kemudian Pilpres, baru Pilkada. Hasil Pileg di tahun itulah yang akan menjadi 'ticket' pencalonan Pilpres,” ujar Doli kepada wartawan, Selasa (22/9/2026).
Tiga Alasan Pemilu Dipisahkan
Doli menyampaikan setidaknya tiga alasan mengapa Pileg, Pilpres, dan Pilkada menurutnya perlu diselenggarakan secara terpisah.
Pertama, pemisahan dinilai dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk lebih fokus mengikuti masing-masing kontestasi. Pemilih dapat mengenali calon, menilai karakter, isu, visi, dan misi sebelum menentukan pilihan.
“Dengan seperti itu, maka dipastikan tidak akan terjadi overlapping, tumpang tindih, atau penenggelaman isu satu sama lain pada saat kampanye,” kata Doli.
Menurut dia, pemilih juga akan memiliki ruang lebih leluasa untuk mengenal calon presiden dan wakil presiden, anggota DPR, maupun kepala daerah tanpa harus membagi perhatian dengan agenda pemilihan lainnya.
Hasil Pileg Dinilai Lebih Aktual
Alasan kedua berkaitan dengan mekanisme pencalonan presiden. Doli menyoroti penggunaan hasil pemilu lima tahun sebelumnya sebagai dasar pencalonan pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Menurut Doli, aspirasi politik masyarakat dapat berubah dalam rentang lima tahun. Kondisi tersebut, menurut dia, dapat membuat dukungan terhadap partai politik dan pasangan calon presiden tidak lagi sepenuhnya mencerminkan aspirasi politik pada saat Pilpres digelar.
“Tentu sangat dimungkinkan terjadinya perbedaan aspirasi politik dalam kurun waktu lima tahun itu, yang akhirnya bisa membuat tidak relevan antara aspirasi dukungan kepada Partai Politik dan Presiden-Wakil Presiden pada saat Pemilu itu dilangsungkan,” ujarnya.
Karena itu, Doli mengusulkan Pileg dilaksanakan terlebih dahulu sehingga hasilnya dapat menjadi “ticket” pencalonan Pilpres pada tahun yang sama.
Kurangi Tumpang Tindih Isu Kampanye
Doli juga menilai pemisahan jadwal dapat membuat isu yang muncul dalam setiap kontestasi lebih terfokus.
Dalam skema pemilu yang digelar secara terpisah, masyarakat dapat memberikan perhatian pada agenda Pileg terlebih dahulu, kemudian Pilpres, dan selanjutnya Pilkada.
Ia berharap pola tersebut dapat memberikan ruang bagi pemilih untuk memahami isu dan kandidat dalam setiap jenis pemilihan secara lebih spesifik.
Beban Penyelenggara Bisa Lebih Ringan
Alasan ketiga berkaitan dengan aspek teknis penyelenggaraan pemilu.
Doli menyebut pemisahan ketiga jenis pemilu dapat mengurangi beban kerja penyelenggara karena masing-masing kontestasi tidak harus dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan.
“Ketiga, dari aspek teknis, kalau ketiga jenis Pemilu dipisah dan diselenggarakan masing-masing, tentu akan lebih meringankan beban kerja penyelenggara Pemilu,” kata Doli.
Usulan tersebut kini menjadi bagian dari pembahasan mengenai desain keserentakan pemilu dan mekanisme pencalonan presiden untuk pemilu mendatang.
RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.![]()
Nasional 2 hari yang lalu
Olahraga | 4 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Nasional | 6 hari yang lalu
Hukum | 6 hari yang lalu
Parlemen | 4 hari yang lalu
Politik | 1 hari yang lalu
Hukum | 1 minggu yang lalu
Nasional | 4 hari yang lalu
Nasional | 2 hari yang lalu