Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Puluhan Juta Anak RI Tak Minum Susu, Putra Nababan Sentil Negara & Industri

Laporan: Halim Dzul
Jumat, 06 Februari 2026 | 12:28 WIB
Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan - Humas DPR RI
Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan - Humas DPR RI

RAJAMEDIA.CO - Cikarang, Legislator - Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan menyoroti masih rendahnya konsumsi susu di kalangan anak-anak Indonesia, meski pemerintah terus mendorong peningkatan gizi nasional. Ia mengungkapkan keprihatinannya karena hingga kini puluhan juta anak Indonesia belum mengonsumsi susu secara rutin, sebuah kondisi yang dinilainya sebagai “kerugian harian” bagi masa depan bangsa.
 

Pernyataan tersebut disampaikan Putra saat kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke PT Frisian Flag Indonesia di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).
 

“Setiap hari ada loss, Pak. Tapi anak-anak kita—entah anak siapa—ini pasti anaknya seseorang yang tidak minum susu,” ujar Putra dengan nada prihatin.
 

Tanggung Jawab Bersama Negara dan Swasta
 

Putra menegaskan bahwa pemenuhan gizi anak tidak bisa hanya dibebankan kepada negara. Menurutnya, sektor swasta, khususnya industri susu, harus turut memikul tanggung jawab sosial untuk memastikan akses susu bisa dinikmati lebih luas oleh anak-anak Indonesia.
 

“Negara bertanggung jawab, Pak. Swasta juga ikut membantu. Swasta harus ikut mendukung dalam hal ini. Faktanya ada 30 sekian juta anak kita yang tidak minum susu,” tegas politisi PDI Perjuangan itu.
 

Ia menilai, di tengah kemajuan industri pengolahan susu yang semakin modern, masih adanya jutaan anak yang tidak mengonsumsi susu merupakan ironi besar yang tidak boleh diabaikan.
 

Kritik ‘Statistik Bohong’ Konsumsi Susu
 

Putra juga mengkritisi pendekatan kebijakan yang terlalu bertumpu pada angka statistik, namun tidak mencerminkan realitas di lapangan. Ia menyebut, kebijakan yang hanya mendorong konsumsi susu satu hingga dua kali dalam sepekan tidak cukup menjawab persoalan gizi anak.
 

“Padahal Presiden minta minum susu. Lalu kita justifikasi seminggu dua kali supaya statistiknya bagus. Itu namanya statistik bohong. Faktanya, mereka tidak minum susu,” katanya lugas.
 

Menurutnya, kebijakan gizi anak harus dilihat dengan empati dan keberpihakan nyata, bukan sekadar untuk memperindah laporan angka.
 

Desak Kemenperin Ambil Peran Lebih Tegas
 

Lebih lanjut, Putra mendorong Kementerian Perindustrian agar memiliki target yang jelas dalam meningkatkan konsumsi susu nasional. Ia juga meminta agar Kemenperin mengoordinasikan peran industri swasta supaya lebih aktif menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan asupan gizi memadai.
 

“Apa tanggung jawab perindustrian? Di sini kuncinya. Kumpulkan swasta. Di tengah kecanggihan produksi industri susu, masih ada jutaan anak-anak yang tidak bisa minum susu. Ini harus kita pandang dengan hati, bukan hanya dengan kepala,” ungkapnya.
 

Gizi Anak sebagai Fondasi Industri Pangan Berkelanjutan
 

Putra menegaskan, peningkatan konsumsi susu harus menjadi bagian integral dari pembangunan industri pangan nasional yang berbasis gizi, berdaya saing, dan berkelanjutan. Baginya, isu ini bukan semata persoalan industri, melainkan menyangkut masa depan generasi bangsa.
 

“Saya ingin membuka hati kita semua. Di tengah pabrik yang hebat ini, masih ada jutaan anak yang tidak bisa minum susu,” pungkas Putra Nababan.rajamedia

Komentar: