Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Opening House yang Dipelintir

Oleh: H. Dede Zaki Mubarok
Kamis, 01 Januari 2026 | 13:34 WIB
Menteri PKP Maruarar Sirait saat merealisasikan perumahan untuk rakyat -
Menteri PKP Maruarar Sirait saat merealisasikan perumahan untuk rakyat -

RAJAMEDIA.CO - SAYA mengenal Maruarar Sirait bukan hari ini.
Bukan pula sejak ia duduk sebagai menteri.
 

Saya mengenalnya sejak 2005, saat saya masih menjadi wartawan di salah satu media politik nasional. Waktu itu, Ara—begitu ia akrab disapa—belum sepopuler sekarang. Tapi satu hal yang menonjol sejak dulu: ia konsisten hadir di tengah masyarakat, bukan hanya saat kamera menyala.
 

Dari DPR RI hingga kini berada di pemerintahan, konstintensi Maruarar Sirait tidak berubah. Ia membantu masyarakat dengan cara yang sama: turun langsung, mendengar, dan bertindak. Bukan hanya lewat pidato atau unggahan media sosial.

Menteri Agama Nasaruddin Umar dan para tokoh agama di acara open house natal Maruarar Sirait - Istimewa -
 

Konstituen yang Tak Memandang Agama
 

Di Majalengka, Subang, Sumedang, kecintaan masyarakat kepada Ara bukan cerita baru. Ia berasal dari latar belakang agama yang berbeda dengan mayoritas warga di daerah-daerah itu. Namun fakta di lapangan berbicara lain: Ara dicintai karena kerjanya, bukan karena identitasnya.
 

Masyarakat di sana merasakan langsung perannya—mulai dari urusan rumah rakyat, bantuan sosial, hingga pendampingan ketika mereka menghadapi masalah nyata. Bahkan saat Pilpres, ketika Ara mengambil sikap politik yang tidak populer bagi sebagian kalangan dan memilih menyebrang ke Prabowo, masyarakat tidak meninggalkannya.
 

Itu bukti bahwa relasi yang dibangun bukan relasi transaksional, melainkan relasi kepercayaan.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi puh hadir bersama Menko Pangan Zulkifli Hasan - Istimewa -
 

Open House Natal: Rutinitas, Bukan Panggung
 

Open house Natal di rumah pribadi Maruarar Sirait bukan hal baru. Itu rutinitas tahunan. Saya hadir di sana. Dan yang saya lihat jauh dari sekadar pesta.
 

Yang hadir bukan hanya menteri, ketua umum partai, atau pengembang besar. Aktivis, tokoh lintas agama, politisi lintas partai, anggota dewan, pejabat, jurnalis, hingga masyarakat biasa bercampur tanpa sekat. Semua duduk, berbincang, dan berkoordinasi.
 

Namun, ketika acara itu disorot layar, yang tampak hanya satu sisi: kemewahan. Rumah besar. Tokoh besar. Nama besar. Padahal, yang luput dari sorotan justru esensinya.
 

Di Balik Sorotan Kamera
 

Di balik open house itu, terjadi koordinasi bantuan untuk korban bencana, pembicaraan distribusi bantuan Natal bagi masyarakat terdampak, dan konsolidasi jejaring sosial lintas kelompok. Banyak keputusan kemanusiaan lahir bukan di ruang rapat formal, tetapi di ruang-ruang seperti ini—hangat, cair, dan jujur.

Acara itu tampak mewah karena kamera memilih siapa yang ingin ditampilkan: menteri, ketum parpol, pengembang. Aktivis yang datang tanpa atribut kekuasaan sering terlewatkan. Padahal mereka ada, dan mereka bekerja.

Bahkan urusan konsumsi pun jauh dari kesan glamor. Untuk ukuran rumah mewah Maruarar Sirait, makanannya sederhana: bakso, sop dudung. Tidak ada jamuan elite berlapis protokol. Yang ada adalah suasana rumah yang dibuka untuk siapa saja.
 

Yang Dipelintir, Yang Terlewat
 

Di era media sosial, yang tampak sering lebih penting daripada yang bermakna. Open house itu dipelintir seolah-olah sekadar ajang pamer kuasa dan kemewahan. Padahal, bagi mereka yang hadir dan memahami konteksnya, itu adalah ruang perjumpaan sosial—tempat empati bertemu aksi.
 

Maruarar Sirait boleh kini berada di lingkar kekuasaan. Tapi satu hal tidak berubah sejak saya mengenalnya dua dekade lalu: ia menggunakan relasi dan posisinya untuk membantu masyarakat, bukan menjauh darinya.
 

Dan barangkali, itulah yang paling sulit ditangkap oleh kamera.
 

Penulis: 
Wartawan Senior, Ketua DPP PJS, Wakil Ketua Tim Peduli IKALUIN Aceh-Sumatrarajamedia

Komentar: