Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Menag Sentil Alumni PTKIN: Tanpa Prestasi Besar, Kampus Belum Layak Disebut Hebat!

Laporan: Firman
Sabtu, 25 April 2026 | 09:08 WIB
Menag Nasaruddin Umar saat menutup Pertemuan Nasional Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PTKIN di Jakarta, Jumat (24/4/2026). - Foto: Dok Kemenag -
Menag Nasaruddin Umar saat menutup Pertemuan Nasional Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PTKIN di Jakarta, Jumat (24/4/2026). - Foto: Dok Kemenag -

RAJAMEDIA.CO - Jakarta – Ukuran hebat tidaknya sebuah kampus ternyata bukan dari gedung megah atau jumlah mahasiswa. Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan kualitas Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) justru ditentukan oleh kiprah alumninya di tengah masyarakat.
 

Pernyataan tegas itu disampaikan saat menutup Pertemuan Nasional Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PTKIN di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
 

Alumni Harus Bikin “Kejutan”, Bukan Sekadar Lulus
 

Menurut Menag, alumni adalah wajah nyata dari mutu pendidikan sebuah kampus. Jika tidak ada capaian besar atau kontribusi signifikan, maka kualitas perguruan tinggi patut dipertanyakan.
 

“Alumni adalah cermin mutu almamater. Kalau tidak ada yang membuat kejutan, berarti kampus itu belum hebat,” tegasnya.
 

Spesialisasi Ilmu Jadi Kunci Daya Saing Global
 

Menag juga mengingatkan pentingnya konsistensi akademik para alumni. Ia mendorong agar lulusan PTKIN memiliki keilmuan yang mendalam dan linear.
 

Menurutnya, pola ini sudah menjadi tradisi di negara-negara maju—di mana spesialisasi menjadi kekuatan utama untuk bersaing di level global.
 

Dari ‘Power of I’ ke ‘Power of Connectivity’
 

Dalam pidatonya, Menag mengungkap perubahan besar dalam dunia jejaring. Kini, kekuatan tidak lagi bertumpu pada individu atau sekadar kebersamaan, melainkan konektivitas.
 

“Sekarang eranya The Power of Connectivity. Jaringan adalah instrumen paling kuat,” ujarnya.
 

Ia menegaskan, alumni harus menjadi mitra strategis kampus yang terhubung secara emosional dan intelektual—bukan berjalan sendiri-sendiri.
 

Tinggalkan Ego Kampus, Bangun Kekuatan Kolektif
 

Menag mengajak seluruh alumni PTKIN untuk menanggalkan sekat-sekat sektoral antar kampus.
 

“Kalau bergerak sendiri-sendiri, hasilnya biasa saja. Tapi kalau disinergikan, Indonesia bisa jadi pusat peradaban Islam dunia,” tandasnya.
 

IKA Harus Dibentuk, Jangan Ditunda
 

Sementara itu, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, menekankan pentingnya keberadaan wadah formal alumni.
 

Ia meminta para rektor yang belum memiliki Ikatan Keluarga Alumni (IKA) untuk segera membentuknya.
 

“Ini sangat strategis, bukan hanya untuk kampus tapi juga untuk bangsa,” ujarnya.
 

Tokoh Nasional Hadir, Konsolidasi Diperkuat
 

Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk Ismail Cawidu, Idrus Marham, serta Arskal Salim.
 

Pesan Menag jelas: kampus tak cukup mencetak lulusan. Yang dibutuhkan adalah alumni yang mengguncang dunia.rajamedia

Komentar: