Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Melahirkan Generasi Uwais Al Qarni

Oleh: Zulhidayat Siregar
Minggu, 01 Februari 2026 | 07:08 WIB
Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak mengikuti fun walk 7,5 km pada Sabtu (24/2) lalu dalam rangkaian kegiatan Diklat PPIH Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. ist
Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak mengikuti fun walk 7,5 km pada Sabtu (24/2) lalu dalam rangkaian kegiatan Diklat PPIH Arab Saudi 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. ist

RAJAMEDIA.CO - Demi memenuhi keinginan ibunya yang sudah tua dan dalam keadaan lumpuh untuk menunaikan ibadah haji, Uwais Al Qarni yang hidup miskin dan tidak memiliki kendaraan untuk membawa sang ibu ke Tanah Suci lantas berinisiatif membeli anak lembu. Dia kemudian membuat kandang di puncak bukit.


Setiap hari pemuda yang tinggal Qarn, Bareq, Asir, wilayah Arab Saudi (sekarang) dekat perbatasan di Yaman ini menggendong anak lembu tersebut turun naik bukit. Seiring berjalan waktu, lembu Uwais semakin besar. Energi dan tenaga yang dibutuhkan untuk mengangkatnya pun bertambah.


Tapi karena setiap hari dibopong, pertambahan berat badan anak lembu itu tidak memberatkan bagi Uwais Al Qarni. Setelah 8 bulan berlalu bertepatan dengan musim haji tiba, berat lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram. Dia pun menjadi lebih berotot dan bertenaga.


Dengan demikian, Uwais Al Qarni pun siap untuk menggendong ibunya dan membawa berbagai perbekalan lainnya melewati padang tandus yang panas sejauh ratusan kilometer menuju Kota Makkah untuk melaksanakan rukun Islam kelima tersebut.


Latihan Fisik Petugas Haji


Kisah yang sangat masyhur terkait keteladan Uwais Al Qarni dalam mempersiapkan diri membawa ibunya berhaji ini selalu terngiang ketika saya mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 selama tiga pekan (10-30 Januari 2026) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.


Karena dalam diklat yang dilaksanakan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) seharian penuh dari pukul 04.00-22.00 WIB itu, sebanyak 1636 peserta tidak hanya diberikan materi seputar tugas dan fungsi (tusi) petugas haji, fikih haji, pendidikan dasar Bahasa Arab, dan berbagai pelajaran lainnya yang terkait perhajian.


Tapi juga yang tidak kalah penting adalah latihan fisik dan kedisiplinan di bawah asuhan langsung para instruktur dan pelatih dari TNI/Polri. Latihan fisik ini penting karena seluruh rangkaian rukun dan wajib haji (kecuali niat) terkait dengan aktivitas gerak badan dengan jarak tempuh cukup jauh sehingga sangat menguras energi.


Kesehatan dan kekuatan fisik pun mutlak dimiliki oleh jamaah haji, apalagi para petugas yang akan membantu kelancaran pelaksanaan ibadah yang dilakukan secara kolosal tersebut.


Karena itu saban hari setelah shalat subuh berjamaah semua peserta didik (serdik) PPIH Arab Saudi wajib mengikuti olahraga pagi berupa senam dan jalan sehat selama satu jam. Setiap akhir pekan juga dilaksanakan fun walk dengan jarak tempuh yang terus ditingkatkan secara bertahap. Dari 5 km, 7,5 km, hingga 10 km.


Meskipun untuk yang terakhir tidak jadi terlaksana karena faktor cuaca. Bahkan tidak hanya itu, seharian penuh pada pekan pertama semua serdik juga mengikuti kegiatan Peraturan Baris Berbaris (PBB), latihan fisik terstruktur untuk menanamkan disiplin, karakter, dan kekompakan.


Semua itu dilakukan sebagai bentuk keseriusan Kemenhaj untuk membentuk petugas haji yang sehat, prima dan kuat secara fisik. Hal ini penting karena petugas inilah yang menjadi garda terdepan dalam melakukan pembinaan, pelayanan, dan pelindungan terhadap 203.320 orang jamaah haji reguler.


Terlebih mayoritas dari jamaah tersebut (170 ribu) berkategori risiko tinggi (risti) yang memiliki penyakit penyerta (komorbid) serta kondisi fisik yang memerlukan perhatian khusus. Belum lagi 33 ribu di antaranya adalah jemaah lansia yang berusia di atas 65 tahun.


Karena itu kesiapsiagaan melayani jamaah ini nantinya dibuktikan dengan seragam petugas yang diwajib dipakai selama berada di Tanah Suci. Hanya ketika istirahat dalam kamar hotel, pakaian petugas boleh dilepas. Bahkan sejak berangkat dari embarkasi hingga kembali ke Tanah Air para petugas haji memakai seragam kebanggaan tersebut.


Bentuk Nyata Keteladanan


Motto di kalangan militer "lebih baik mandi keringat dalam latihan daripada mandi darah dalam pertempuran" yang kerap disampaikan para instruktur dan pelatih menjadi pelecut bagi para calon petugas haji serius dalam mengikuti latihan fisik.


Para serdik semakin termotivasi lagi oleh keteladanan yang ditunjukkan secara langsung oleh pimpinan Kemenhaj, terutama Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak. Wamen Dahnil yang memang rutin berolahraga setiap hari ini senantiasa membersamai dalam kegiatan fun walk bahkan melebihi jarak tempuh para peserta.


Terlebih ingatan terhadap momen Wamen Dahnil menggendong jamaah haji lansia yang kelelahan pada pelaksanaan haji tahun lalu semakin menginspirasi para calon petugas haji untuk menyiapkan kebugaran dan kekuatan fisik secara serius. Aksi sigapnya ini juga menjadi panduan hidup bagi para petugas dalam melayani jamaah nantinya.


Karena itu kebiasaan berolahraga selama di 'barak' ini pun harus menjadi menjadi habit dan kebiasaan baru yang mesti dilanjutkan bahkan ditingkatkan lagi selepas mengikuti diklat. Apalagi masih ada waktu sekitar 2,5 bulan sebelum berangkat ke 'medan juang.'


Bekerja Senyap, Menolak Privilege


Selain persiapan fisik secara matang, setidaknya ada dua pelajaran penting lainnya yang mesti dipetik oleh para calon petugas haji dari Uwais Al Qarni, sosok yang terkenal di langit asing di bumi, penghulu para ahli ibadah, simbol ketulusan para zuhud, bahkan Nabi Muhammad SAW menyebutnya sebagai seorang tabiin terbaik.


Pertama, bekerja secara senyap. Salah satu keistimewaan Uwais Al Qarni adalah doanya makbul. Bahkan Nabi Muhammad SAW mendorong Sahabat Umar RA untuk mencarinya dan meminta Uwais Al Qarni untuk mendoakan dan memohonkan ampunan apabila bertemu dengannya. Umar pun melakukannya.


Menariknya, keistimewaan yang dimiliki Uwais Al Qarni tidak membuatnya sombong dan pamer kepada khalayak. Bahkan ketika ada yang mengetahui kelebihannya itu, dia berupaya menghindar dan baru bersedia untuk mendoakan dengan syarat orang tersebut tidak menyebarkan informasi terkait dirinya yang bersumber dari Umar tersebut.


Demikianlah sejatinya juga para petugas haji. Amanah yang diterima bukan sesuatu yang harus dibangga-banggakan, dipamerkan. Karena ini sejatinya adalah dorongan untuk menjalankan amanah sebaik-baiknya. Bekerja sepenuh hati meski tanpa sorot kamera.


Hal ini memang tantangan nyata di era menguatnya fenomena digital narcissism sekarang ini. Karena itu para petugas haji jangan sampai lebih sibuk memposting daripada melayani jamaah.


Kedua, menolak privilege. Ketika mengetahui mengetahui Uwais Al Qarni akan melakukan perjalanan ke Kufah (Irak), Khalifah Umar menawarkan diri untuk menyiapkan memo yang ditujukan kepada pejabat di Kufah agar memberikan perlakukan khusus kepadanya. Tapi Uwais menolak karena dirinya Iebih senang bersama rakyat jelata.


Sikap Uwais Al Qarni ini juga sangat penting untuk diteladani. Mengingat petugas haji berasal dari berbagai latar belakang dan profesi. Seperti dosen, kiai, dokter, pejabat dari kementerian, hingga dari kalangan TNI/Polri.


Seperti kerap diingatkan para pimpinan Kemenhaj, semua jabatan dan profesi itu harus ditanggalkan selama bertugas di Tanah Suci. Semuanya harus bekerja sepenuh hati melayani jamaah. Jangan sampai malah meminta untuk dilayani.


Insya-Allah, setelah menjalani diklat selama tiga pekan, kini telah lahir generasi Uwais Al Qarni yang kuat secara fisik, mental, dan komitmen untuk menjalankan tugas pelayanan kepada jamaah sehingga pelaksanaan ibadah haji tahun ini akan jauh lebih baik dari sebelumnya.


Terima kasih kepada pelatih, instruktur, para narasumber, dan terutama pihak Kemenhaj yang telah melakukan terobosan dalam mempersiapkan petugas haji secara serius. Semoga kami, para petugas haji, bisa menjalankan amanah ini sebaik-baiknya. Aamiin.


Zulhidayat Siregar

Peserta Diklat PPIH Arab Saudi 2026 rajamedia

Komentar: