Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Jejak 42 Tahun Jurnalistik, Haedar Nashir Diganjar Kartu Wartawan Utama Khusus

Laporan: Firman
Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:40 WIB
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menerima Kartu Wartawan Utama Khusus yang diterbitkan Dewan Pers dalam rangkaian Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026). - Foto: Dok Muhammadiyah -
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menerima Kartu Wartawan Utama Khusus yang diterbitkan Dewan Pers dalam rangkaian Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026). - Foto: Dok Muhammadiyah -

RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menerima Kartu Wartawan Utama Khusus yang diterbitkan Dewan Pers dalam rangkaian Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Kamis (13/8/2026).
 

Penyerahan kartu tersebut berlangsung bersamaan dengan Orasi Ilmiah Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 yang digelar Majelis Pustaka Informasi (MPI) PP Muhammadiyah bersama Lembaga Uji Kompetensi Wartawan (UKW) UMJ.
 

Kartu Wartawan Utama Khusus untuk Haedar Nashir telah disetujui Dewan Pers pada Maret 2026. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas perjalanan panjang Haedar di dunia jurnalistik sejak masa mahasiswa sekitar 1982 hingga kini masih aktif menulis.
 

Empat Dekade Mengabdi di Dunia Jurnalistik
 

Haedar menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas penghargaan yang diberikan Dewan Pers setelah perjalanan sekitar 42 tahun berkarya di dunia pers.

Menurut Haedar, menjadi wartawan merupakan salah satu cita-cita yang telah lama melekat dalam perjalanan hidupnya.
 

“Secara persisnya, ada yang mungkin lebih awal lagi atau lebih lanjut. Saya benar-benar menjadi wartawan di Suara Muhammadiyah, media tertua di Indonesia yang berdiri pada 1915,” kata Haedar melansir laman muhammadiyah.or.id.
 

Bagi Haedar, perjalanan jurnalistik bukan sekadar aktivitas menulis, tetapi juga menjadi bagian dari proses intelektual dan pengabdian dalam menyampaikan gagasan kepada masyarakat.
 

Pers dan Literasi Jadi DNA Muhammadiyah
 

Ketua MPI PP Muhammadiyah Muchlas MT menjelaskan, pers memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Muhammadiyah.
 

Hal itu ditandai dengan lahirnya Suara Muhammadiyah pada 1915, yang menjadi salah satu media tertua di Indonesia.
 

“Sejarah tersebut menunjukkan bahwa pers dan literasi bukan sekadar instrumen komunikasi Muhammadiyah, tetapi merupakan bagian dari tradisi intelektual dan gerakan pencerdasan dakwah menyertai perjalanan Muhammadiyah sejak awal berdirinya,” kata Muchlas.
 

Menurutnya, sejarah tersebut menunjukkan Muhammadiyah bukan hanya gerakan amal kebajikan, tetapi juga merupakan gerakan intelektual.
 

Karena itu, literasi dinilai telah menjadi bagian dari DNA gerakan Muhammadiyah.
 

Pers Menjadi Kanal Pembaruan Gagasan
 

Muchlas mengatakan tradisi intelektual yang disalurkan melalui pers menjadi salah satu kunci Muhammadiyah untuk terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
 

Melalui pers dan literasi, gagasan pembaruan dapat disampaikan kepada publik sekaligus menjadi sarana menggemakan nilai-nilai Islam dan mencerdaskan kehidupan masyarakat.
 

Berangkat dari kesadaran sejarah tersebut, PP Muhammadiyah menetapkan 13 Agustus sebagai Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah.
 

Penetapan tersebut menjadi bentuk penghargaan terhadap perjalanan panjang pers sekaligus tradisi literasi dalam gerakan Muhammadiyah.
 

UMJ Dorong Pers Tetap Jadi Pilar Demokrasi
 

Rektor UMJ Ma’mun Murod berharap peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah dapat menjadi momentum untuk menjaga kesadaran mengenai posisi pers sebagai salah satu pilar penting demokrasi.
 

Pers tidak hanya dituntut mampu menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kualitas informasi yang diterima masyarakat.
 

Di tengah perubahan ekosistem media dan derasnya arus informasi digital, peran jurnalis profesional semakin dibutuhkan.
 

Dewan Pers Soroti Ancaman Hoaks
 

Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat turut memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah.
 

Ia menilai masyarakat saat ini menghadapi tantangan besar berupa banjir informasi, disinformasi, hingga berita palsu.
 

“Berita hari ini banyak yang hoaks dan palsu. Banyak sekali disinformasi. Padahal masyarakat itu kebutuhan pada informasi itu layaknya kebutuhan pada udara dan minum,” kata Komarudin.
 

Menurutnya, masyarakat membutuhkan informasi setiap saat sehingga kualitas dan kredibilitas pers menjadi sangat penting.
 

Karena itu, insan pers dituntut memiliki dedikasi, tanggung jawab, reputasi, serta kualitas dalam menjalankan profesinya.
 

Verifikasi Jadi Kunci Pers Berkualitas
 

Komarudin menekankan pentingnya proses verifikasi dalam setiap pemberitaan agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat benar-benar memberikan pencerahan dan pemahaman yang tepat.
 

Ia juga mengapresiasi keterlibatan Muhammadiyah dan berbagai kelompok masyarakat dalam menjaga kualitas ekosistem informasi.
 

Menurutnya, keberadaan organisasi masyarakat dan kelompok intelektual seperti Muhammadiyah dapat menjadi kekuatan penting dalam menghadapi tantangan informasi di era digital.
 

Peringatan Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah 2026 pun menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa pers bukan sekadar penyampai berita, tetapi bagian dari tradisi intelektual, pencerdasan, dan penjaga kualitas demokrasi.
 

Sementara bagi Haedar Nashir, penghargaan berupa Kartu Wartawan Utama Khusus menjadi penanda perjalanan panjang lebih dari empat dekade mengabdi melalui dunia jurnalistik.
 

42 tahun menulis, pers tetap menjadi jalan pengabdian.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: