Rupiah Rp17.500 per Dolar, Marwan Cik Asan: Alarm Bahaya Sudah Menyala!
RAJAMEDIA.CO - Jakarta, Legislator – Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh kisaran Rp17.500 per dolar AS mulai memantik kekhawatiran publik. Namun, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Demokrat Marwan Cik Asan menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum bisa disamakan dengan krisis 1998.
Menurut Marwan, tekanan terhadap rupiah memang terjadi akibat kombinasi faktor eksternal dan domestik yang berlangsung bersamaan. Meski begitu, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih relatif kuat.
“Cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman, rasio utang pemerintah terhadap PDB masih terkendali, sistem perbankan relatif sehat,” kata Marwan dalam keterangannya, Kamis (14/5/2026).
Alarm Ekonomi Mulai Berbunyi
Meski meminta publik tidak panik, Marwan mengingatkan pelemahan rupiah tetap harus diwaspadai serius.
Menurutnya, volatilitas nilai tukar yang terlalu tinggi bisa memicu imported inflation atau kenaikan harga barang impor, memperbesar beban utang luar negeri, hingga menekan daya beli masyarakat.
“Karena itu respons kebijakan harus dilakukan secara terukur dan terkoordinasi,” ujarnya.
Ia menegaskan pemerintah dan otoritas moneter tidak boleh hanya fokus pada solusi jangka pendek.
BI Diminta Bergerak Hati-hati
Marwan menilai Bank Indonesia perlu melanjutkan strategi stabilisasi rupiah melalui intervensi pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar offshore.
Namun ia mengingatkan intervensi jangan sampai menguras cadangan devisa secara berlebihan.
Selain itu, komunikasi kebijakan BI dinilai sangat penting untuk menjaga kepercayaan pasar.
“Dalam situasi tekanan pasar, persepsi sering kali lebih menentukan dibanding data fundamental,” katanya.
Dolar Dibatasi, Tapi Jangan Bikin Panik
Marwan juga mengapresiasi kebijakan pembatasan pembelian dolar AS tanpa underlying transaction.
Namun menurutnya, implementasi kebijakan itu harus dilakukan hati-hati agar tidak memicu kepanikan baru di pasar keuangan.
Ia mengingatkan stabilitas pasar sangat dipengaruhi kepercayaan pelaku usaha dan investor.
Devisa Ekspor Jangan “Parkir” di Luar Negeri
Selain langkah moneter, Marwan meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) yang selama ini masih banyak disimpan di luar negeri.
Menurutnya, kebijakan DHE harus konsisten dan memberi kepastian hukum agar dunia usaha tetap percaya terhadap kebijakan pemerintah.
“Kebijakan DHE harus konsisten, tidak berubah-ubah,” tegasnya.
Kurangi Ketergantungan Dolar AS
Marwan juga mendorong percepatan penggunaan skema Local Currency Settlement (LCS) dengan negara-negara mitra dagang utama seperti China, Jepang, dan India.
Langkah itu dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional.
Suku Bunga Jangan Naik Terlalu Agresif
Terkait kebijakan suku bunga, Marwan menilai kenaikan suku bunga memang bisa membantu menjaga daya tarik aset domestik dan menahan capital outflow.
Namun ia mengingatkan kenaikan suku bunga yang terlalu agresif berisiko menekan kredit, investasi, hingga konsumsi masyarakat.
“Pendekatan gradual dan data dependent menjadi pilihan paling rasional,” ujarnya.
Pasar Butuh Kepastian
Menurut Marwan, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan hanya tekanan global, tetapi menjaga konsistensi kebijakan dan membangun kepercayaan pasar.
Ia menegaskan stabilisasi jangka pendek memang penting, tetapi solusi permanen tetap harus dilakukan melalui penguatan fundamental ekonomi, reformasi struktural, disiplin fiskal, dan kepastian kebijakan.![]()
Ekbis | 6 hari yang lalu
Keamanan | 2 hari yang lalu
Opini | 4 hari yang lalu
Info Haji | 1 hari yang lalu
Parlemen | 5 hari yang lalu
Nasional | 4 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Parlemen | 6 hari yang lalu
Opini | 4 hari yang lalu