Tekanan Global Menggila, Industri Agro Tetap Tangguh! Kemenperin Gas Inovasi Kemasan
RAJAMEDIA.CO - Jakarta — Di tengah guncangan geopolitik global dan tekanan harga bahan baku, Kementerian Perindustrian memastikan industri agro nasional tetap berdiri kokoh. Sektor makanan dan minuman bahkan disebut masih tangguh, meski dihantam lonjakan harga plastik.
Pemerintah kini tancap gas mendorong inovasi kemasan alternatif demi menjaga keberlanjutan produksi sekaligus memperkuat daya saing industri dalam negeri.
Geopolitik Panas, Industri Tak Ikut Tumbang
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, ketegangan global—terutama di kawasan Timur Tengah—berdampak langsung pada rantai pasok bahan baku kemasan.
Namun alih-alih tertekan, situasi ini justru dijadikan momentum untuk berbenah.
“Ini peluang untuk mempercepat inovasi kemasan alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan,” tegasnya.
Kemasan Jadi Kunci Daya Saing
Sektor makanan dan minuman selama ini menjadi pengguna terbesar plastik industri. Karena itu, transformasi kemasan dinilai krusial agar produksi tetap stabil dan kompetitif.
Pemerintah mendorong pelaku industri beralih ke bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan tidak bergantung pada impor.
Diversifikasi Material Mulai Jalan
Pelaksana Tugas Dirjen Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengungkapkan, pelaku industri mulai bergerak cepat melakukan diversifikasi.
Material kemasan kini meluas ke:
1. Kertas
2. Kaca
3. Logam
4. Plastik daur ulang (recycled PET)
Langkah ini menjadi fondasi penting menuju industri kemasan yang lebih mandiri.
Industri Kertas Jadi Andalan
Kemenperin menilai industri pulp dan kertas nasional punya modal kuat untuk menopang transformasi ini.
Tercatat:
- 113 perusahaan aktif
- Kapasitas pulp: 14,48 juta ton/tahun
- Kapasitas kertas: 25,37 juta ton/tahun
- Ekspor tembus USD 8,2 miliar
- Serap 1,48 juta tenaga kerja
“Potensi kemasan berbasis kertas sangat besar, termasuk untuk ritel hingga e-commerce,” ujar Putu.
Inovasi Digenjot, Teknologi Dipacu
Tak berhenti di situ, berbagai teknologi kemasan masa depan mulai didorong:
- Aseptic packaging
- Barrier paper
- Paper bottle
- Nano-cellulose coating
- Active paper packaging
Tujuannya jelas: efisiensi, keberlanjutan, dan daya saing global.
Bioplastik: Senjata Baru dari Alam
Indonesia juga mulai mengembangkan bioplastik berbasis bahan hayati seperti singkong dan rumput laut.
Saat ini kapasitasnya:
1. Ubi kayu: 8.000 ton/tahun
2. Rumput laut: 28 ton/tahun
Dengan posisi Indonesia sebagai produsen besar bahan baku tersebut, peluang ekspansi dinilai sangat terbuka.
Strategi Besar: Mandiri dan Kompetitif
Kemenperin menegaskan akan terus memantau dinamika global sambil memperkuat struktur industri lewat diversifikasi bahan baku.
Langkah ini jadi kunci agar industri agro nasional tak hanya bertahan, tapi juga melesat di tengah tekanan dunia.
Industri boleh diguncang. Tapi Indonesia tak goyah.![]()
Politik 2 hari yang lalu
Politik | 5 hari yang lalu
Nasional | 6 hari yang lalu
Opini | 4 hari yang lalu
Hukum | 1 hari yang lalu
Opini | 2 hari yang lalu
Olahraga | 3 hari yang lalu
Peristiwa | 6 hari yang lalu
Olahraga | 6 hari yang lalu
Pendidikan | 4 hari yang lalu