Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Tambang Franklin

Oleh: Dahlan Iskan
Senin, 17 Juni 2024 | 09:13 WIB
Catatan Dahlan Iskan tentang izin tambang NU dan pengelolaannya. (Foto: Disway)
Catatan Dahlan Iskan tentang izin tambang NU dan pengelolaannya. (Foto: Disway)

RAJAMEDIA.CO  - Disway - Mampukah NU memiliki tambang batu bara dan mengelolanya?
 

Memilikinya pasti mampu.

 

Mengelolanya? Apalagi yang bisa membuat tambang itu tidak haram?

 

Pengelolaan tambang itu banyak tahapnya: perencanaan teknis, perencanaan bisnis, perencanaan RAB untuk perizinan operasi, perencanaan operasi di lapangan. Lalu perencanaan penjualan, pengapalan dan ekspor.
 

Semua itu NU pasti mampu. Jangankan NU, para perusuh Disway pun mampu. Di semua bidang itu ada konsultannya. Banyak konsultan profesional di bidang-bidang tersebut.

 

Memilih mana konsultan yang terbaik itulah pekerjaan utama NU. Akan banyak juga konsultan 'lillahi ta'ala' yang mengajukan diri. Jangan mudah termakan rayuan. Tetap pilih yang terbaik meski tidak 'lillahi ta'ala'.

 

Ujian pertama adalah itu: memilih konsultan perencanaan. Mampukah NU melakukan proses pemilihan yang tidak haram.

 

Penunjukan konsultan tentu baru dilakukan setelah izin tambang didapat secara resmi. Tapi itu bukanlah satu-satunya izin. Banyak sekali perizinan yang masih harus diurus setelah itu. Semuanya tidak mudah --pun bila ada nama NU di belakangnya.

 

Untuk semua itu NU tidak cukup dibantu para konsultan. NU perlu bantuan Bung Karno dan Bung Hatta. Bahkan mungkin perlu bantuan Presiden Amerika Serikat terhebat dalam sejarah: Benjamin Franklin.

 

Pun di setiap tahap pengoperasian tambang. Harus ada izin. Bung Karno dan Benjamin Franklin perlu sering-sering dihadirkan.

 

Di situlah tantangan halal-haram dipertaruhkan. Izin-izin itu tidak hanya menyangkut restu dan dokumen. Tapi juga sampai pada siapa yang mengetik izin, siapa yang menyiapkan nomor izin, siapa yang mengambilkan stempel, siapa yang mengagendakan surat keluar. Untuk yang bagian ini mungkin tidak perlu Benjamin Franklin.

Cukup Bung Karno yang turun tangan.

 

Dari segi teknis perizinan, NU mampu: NU sudah akrab dengan Bung Karno. Soal halal-haram mungkin bisa pakai hukum darurat.

 

Mungkin, ketika mengantarkan Bung Karno atau B. Franklin lakukanlah sambil berdzikir --mirip saran saat menyembelih babi bacalah "bismillah...".

 

Sepanjang masih ada Bung Karno dan B. Franklin semua kesulitan bisa diatasi. Yang penting izin tambangnya sudah di tangan. Lalu lokasi tambangnya benar-benar sekelas Sandra Dewi. Akan banyak investor yang berminat. Terlalu banyak. Rebutan. Asal jangan dipersoalkan siapa mereka.

 

Untuk mengundang investor perlu konsultan yang lain lagi: konsultan keuangan. Banyak yang mau jadi konsultan keuangan. Berebut.

 

Tapi investor hanya percaya pada konsultan keuangan yang terpercaya. Yang sudah punya nama besar. Kelasnya harus  internasional. Jangan dipersoalkan apalah pemiliknya Yahudi atau Nasrani.

 

Warga NU pasti banyak yang mampu menjadi konsultan keuangan, tapi belum tentu punya yang sudah dipercaya investor besar.

 

Perencanaan bisnis yang dibuat konsultan itulah yang akan jadi "kitab suci" tambang NU.

 

 

Dari situlah NU akan tahu bisa dapat uang berapa triliun setiap tahunnya.

Anda sudah tahu: tahun 2022 laba perusahaan tambang milik Low Tuck Kwong di Kaltim Rp 35 triliun setahun.rajamedia

Komentar:
BERITA LAINNYA
Viral S - 3 [Foto: Disway]
Viral S - 3
Selasa, 16 Juli 2024
Bakal Capres Amerika Donald Trump, telinga kirinya berdarah akibat tembakan orang yang mencoba membunuhnya. [Foto: X elonmusk]
Telinga Kanan
Senin, 15 Juli 2024
Ekpresi Sahat Tua Simanjuntak usai sidang putusan di Pengadilan Tipikor, Selasa, 26 September 2023.-Pace Morris-
Tsunami Pokir
Minggu, 14 Juli 2024
Ilustrasi Kotak Suara ---
Pemilu Dungu
Jumat, 12 Juli 2024
Ilustrasi penanganan kasus pembunuhan dan pembakaran rumah wartawan di Karo. [Foto: DIsway]
Rantai Ginting
Kamis, 11 Juli 2024
Prof Dr Budi Santoso bersalaman dengan rektor Unair Mohammad Nasih. (Foto: Disway)
Dua Ksatria
Rabu, 10 Juli 2024