Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Saleh Daulay Sentil Bank: Jangan Anak Tirikan UMKM, Modal Harus Dibuka Lebar!

Laporan: Halim Dzul
Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:05 WIB
Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay menilai UMKM memiliki kekuatan ekonomi yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. - Ilustrasi RMN -
Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay menilai UMKM memiliki kekuatan ekonomi yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. - Ilustrasi RMN -

RAJAMEDIA.CO — Jakarta — Ketua Komisi VII DPR RI Saleh Partaonan Daulay menilai Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki kekuatan ekonomi yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia.
 

Namun, di balik peran tersebut, UMKM masih menghadapi persoalan klasik yang belum sepenuhnya teratasi, yakni akses permodalan.
 

Hal itu disampaikan Saleh saat RDP Panja Permodalan dan Pembiayaan UMKM di Gedung Nusantara I, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
 

Akses Modal Masih Jadi Masalah
 

Saleh mengatakan permodalan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan apakah sebuah UMKM mampu berkembang atau justru sulit naik kelas.
 

Menurutnya, banyak pelaku UMKM masih kesulitan memperoleh pembiayaan dari lembaga perbankan. Kondisi tersebut membuat UMKM kerap berada pada posisi kedua dibandingkan perusahaan besar dalam memperoleh akses modal.


“Akses permodalan menjadi tantangan utama dalam industri UMKM baik kecil maupun menengah, sebab permodalan merupakan hal utama yang menentukan berkembang atau tidaknya suatu UMKM. Saat ini banyak bank-bank yang enggan melirik UMKM untuk dipinjamkan maupun disalurkan modal yang terkesan UMKM sebagai pilihan kedua,” tutur Saleh.
 

Pendampingan dan Teknologi Dibutuhkan
 

Menurut Saleh, persoalan UMKM tidak hanya dapat diselesaikan dengan memberikan modal.
 

UMKM yang memperoleh pendampingan secara konsisten, akses teknologi, serta dukungan ekosistem dinilai memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.
 

Karena itu, kebijakan pembiayaan UMKM perlu berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas pelaku usaha.
 

Masalah Modal Sudah Berlangsung Lama
 

Saleh menyebut persoalan permodalan bukan masalah baru bagi UMKM. Fenomena tersebut juga menjadi perhatian Badan Pusat Statistik (BPS).
 

Ia mengatakan berdasarkan data yang menjadi perhatian BPS, sejak 2016 hingga 2020, persoalan permodalan masih menjadi salah satu faktor dengan pengaruh besar terhadap perkembangan industri UMKM.
 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan akses pembiayaan perlu mendapatkan solusi yang lebih konkret dan berkelanjutan.
 

Agunan Jadi Salah Satu Kendala
 

Salah satu persoalan yang membuat UMKM sulit memperoleh pinjaman perbankan adalah persyaratan pembiayaan yang dinilai masih sulit dipenuhi.
 

Sebagian pelaku UMKM juga tidak memiliki agunan yang dapat digunakan untuk mengajukan pinjaman kepada perbankan.
 

Selain itu, terdapat pelaku UMKM yang belum memahami mekanisme pengajuan pembiayaan perbankan. Tidak sedikit pula pengajuan yang akhirnya ditolak.
 

Berbagai persoalan tersebut membuat akses pembiayaan formal belum sepenuhnya mampu menjangkau seluruh pelaku UMKM.
 

Bank Diminta Jangan Pilih Kasih
 

Saleh menyoroti persepsi bahwa UMKM yang tersebar luas di berbagai daerah membuat sebagian perbankan kurang tertarik menyalurkan pembiayaan.
 

Di sisi lain, perusahaan besar dinilai justru lebih mudah memperoleh pinjaman.


“Kesannya karena UMKM itu jangkauannya luas ada dimana-mana sehingga pihak bank tidak mendapatkan keuntungan, sebaliknya perusahaan besar dengan mudah mendapatkan pinjaman,” ujarnya.
 

Menurut Saleh, kondisi tersebut harus diperbaiki melalui kebijakan dan regulasi yang mampu memastikan pembiayaan UMKM berjalan sesuai tujuan.
 

Regulasi Akan Diperbaiki
 

Komisi VII DPR RI mendorong perbaikan regulasi agar lembaga perbankan penyalur pembiayaan tidak menghindari kewajibannya dalam mendukung UMKM.


“Regulasi juga akan kita perbaiki sehingga para bank-bank penyalur ini tidak bisa lari dari kewajibannya,” pungkas Saleh.
 

Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan sekaligus memberikan kesempatan yang lebih besar bagi UMKM untuk berkembang.
 

UMKM Harus Naik Kelas
 

Bagi Saleh, UMKM bukan sekadar sektor ekonomi pelengkap. Keberadaannya merupakan bagian penting dari kekuatan ekonomi nasional.
 

Karena itu, persoalan modal harus segera dibenahi agar pelaku UMKM tidak terus menghadapi hambatan ketika ingin mengembangkan usaha.
 

UMKM sudah menjadi kekuatan ekonomi Indonesia. Kini tantangannya jelas: akses modal harus dibuka lebih lebar agar UMKM bisa tumbuh, naik kelas, dan semakin kuat menopang ekonomi nasional.
 

RAJA MEDIA – Cepat, Tegas, Terpercaya.rajamedia

Komentar: