Maulid Nabi: Jalan Menegakkan Moral Publik dan Praksis Kemanusiaan
RAJAMEDIA.CO - MAULID Nabi Muhammad selalu diperingati sebagai seremonial keagamaan. Secara syariat maulid Nabi bukan perintah ajaran Islam. Meski begitu, perayaan maulid tidak berhenti di seremonial. Perayaan Maulid itu harus membekas dan mewujud dalam kehidupan umat yang merayakannya dengan menjadikan Nabi Muhammad sebagai uswah hasanah yang luhur.
Uswah hasanah adalah role-model terbaik dari Nabi Muhammad yang niscaya dipratikkan oleh segenap kaum muslimin dalam kehidupan. Keteladanannya dari hal sehari-hari hingga segala urusan besar dalam bermuamalah-dunyawiyah di level keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan semesta yang berorientasi rahmatan lil-‘alamim.
Karenanya, jadikan perayaan maulid sebagai delivery nilai dari risalah dan keteladanan Nabi Muhammad dalam kehidupan dengan menjadikan Rasul akhir zaman itu betul-betul sebagai teladan utama. Nilai ajaran Islam yang sempurna maupun keteladanan utama Nabi Muhammad yang mulia tidak akan berjalan sendiri tanpa diaktualisasikan dalam kehidupan nyata umat Islam saat ini.
Jika Nabi sebagai uswah hasanah atau teladan terbaik dalam seluruh kehidupannya, sehingga akhlak beliau dimaklumatkan Allah sebagai “al-khuluq al-‘adhim” yakni akhlak yang agung, maka para tokoh dan umat Islam niscaya menjadikan keagungan sikap hidup baginda Nabi sebagai akhlak sehari-hari. Bagaimana para tokoh dan umat muslim berpikir, berkata, dan bertindak yang serba luhur ke dalam praktik hidup diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan relasi antar manusia di ranah semesta.
Saat ini di negeri tercinta masih meluas kasus korupsi, penyalahgunaan jabatan, perusakan alam, narkoba, serta berbagai kejahatan dan masalah sosial yang merugikan kehidupan bersama. Korupsi bahkan makin parah karena meluas melibatkan para aktor di lembaga pendidikan tinggi. Begitu pula dengan dunia media sosial yang masih diwarnai narasi-narasi hoaks, kebencian, saling hujat, kata-kata kotor, dan permusuhan.
Kunci kehidupan sebenarnya terletak pada manusianya. Jika manusianya baik maka baiklah sistem kehidupan, begitu pula sistem akan rusak di tangan manusianya yang rusak secara moral. Berbagai masalah sosial yang masif tersebut memerlukan patokan nilai moral yang jelas tentang mana yang baik dan mana yang buruk untuk dijadikan standar hidup publik yang konkret. Di sinilah pentingnya para tokoh dan umat beragama di berbagai lembaga publik, memberi teladan nilai luhur, bagaimana menjadikan agama secara nyata sebagai dasar moral pencerahan akhlak kolektif di ruang publik. Yakni akhlak yang menyambung garis lurus antara kata dan tindakan di dunia nyata, bukan akhlak dalam khazanah normatif dan retorika teologis belaka.
Ajaran Kemanusiaan
Maulid Nabi juga penting dijadikan wahana transfer nilai ajaran kemanusiaan. Jadikan maulid sebagai jalan melakukan pemihakan terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Sebutlah dalam melakukan tanggap dan mitigasi sosial akibat bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memerlukan kepedulian sosial seluruh masyarakat, khususnya umat Islam di negeri tercinta.
Berbagai bencana fisik sering terjadi di negeri ini seperti gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, gunung merapi, dan sebagainya. Memang menjadi kewajiban konstitusional bagi pemerintah untuk melakukan usaha pencegahan, rehabilitasi, dan mitigasi bencana. Peran masyarakat juga sangat diperlukan, termasuk dari organisasi keagamaan yang melibatkan para tokoh dan umat beragama dalam melakukan tugas kemanusiaan tersebut.
Peran kemanusiaan mesti dilakukan dengan jiwa luhur sebagai panggilan Ilahi dalam orientasi kesalehan yang otentik, bukan hasil pencitraan sosial keagamaan yang simbolis. Nabi bersabda yang artinya, “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR Muslim). Al-Ma’un dalam Al-Quran mengajarkan kepedulian sosial tertinggi sebagai parameter keberagamaan dalam membela orang-orang miskin, yatim, dan mereka yang lemah dan teraniaya melalui gerakan sosial kemanusiaan yang nyata.
Bukti para tokoh dan umat muslim yang tinggi kesalehannya diuji selain dalam menegakkan moralitas publik juga dalam melakukan praksis kemanusiaan membela mereka yang lemah (dhu’afa), tertindas (mustadh’afin), dan mengalami masalah atau menderita dalam hidupnya. Bukankah parameter kebajikan beragama yang diajarkan Nabi ialah amaliah yang berdampak nyata sebagaimana hadis Nabi yang artinya, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Kesalehan dan kebajikan utama keberagamaan tidak terletak pada kebesaran jumlah mayoritas, tetapi pada kekuatan kualitas, termasuk saat ini dalam menegakkan moral dan praksis sosial adiluhung di ruang publik. Agama dan keberagamaan tidak dijadikan alat komodifikasi yang di tengah buaian narasi-narasi teologis di dunia maya. Agama mesti dibumikan sebagai praksis nilai pembebasan, pemberdayaan, kemajuan, dan segala tindakan luhur kehidupan bersama di dunia nyata.
Karenanya, mari wujudkan perayaan maulid Nabi untuk dijadikan jalan nyata dalam membuktikan kesalehan menegakkan moral publik dan praksis sosial kemanusiaan di negeri tercinta. Allah memberi peringatan keras dalam Al-Quran yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaff: 2-3).
Penulis: Ketua Umum PP Muhammadiyah
Tulisan diterbitkan ulang dari laman muhammadiyah.or.id![]()
Pendidikan | 2 hari yang lalu
Parlemen | 5 hari yang lalu
Info Haji | 1 hari yang lalu
Keamanan | 4 hari yang lalu
Nasional | 5 hari yang lalu
Daerah | 5 hari yang lalu
Politik | 3 hari yang lalu
Nasional | 4 hari yang lalu
Parlemen | 2 hari yang lalu