Politik

Info Haji

Parlemen

Hukum

Ekbis

Nasional

Peristiwa

Galeri

Otomotif

Olahraga

Opini

Daerah

Dunia

Keamanan

Pendidikan

Kesehatan

Gaya Hidup

Calon Dewan

Indeks

Wabah Hantavirus Gegerkan Dunia, DPR Ingatkan Pemerintah Jangan Lengah!

Tikus Bisa Jadi Ancaman Mematikan

Laporan: Halim Dzul
Senin, 11 Mei 2026 | 12:00 WIB
Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto - Humas DPR -
Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto - Humas DPR -

RAJAMEDIA.CO — Jakarta, Legislator — Kasus wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius yang menewaskan tiga orang kini menjadi perhatian dunia. Peristiwa itu memicu kekhawatiran global setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan pelacakan lintas negara terhadap penumpang kapal yang berlayar dari Argentina tersebut.
 

Merespons situasi itu, Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto meminta pemerintah dan masyarakat Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman hantavirus.
 

“Peristiwa di kapal MV Hondius harus menjadi alarm bagi seluruh negara, termasuk Indonesia. Kita tidak boleh menganggap hantavirus sebagai ancaman jauh atau penyakit langka yang tidak relevan bagi Indonesia,” kata Edy dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).
 

WHO Pantau Penularan Antarnegara
 

Kasus di MV Hondius menjadi sorotan karena melibatkan strain Andes virus, satu-satunya jenis hantavirus yang sejauh ini diketahui dapat menular antarmanusia.
 

WHO kini terus memantau kemungkinan munculnya kasus tambahan mengingat masa inkubasi virus dapat berlangsung lebih dari dua minggu.
 

Dua warga Singapura yang sempat berada di kapal tersebut memang dinyatakan negatif setelah menjalani pemeriksaan dan karantina ketat. Namun, kewaspadaan global tetap ditingkatkan.
 

Indonesia Dinilai Rentan
 

Edy menilai Indonesia justru memiliki faktor risiko cukup tinggi terhadap penyebaran hantavirus. Kepadatan penduduk, urbanisasi cepat, persoalan sanitasi lingkungan, hingga tingginya populasi tikus di kawasan permukiman menjadi faktor yang tidak bisa dianggap sepele.
 

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, dalam tiga tahun terakhir tercatat sedikitnya 23 kasus hantavirus jenis Seoul Virus di Indonesia dengan manifestasi Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
 

Sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia dengan riwayat penyakit penyerta.
 

“Ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan sekadar ancaman teoritis. Virusnya sudah ada di Indonesia dan kasusnya nyata,” ujar politikus PDI Perjuangan itu.
 

Gejalanya Mirip DBD dan Tifus
 

Menurut Edy, salah satu persoalan serius adalah hantavirus kerap sulit terdeteksi karena gejalanya menyerupai penyakit lain seperti demam berdarah, tifus, hingga leptospirosis.
 

Ia menjelaskan, Andes virus diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi berat yang menyerang paru-paru dan memicu sesak napas akut hingga gagal napas.
 

“Justru karena sifatnya silent threat, kita tidak boleh lengah. Dunia sudah belajar dari pandemi bahwa ancaman kesehatan sering datang dari hal-hal yang awalnya dianggap kecil,” katanya.
 

Tikus Jadi Sumber Penularan
 

Secara umum, hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus sebagai agen utama penyebaran virus.
 

Penularan dapat terjadi saat seseorang menghirup udara yang terkontaminasi partikel urin, feses, atau air liur tikus.
 

Edy mengingatkan masih banyak masyarakat membersihkan gudang, rumah kosong, atau area penuh kotoran tikus tanpa alat pelindung.
 

“Ini yang harus diedukasi secara serius,” tegasnya.
 

Dorong Sistem Kewaspadaan Diperkuat
 

Legislator dari Dapil Jawa Tengah III itu meminta pemerintah memperkuat sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit zoonosis melalui pendekatan One Health, yakni integrasi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
 

Ia mendorong perluasan surveilans penyakit demam akut yang belum terdiagnosis agar kasus hantavirus tidak lolos dari pemantauan.
 

Selain itu, kapasitas diagnosis laboratorium seperti PCR dan serologi juga diminta diperkuat di rumah sakit rujukan.
 

Pencegahan Lebih Penting
 

Edy juga menyoroti pentingnya pengendalian populasi tikus dan perbaikan sanitasi lingkungan berbasis masyarakat.
 

Menurutnya, pengelolaan sampah, kebersihan permukiman, hingga ventilasi rumah harus menjadi bagian penting dari kebijakan kesehatan publik.
 

Ia juga meminta masyarakat mulai membiasakan penggunaan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi tikus.
 

“Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan kasus besar baru kemudian bergerak. Pencegahan jauh lebih murah dan jauh lebih penting dibandingkan penanganan ketika situasi sudah memburuk,” tandasnya.rajamedia

Komentar: